Jendela Iklim: Kisah Ramayana, Sundaland, Fase Akhir Danau Coipasa : Tiga Peristiwa di Akhir Zaman Es
Kisah Ramayana : 12.209 SM Usulan Nilesh Oak
Sundaland : 14.000 - 11.000 SM
Danau Coipasa : 13.100-10.600 SM
Juga Kumari Kandam dan Lemurya di Pasifik ?
Sekitar 14.000 hingga 10.000 tahun lalu Bumi sedang keluar dari Zaman Es terakhir. Lapisan es mencair, permukaan laut naik, dan pola iklim berubah di banyak wilayah hampir bersamaan. Tiga peristiwa terpisah terjadi dalam rentang waktu itu.
Di Amerika Selatan, dataran tinggi Altiplano di Bolivia pernah menampung serangkaian danau besar. Fase terakhir yang disebut Danau Coipasa mengisi cekungan itu sekitar 13.100–10.600 tahun lalu. Saat periode dingin Younger Dryas, danau itu cukup dalam. Ketika iklim kemudian menjadi lebih kering, air menguap dan meninggalkan lapisan garam tebal yang kini menjadi Salar de Uyuni. Hamparan garam sekarang sisa danau terakhir itu.
Pada waktu sama di Asia Tenggara, daratan luas Sundaland yang dulu menghubungkan Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Melayu mulai tergenang oleh bencana alam. Kenaikan permukaan laut yang cepat terjadi sekitar 14.000 tahun lalu dan sekitar 11.000 tahun lalu. Wilayah dataran rendah yang luas tenggelam dan daratan yang semula menyatu terpecah menjadi pulau-pulau seperti sekarang.
Tahun 12.209 SM diusulkan Nilesh Oak untuk perang Rama–Rahwana dalam Ramayana juga masuk dalam periode pencairan es yang sama pembacaan astronomis di dalam teks Sanskerta dan masih merupakan salah satu tafsiran di antara beberapa pendapat lain. Sebagian besar ahli menempatkan penulisan epos itu jauh kemudian.
Ketiga hal ini—pengeringan Danau Coipasa, banjir Sundaland, dan usulan tahun Ramayana—terjadi pada masa transisi iklim global yang sama. Mereka berlangsung di benua yang berbeda.
pendidikan yang bagus melahirkan rakyat yang kritis. rakyat yang kritis susah dikibulin. rakyat yang susah dikibulin jelas nggak enak buat kekuasaan. jadi ya wajar kalo pendidikan cuma dipuja dalam pidato, tapi ketika rebutan anggaran malah disuruh minggir wkwkwk
@JokowiIjasahAsu@prabowo Izin bertanya, soal skala prioritas yg jeblok ini, menurut bapak apakah mbg pada akhirnya adalah pemenuhan janji politis semata? Seberapa besar sebenarnya keseriusan pemerintah memperbaiki gizi anak2 sekolah?
S3 RESEARCH : 3 Karya Ilmiah Jurnal Scopus
Geosemiotika/Teks Kauniyah
1: INDIA & KUMARI KANDAM/LEMURIA
• Teks Kauniyah (Citra Spasial) VS Teks Veda/Ramayana
• Dekonstruksi Hegemoni Dewa & Mitos Ramayana
2: SUNDALAND - Sumatera Utara
• Teks Kauniyah Laut Dangkal Jawa/Sumatra/Selat Sunda
• Samosir Melawan Hegemoni Veda, Membunuh Para Dewa Hindu.
3: AMERIKA UTARA, GIBRALTAR & ANTARTIKA
• Teks Kauniyah Atlantik & Pembekuan Es Antartika.
• Sirkuit Global Kehancuran Kosmis & Kematian Para Dewa Hindu
@ASEAN@Asia_Foundation@FordFoundation@Ford_Gallery@UNESCO@netflix@Forbes
@AdolfHarihara Mbg ini sayangnya udh jadi janji politik pas pilpres 2045. Bukannya mereka gatau ada yg lbh genting, tapi ini sesuatu yg mereka prioritaskan. Sejak awal prioritasnya memang bukan rakyat, tapi muka sendiri 🥲
@valeriaasjsn Iyaaa, pada akhirnya mbg itu harusnya cuma bensin, bukan fondasi. Ngapain ngasih bensin kalo fondasinya aja kagak benerrr? Jujur janggal 😔
@ShafiraJR_F Kayaknya para ahli udh berbusa2 bgt ngomongin skala prioritas ini 🥲 mbg beneran udah jadi janji politik, makanya dikedepankan buat menyelamatkan muka 🥲
Distribusi dapur MBG ini juga bisa sekali dipertentangkan dgn jumlahnya yg jomplang antara Jawa dan luar Jawa. Papua dgn urgensi pemenuhan gizi yg lebih mendesak, malah hanya mendapatkan kurang dari 2% dari total jumlah dapur yg ada.
MBG 2027 masih gunakan Anggaran Pendidikan lebih baik dipangkas lagi untuk :
1. Transisi Guru Honorer jadi ASN
2. Kesejahteraan Guru dan Fasum Sekolah
3. Pesawat Terbang Kecil dan Helicopter jenis Boom Water Canon dan Drone untuk Bencana Kebakaran Hutan dan lainnya
@prabowo@Menkeu@BappenasRI@dpr@BNPB_Indonesia@infoBMKG