Semoga akan segera muncul sosok Pemimpin Arab yg tegas seperti Raja Faisal dahulu. Yg berani bilang TIDAK sama AS dan sekutunya yg masih terus membela Israel. Dan mengembalikan Izzah bangsa2 Arab yg selama ini hanya jadi boneka Amerika. Kapankah masa itu tiba? Wallahua'lam bisshawab
Dr Tifa tidak kemana-mana
Ternyata absennya saya pada beberapa acara menimbulkan rumors dan spekulasi luarbiasa dalam beberapa hari.
Yang saya perhatikan utamanya berasal dari seorang Pengacara yang membuat postingan spekulasi bahwa ada salah satu Tersangka yang berangkat menjadi Termul. Akibat postingan yang tidak bertanggung jawab tersebut, publik gelisah dan menduga-duga.
Siapa ya dari 5 Tersangka yang tersisa, yang otw ke Solo dan log out dari Pejuang dan login jadi Pecundang?
10 hari terakhir Ramadhan, seperti rutinitas selama ini, betul-betul saya manfaatkan untuk iktikaf, sehingga bertubi-tubi undangan TV dan Media , juga beberapa. Acara, tidak saya hadiri.
Akhirnya, beredarlah spekulasi bahwa saya diam-diam ke Solo menghadap. raja Jawa untuk mengharapkan pengampunan.
Sampai-sampai pengacara Kurnia Tri Royani berkata di salah satu podcast: "dr Tifa di manapun engkau berada... "
Saya aman sentosa di seputaran Jaksel, bu.. mondar-mandir dari rumah ke kampus Salemba mengurus Riset S3. Bukan ke Balige atau Samosir, apalagi ke Solo.
Adapun di hari-hari akhir Ramadhan saya memilih menarik diri sejenak.
Ramadhan mengajarkan untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran, dan melihat persoalan dengan lebih utuh.
Namun ada hal yang tidak bisa saya abaikan.
Saya melihat bagaimana kekuasaan, bahkan setelah tidak lagi menjabat, masih digunakan untuk menekan dan menghancurkan.
Cara-cara yang digunakan tidak lagi mencerminkan etika seorang negarawan, tetapi lebih menyerupai praktik kekuasaan yang mempertahankan diri dengan mengorbankan orang lain.
Akademisi menjadi sasaran. Reputasi dihancurkan.
Padahal persoalan ini sesungguhnya sangat sederhana.
Jika memang tidak ada yang disembunyikan, cukup tunjukkan saja.
Di mana pun.
Di depan publik, di pengadilan, bahkan di ruang yang paling sederhana sekalipun.
Sederhana.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Masalah yang sederhana dipelihara menjadi rumit, memakan energi bangsa, dan menguras perhatian publik.
Saya melihat sendiri bagaimana negeri ini mulai lelah.
Rakyat jenuh.
Energi kolektif terkuras untuk sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kejelasan.
Di sisi lain, aparat penegak hukum berada dalam posisi yang tidak mudah.
Ada ruang-ruang kosong yang sulit diisi, ada celah-celah yang menyulitkan pembuktian.
Namun saya tetap menaruh harapan pada profesionalisme, terutama pada mereka yang masih bekerja dengan integritas.
Yang juga memprihatinkan adalah munculnya para Termul “pengiring kepentingan” yang menjadikan situasi ini sebagai ladang keuntungan.
Bukan mencari kebenaran, tetapi mencari peluang.
Mereka memperbesar masalah, bukan menyelesaikannya.
Ironisnya, kondisi ini justru mengganggu jalannya pemerintahan yang sedang berupaya membangun kembali negeri ini.
Saya tidak ingin terjebak dalam pusaran itu.
Dengan izin Allah, dan dengan dukungan banyak pihak yang masih percaya pada kebenaran, saya akan tetap berdiri.
Tanpa jalan pintas.
Tanpa kompromi yang merendahkan martabat.
Tanpa memilih cara-cara yang tidak terhormat.
Perjuangan ini mungkin tidak mudah.
Namun saya percaya, kebenaran tidak membutuhkan keramaian, ia hanya membutuhkan keteguhan.
Dan saya memilih untuk tetap teguh.
Salam,
Tifa
Hampir setahun saya sering bertemu dg si @SianiparRismon dan berupaya kagum, tapi selalu ada bisikan menolak utk kagum, bahkan belum pernah tertarik beli buku bikinan beliau.
Ternyata Allah sayang dan melindungi saya.
Wajib Lapor Setiap Minggu
Hari ini Sabtu, 14 Maret 2026
Hari libur bagi banyak orang, tetapi tidak bagi saya, karena Wajib Lapor saya harus datang ke POLDA setiap Minggu, hari Senin sampai Jumat karena saya sibuk menyelesaikan persiapan ujian Doktoral, sehingga yang tersisa adalah hari Sabtu ini.
WAJIB LAPOR menjadi kewajiban yang harus saya jalani sebagai Tersangka sejak ditetapkan tanggal 7 November 2025 lalu.
Tanpa terasa sudah empat bulan berlalu, tanpa ada tanda-tanda kapan kewajiban yang sesungguhnya adalah nama lain dari Tahanan Kota ini selesai saya jalani.
Ruang Pemeriksaan KAMNEG DITRESKRIMUM menjadi ruangan yang akrab buat saya.
Seperti hari Sabtu ini, ketika saya ketok ketok pintu yang sepi seperti kamar hantu, setelah lima hari hingar bingar dipenuhi Tahanan dan Polisi dan Reserse dan Pengacara.
Setelah pintu dibuka tampaklah sejumlah Polisi Muda yang wajah kuyu kucek kucek mata. Oh rupanya mereka lembur periksa tersangka dan baru tidur melepas lelah siang ini.
