1. MBG di korupsi
2. IKN batal jadi ibukota
3. Kopdes the next MBG
4. BUMN sering rugi (bagi bagi jabatan)
5. Rupiah sekarat
6. Naikin dan pungut PAJAK adalah program pemerintah paling sukses
Korupsi = nyolong (mengambil brg orang lain tanpa seijin pemiliknya) bisa aman jika dilakukan scr syariah,beri contoh dong nyolong/ maling syariah itu seperti apa.
Bpk ini semakin tua bukannya makin taubat tp makin lucu 😂
Lagi, pengemudi online lakukan kekerasan terhadap penumpang karena penumpang gak mau cancel order dikarenakan si sopir gak mau gunakan tarif sesuai aplikasi. 🙄
SMANSA Cirebon bikin film pendek musikal berdurasi 23 menit yang nampaknya terinspirasi dari film AADC / Rangga & Cinta. Dan... BAGUS BANGET!!! ❤️
Tambahan lain, film ini disutradarai dan koreografernya adalah murid kelas 12! 😳
Kemarin yang ngatain pak Anies cuma pinter ngomong, lah presiden lu noh (58%) ngomong aja gak pinter
Udah ngomong gak pinter, kerja juga gabisa, wajar aja dikasih nilai 11/100
BJ Habibie Butuh 35 Menteri buat bikin rupiah dari 16.800 ke 6.550.
Sedangkan Prabowo butuh 48 Menteri, 5 Pejabat Sekelas Menteri, 56 Wakil Menteri untuk membuat rupiah dari 16.000 ke 17.400
Guys, gue mau cerita soal temen gue.
Namanya Pratama.
Driver ojol.
Udah 3 tahun narik di Jakarta.
Dan ada satu jenis orderan yang kalau dia dapet mukanya langsung berubah.
Bukan marah.
Lebih ke pasrah yang udah melewati batas.
kalo dapet Orderan Hangry.
gk di ambil bakal susah dapet orderan lagi
di ambil buat emosi
Ini yang terjadi setiap kali Pratama dapet orderan Hangry:
Dia tiba di restoran.
Nunggu.
Nunggu lagi.
Nunggu lebih lagi.
Bukan 10 menit.
Bukan 15 menit.
Kadang 30-40 menit untuk satu orderan.
Dan selama dia nunggu chat dari customer udah masuk:
Bang lama banget.
Bang udah berapa lama?
Bang katanya 10 menit lagi.
Pratama mau jawab apa?
Dia juga kaga tau.
Dia cuma bisa bilang "masih diproses kak"
sambil dalam hati udah ngitung berapa bensin yang kebakar selama dia parkir diem.
Yang paling bikin sumpek:
Waktu adalah uang buat driver ojol.
Setiap menit yang habis di depan restoran nunggu pesanan siap itu menit yang bisa dipakai buat ambil orderan lain.
Tapi sistem tidak menghitung waktu tunggu itu sebagai kerja.
Tidak ada kompensasi untuk waktu tunggu yang panjang.
Tidak ada penalti untuk restoran yang lambat.
Yang ada cuma: kalau Pratama cancel orderan dia yang kena dampak ke performa akun.
Jadi dia stuck.
Nunggu.
Sambil liat argo waktu terus berjalan.
Dan setelah nunggu panjang drama belum selesai:
Makanan akhirnya siap.
Pratama langsung gas ke lokasi customer.
Macet Jakarta.
Siang-siang.
Yang kalau diukur dari Kuningan ke mana pun rasanya seperti sedang menjalani hukuman atas dosa-dosa masa lalu.
Sampai di gedung satpam bilang ojol hanya boleh sampai lobby basement.
Customer tidak bisa dihubungi.
HP-nya DND.
Pratama nunggu lagi di bawah.
Makanan mulai dingin.
20 menit kemudian customer baru balas:
Tinggalin di resepsionis aja bang.
Dan ending-nya yang paling tidak masuk akal:
Notifikasi masuk.
Bintang satu.
Review-nya: makanan telat sampai dan sudah dingin.
Pratama duduk di motor. Diam. Lihat layar HP-nya.
Dia tidak marah.
Dia sudah terlalu lelah untuk marah.
Yang dia rasakan adalah sesuatu yang lebih berat dari marah rasa tidak dihargai yang sudah menumpuk terlalu lama.
Dan ini bukan cuma masalah satu restoran atau satu customer:
Ini adalah gambaran dari sistem yang tidak pernah benar-benar dirancang untuk melindungi driver.
Driver menanggung risiko di jalan.
Driver menanggung biaya bensin.
Driver menanggung waktu tunggu yang tidak dibayar.
Driver menanggung rating buruk yang bukan salah mereka.
Sementara platform tetap dapat komisi.
Restoran tetap dapat pembayaran.
Dan customer tetap bisa kasih bintang satu.
Yang Pratama bilang ke gue:
"Bukan capek fisiknya yang paling berat, Bro.
Tapi capek dibikin ngerasa kayak kita ini ga ada artinya."
Dan gue tidak bisa bilang dia salah.
Di tengah semua itu dia masih narik besoknya.
Dan besoknya lagi.
Karena tagihan tidak peduli seberapa lelahnya dia.
Itu bukan kelemahan.
Itu adalah kekuatan yang paling underrated yang dimiliki orang-orang seperti Pratama dan yang paling jarang diapresiasi oleh sistem yang mereka topang setiap harinya.