suka banget sama kalimat ini:
"menikahlah karena ingin hidup dengan orang terkasih, ekonomi adalah bentuk perjuangan dan kerjasama, anak adalah bonus, sedangkan menua bersama dengan bahagia adalah tujuannya".
Anak yang tumbuh di keluarga tidak stabil, misalnya sering bertengkar, kasar, atau diabaikan, ternyata otaknya bereaksi mirip prajurit yang baru pulang dari medan perang. Kabar kurang baiknya adalah ini temuan nyata dari MRI otak.
Peneliti melakukan fMRI pada 43 anak. 20 di antaranya terdokumentasi mengalami kekerasan di rumah.Semua anak diperlihatkan foto wajah marah sambil otaknya diperiksa.
Hasilnya bikin kaget yaitu anak yang terpapar kekerasan keluarga punya aktivitas jauh lebih tinggi di dua area otak, yaitu anterior insula dan amigdala.
Dua area ini berfungsi mendeteksi ancaman dan mengatur respons stres.
Yang bikin makin kaget, pola aktivitas ini sama persis dengan yang ditemukan pada tentara setelah bertugas di medan tempur. Otak mereka sama-sama "belajar" untuk siaga penuh terhadap bahaya, kapan pun dan di mana pun.
Buat prajurit, respons ini sangat penting karena bisa menyelamatkan nyawa. Tapi buat anak kecil yang harusnya tumbuh di rumah yang aman, respons "siap tempur" ini justru jadi beban. Alarm otaknya menyala terus padahal ancamannya sudah tidak ada di depan mata.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berasosiasi dengan naiknya risiko gangguan kecemasan, kesulitan regulasi emosi, dan masalah kesehatan mental lain.
Kabar baiknya adalah otak anak sangat plastis. Perubahan ini punya ruang besar untuk pulih kalau anak kemudian mendapat lingkungan yang aman, stabil, dan dukungan emosional yang konsisten.
Ini pengingat betapa pentingnya rumah yang aman buat perkembangan otak anak, karena yang dibentuk bukan hanya kepribadian, tapi juga cara kerja otaknya sehari-hari.
Semoga bermanfaat!
Sumber Ilmiah:
Heightened neural reactivity to threat in child victims of family violence.
Semua berawal dari didikan orang tua sejak kecil🙌,
Fatimah Azzahra, BEM UI, cerita kalau sejak kecil dia sering nonton dan diskusi Indonesia Lawyers Club bareng orang tuanya.
Maudy Ayunda juga pernah cerita kalau sejak kecil diajak ngobrol untuk melatih problem solving, bahkan dari hal-hal kecil.
Begitu juga Najwa Shihab. Sejak kecil, dia sudah dilatih mengambil keputusan sendiri, sesederhana memilih mau sekolah di mana.
I found the same pattern among these three great public speakers: Mereka dibesarkan dengan kebiasaan berdiskusi bersama orang tua, sesederhana sering mengobrol di rumah. Fondasi percaya diri untuk mengungkapkan isi pikiran sudah dilatih sejak kecil.
#ulaspodcast
sorry to say
tp jujur bgt, pendidikan bener bener se-ngaruh ituu ya ke attitude & gaya bicara seseorang. keliatan banget dr bahasa dan gaya ngomongnya, ga semua. tp mostly.
Suka banget denger analogi ini:
“Apa yang kita lakuin di private, pasti bakalan keliatan di public.”
Ada 4 contoh:
1. Orang yang doyan baca, aura sama ilmunya bakal langsung keliatan pas lagi ngobrol sama orang lain.
2. Orang yang suka olahraga, bakalan keliatan lebih fit dan sehat.
3. Orang yang disiplin, bakalan keliatan lebih pede dan keyakinannya tinggi.
4. Orang yang tipe fokus, bakalan keliatan results sama powernya di hidup dia.
baru tau ternyata sikap ga mau “ngerepotin” orang lain itu bukan karena kita baik, tapi karena kita takut, kita tumbuh dengan keyakinan kalo kebutuhan kita itu beban, makanya kita belajar menghilang, bukan bersandar.
Ternyata, yg bisa serius dihubungan itu adalah laki-laki. Perempuan gabisa memutuskan hubungan itu serius atau main-main. Karena ujungnya, keseriusan tetap dtg dari pihak laki-laki.