Ada satu hal yang mungkin tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Bahwa pada suatu hari, setiap minggu, saya harus melangkah menuju kantor polisi untuk wajib lapor.
Seperti hari Sabtu ini,
Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap. Jalanan Jakarta masih lengang. Banyak orang menuju tempat rekreasi, tempat ibadah, atau sekadar menikmati sarapan bersama orang yang mereka cintai.
Saya melangkah melalui gedung bertuliskan Tahanan Polda Metro Jaya setiap Minggu, dengan satu pikiran yang sama :
Ini bukan tentang saya.
Ini tentang harga dari sebuah keberanian untuk berbicara.
Saya tidak pernah mencari jalan ini.
Tetapi ketika kebenaran memanggil, kita tidak selalu diberi pilihan untuk hidup nyaman.
Ada rasa perih, tentu saja.
Ada rasa lelah, pasti.
Ada juga saat-saat ketika hati bertanya dalam diam:
Apakah semua ini akan dimengerti suatu hari nanti?
Tetapi setiap kali pertanyaan itu muncul, saya mengingat satu hal yang jauh lebih besar daripada rasa takut.
Bahwa sejarah selalu ditulis oleh mereka yang tetap berdiri ketika tekanan datang.
Setiap minggu bagi saya sekarang bukan lagi sekadar hari Wajib Lapor.
Setiap Minggu menjadi pengingat.
Pengingat bahwa jalan kebenaran tidak selalu mudah.
Pengingat bahwa suara hati kadang harus dibayar mahal.
Dan pengingat bahwa ketegaran sering lahir dari tempat yang paling sunyi.
Saya datang, saya melapor, saya pulang.
Lalu hidup berjalan lagi seperti biasa.
Karena pada akhirnya saya percaya satu hal:
Kebenaran mungkin bisa ditekan,
Tetapi tidak pernah bisa dihentikan.
Dan selama napas ini masih ada,
saya akan tetap berjalan.
Setenang mungkin.
Seteguh mungkin.
Setegar mungkin.
Karena banyak doa dan harapan bertaburan dan memberi saya kekuatan.
Hasbunallah wanikmal wakil.
Nikmal maula wanikman Nashir.
La haula wala quwwata ila billah.
REKTOR UGM AKAN SAYA TUNTUT:
MANA IJAZAH SARJANA MUDA JOKO WIDODO?
Ayo rakyat, kita tuntut agar JOKO WIDODO dan UGM menunjukkan
IJAZAH SARJANA MUDA!
Kali ini kita dapat petunjuk baru, menurut Rektor UGM, Ova Emilia, Joko Widodo menempuh jalur Sarjana Muda sebelum dia Sarjana!
Artinya, Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 18 Juli 1980, yang dijadikan BARESKRIM sebagai salah satu barang bukti, yang memuat nama Joko Widodo di nomor urut 14 sebagai Calon Mahasiswa Program Studi Sarjana Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980, adalah KORAN PALSU!
Dan penjelasan UGM sebelum Rektor Ova Emilia ini memberikan pernyataan terbaru, sebagaimana yang disampaikan Wakil Rektor Prof Wening Udasmoro tanggal 15 April 2025, adalah Pernyataan BOHONG!
Apalagi Joko Widodo! Yang berkali-kali hadir dan membuat REUNI sejak 2017, 2022, dan terakhir 2025, dengan berkumpul bersama Lulusan Program Studi Sarjana Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980, adalah BOHONG!
Kalau memang benar dia diterima di Program Studi Sarjana Muda Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980, maka namanya tidak akan ada di Pengumuman Koran sebagai Peserta Ujian yang lolos PP-1.
Sebab, calon mahasiswa Program Sarjana Muda, pengumumannya ditempel di Kampus, bukan diumumkan di Koran!
Beda Kelas, Boss!
Dan ketika masa perkuliahan pun, kelasnya beda, mata kuliahnya beda, tempat kuliahnya beda, dan tentu saja teman-temannya pun, circle nya pun BEDA!
Jadi kalau dia datang Reuni Alumni Prodi S1 Kehutanan UGM, artinya dia ngaku-ngaku!
Pantesan ketika datang Reuni, sepertinya tidak saling kenal!
Karena Reuni Alumni program Sarjana Kehutanan UGM, yang seharusnya datang adalah Almarhum Hari Mulyono, bukan Joko Widodo!
Jadi selama ini, telah terjadi KEBOHONGAN PUBLIK, yang dilakukan Joko Widodo, UGM, dan teman-teman Joko Widodo yang suka jadi Tim Hore-Hore seperti: Frono Jiwo, Tou, Andi Pramaria, dll yang Alumni Asli Program Sarjana Kehutanan UGM!
Ampun deh Bu Rektor.
Makanya jangan bergaul sama Tukang Bohong!
Akhirnya ketularan jadi Pembohong, kan!
https://t.co/7wTEciApVw
Terkait MOU ITB dg PIK-2, saya dapat info bhw pjbt ITB menjelaskan sbb :
1) ini msh level MOU - blm PKS
2) topiknya sebatas pendidikan Ekonomi Syariah.
3) akan diadakan di Menara Syariah PIK-2.
Ini namanya alasan ngeles :
1) apa kaitan ilmu Ekonomi Syariah dg ITB ?
2) kalau dilaksanakan di Menara Syariah kenapa harus kerjasama dg PIK-2 ?
Mhn pjbt ITB jangan anggap kami semua bodoh.
Yang lucunya di era @jokowi itu, yang diperintah mencabut 2000an Izin Usaha Pertambangan (IUP) sejak 2022 itu Menteri ESDM tapi yang buka kembali IUP yang dicabut itu digeser ke Kepala BKPM, Bahlil :)