Seserius apapun perempuan, tetap gaakan berhasi kalau laki-lakinya tidak serius. Perempuan bisa serius berjuang
tapi kalau nahkodanya enggan menarik jangkar untuk berkomitmen hubungannya nggak akan ke mana-mana. Tp jangan lupa, perempuan selalu punya hak penuh buat turun dan pergi dari kapal yang ga jelas tujuannya”
baca pelan-pelan ya :
mungkin, kalo kamu diluluskan saat itu, kamu akan angkuh.
mungkin, kalo diizinkan berhasil saat itu, kamu harus ketemu masalah yang untuk menghandlenya aja kamu ga mampu.
mungkin, kalo keinginan kamu semua dikabulkan hari itu, kamu akan lupa nikmatnya berdoa.
mungkin, kalo kamu ga pernah gagal, kamu jadi sombong dan acuh.
mungkin kamu memang ga tau apa-apa, tapi Tuhan ga pernah menukar apa yang memang untuk kamu.
Apa itu SILENT BURNOUT?
Silent burnout tuh keadaan di mana emosi sama mental lo lagi capek berat, tapi semuanya terjadi diam-diam tanpa ada tanda yang keliatan jelas. Bukan sakit badan atau luapan emosi yang dramatis gitu. Orang yang ngalamin tetep bisa jalan normal aja (kerja, belajar, bersosial), tapi dalem hatinya perlahan-lahan lagi hancur 🙂
Single to single:
Menikahlah dengan orang yang paham konsep keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
- Sakinah: Bikin kamu tenang saat pulang. Ada damai, saling menghargai, terbuka, dan jujur.
- Mawaddah: Bawaannya pengen bareng terus. Ada rasa sayang tulus yg bikin harmonis.
- Warahmah: Punya empati. Saling menjaga dan menguatkan.
Kalo kata gue sih, warahmah nih yg paling menantang 🙏🏻
Aku setuju dengan statement, bahwa hidup akan jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan.
Not everything deserves our attention. Not everything deserves our energy. Ada banyak hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa harus selalu kita dengar, kita bahas, ataupun kita lihat.
doa afirmasi sebelum tidur!
(baca dengan sepenuh hati)
terima kasih ya Allah, aku bisa melewati hari ini dengan baik, mulai malam ini dan seterusnya aku akan mengizinkan semua hal-hal baik menghampiriku, pintu rezeki terbuka lebar dan datang dari segala arah, aku memafkan diriku atas kesalahan yang sudah ku lakukan hari ini, besok adalah hari keberuntunganku dan akan menjadi hari yang lebih baik.
Habis dengar podcast Ustaz Don, ada satu kalimat yang sederhana tapi sangat dalam maknanya:
"Kita jatuh hati kepada seseorang pun karena Allah yang membolak-balikkan hati."
Kalimat itu mengingatkan bahwa rasa cinta bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Allah yang menghadirkan rasa.
Allah juga yang mampu mengubahnya.
Maka ketika hati sedang mencintai seseorang, jangan lupa melibatkan Allah dalam setiap langkahnya.
Dan ketika harus melepaskan seseorang, yakinlah bahwa Allah juga mampu menenangkan hati yang paling terluka.
Hati ini milik Allah.
Dia yang membolak-balikkan hati, dan Dia pula yang paling tahu siapa yang terbaik untuk kita.
"Cara Membaca agar Benar-Benar Melekat dalam Ingatan"
Banyak orang kecewa karena merasa telah membaca puluhan bahkan ratusan buku, tetapi hanya mengingat sebagian kecil isinya. Mereka mengira masalahnya terletak pada daya ingat. Padahal, lebih sering MASALAHNYA TERLETAK pada CARA MEMBACA.
Membaca BUKANLAH proses memasukkan informasi ke dalam otak seperti mengisi hard disk. Ingatan BUKAN gudang penyimpanan, MELAINKAN jaringan makna yang terus dibangun dan diperbarui. Kita tidak mengingat karena membaca; kita MENGINGAT karena MEMAHAMI, MENGOLAH, dan MENGGUNAKAN apa yang telah dibaca.
Berikut beberapa prinsip yang didukung oleh psikologi kognitif dan pengalaman para pembaca produktif.
1. Mulailah dengan Peta, Bukan Detail
Sebelum membaca, kenali struktur buku terlebih dahulu. Bacalah daftar isi, kata pengantar, judul bab, subjudul, atau abstrak jika berupa artikel ilmiah.
Otak lebih mudah menyimpan informasi ketika sudah memiliki "rak" tempat meletakkannya. Tanpa kerangka, setiap informasi terasa seperti fakta yang berdiri sendiri.
Jangan langsung menyelam. Lihatlah peta sebelum memasuki wilayahnya.
2. Membacalah dengan Pertanyaan
Pembaca pasif hanya mengikuti kalimat demi kalimat. Pembaca aktif selalu bertanya. Apa masalah yang ingin dijawab penulis? Mengapa argumen ini penting? Apa asumsi yang dipakai? Benarkah demikian? Bagaimana hubungan ide ini dengan yang sudah saya ketahui?
Pertanyaan mengubah membaca menjadi proses pencarian, bukan sekadar menerima informasi.
3. Kejar PEMAHAMAN, BUKAN Kecepatan
MENYELESAIKAN banyak buku TIDAK sama dengan MEMPEROLEH banyak pengetahuan.
Jika sebuah paragraf penting memerlukan lima menit untuk dipahami, lima menit itu jauh lebih berharga daripada lima puluh halaman yang hanya lewat di depan mata.
UKURAN membaca BUKAN jumlah halaman, melainkan KEDALAMAN PEMAHAMAN.
4. Highlight dengan Sangat Hemat
Kesalahan paling umum adalah mewarnai hampir seluruh halaman. Jika semuanya penting, maka tidak ada yang benar-benar penting.
Sorot hanya gagasan inti, definisi penting, atau kalimat yang merangkum keseluruhan argumen.
Sebagai aturan praktis, usahakan tidak lebih dari sekitar 10–20% isi halaman yang diberi tanda.
5. Parafrase dengan Kata-Kata Sendiri
Setelah menyelesaikan satu bagian, tutup buku sejenak.
Lalu jelaskan kembali isi bacaan menggunakan bahasa Anda sendiri.
Jika Anda tidak mampu menjelaskannya tanpa melihat buku, kemungkinan besar Anda belum benar-benar memahaminya.
MEMAHAMI selalu LEBIH KUAT daripada MENGHAFAL.
6. Latih Ingatan, Jangan Hanya Membaca Ulang
Kesalahan lain adalah terus-menerus membaca ulang.
Cara yang lebih efektif adalah mencoba mengingat kembali tanpa melihat buku.
Tuliskan:
Apa gagasan utamanya?
Apa argumen penulis?
Apa contoh yang digunakan?
Proses "memanggil kembali" informasi inilah yang justru memperkuat memori.
Belajar bukan terutama terjadi saat membaca, melainkan saat berusaha mengingat.
7. Ulangi Secara Berkala
Otak memang dirancang untuk melupakan.
Karena itu, jangan berharap satu kali membaca cukup.
Ulangilah ringkasan Anda: satu hari kemudian, tiga hari kemudian, satu minggu, satu bulan, beberapa bulan kemudian.
Pengulangan yang diberi jeda jauh lebih efektif daripada mengulang berkali-kali dalam satu hari.
8. Hubungkan dengan Pengetahuan Lama
Informasi baru jarang bertahan jika berdiri sendirian.
Setiap kali menemukan gagasan menarik, tanyakan:
Mengingatkan saya pada buku apa? Bertentangan dengan siapa?Dapat diterapkan di mana? Apa contoh nyatanya?
Semakin banyak hubungan yang dibangun, semakin kuat jejak memorinya.
9. Gunakan Pengetahuan Itu
Cara terbaik untuk mengingat adalah memakai. Diskusikan. TULISKAN ULASAN. AJARKAN KEPADA ORANG LAIN. GUNAKAN dalam pekerjaan. HUBUNGKAN dengan pengalaman hidup.
Pengetahuan yang digunakan akan BERTAHAN jauh lebih LAMA daripada pengetahuan yang HANYA DISIMPAN.
10. Terimalah Bahwa Melupakan adalah Bagian dari Belajar
TIDAK ADA manusia yang MENGINGAT SELURUH isi buku yang pernah dibacanya..Bahkan para ilmuwan, filsuf, dan profesor pun lupa.
YANG BERTAHAN bukan setiap kalimat, melainkan POLA BERPIKIR yang DIBANGUN oleh RIBUAN GAGASAN yang pernah ditemui.
TUJUAN MEMBACA bukan memenuhi kepala dengan fakta, melainkan MENGUBAH CARA kita MEMAHAMI dunia.
Penutup
Membaca BUKAN perlombaan MENGHABISKAN halaman, melainkan LATIHAN MEMBANGUN pikiran.
Buku yang baik tidak meminta kita menghafalnya. Buku yang baik MENGUBAH CARA kita BERTANYA, BERJALAN, dan MEMANDANG kenyataan.
Karena itu, setelah menutup sebuah buku, jangan bertanya, "Berapa banyak yang berhasil saya baca?"
Tanyakanlah, "Apa yang kini saya pahami, yang kemarin belum saya pahami?"
JIKA pertanyaan itu dapat dijawab, MAKA buku tersebut TELAH menjadi bagian dari diri Anda—MESKIPUN Anda tidak lagi mengingat setiap halamannya.
dr. Gia pernah ngomong:
Peluang kita meninggal itu 100%. Sedangkan peluang kita hidup sebenarnya sangat kecil. Jadi jangan sia2kan waktu yang berharga hanya untuk overthinking. Jalani, syukuri, nikmati saat ini.