temen w content creator fashion, dikirimin baju, spatu dari brand luar dia KAGA BELI pure ini gift karena temen gue keren stylenya jadi dikirim
malah ditahan @beacukaiRI suruh bayar 3,5jt, ada item not for sale bahkan alias sample, ini pada ngarang nilai pabean dari mana ya? 😂
@AMAZlNGNATURE Aditya Permana, a professional photographer in Yogyakarta, Indonesia, recently managed to capture this once-in-a-lifetime pose.
Plays the guitar like crazy from leaves 🎸🥰😍❤️
“Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day; Rage, rage against the dying of the light.
Though wise men at their end know dark is right, Because their words had forked no lightning they, Do not go gentle into that good night.”
In 2010, Australian teenager Sam Ballard was drinking with his friends when they saw a slug crawl across the floor.
Sam’s friends dared him to eat the slug and after some debate he decided it would be funny, so he did.
A few days later Sam became weak and complained of severe pain in his legs.
After visiting the emergency room doctors told him that he had contracted a parasite known as ‘rat lungworm’ from the slug.
Soon after the diagnosis, Sam fell into a coma, where he remained for 420 days.
He woke up paralyzed, unable to eat without a tube or move without intense effort. He required 24-hour care, seven days a week.
He died 8 years later in 2018.
Lha? Yang disalahin pemudanya. Siapa suruh jadi negara yang selalu mandang remeh iptek, kreativitas, karya cipta, dan perlindungan kekayaan intelektualnya? 🤣
Game tuh lahir dari kebebasan kreativitas dan jiwa seni yang didukung sama teknologi dan lingkungan yang melindungi kreativitas itu dan kekayaan intelektualnya.
Negara yang ga invest di SDM (bukan cuma perkara skill) dan sarana-prasarananya (termasuk hukum) penunjang lingkungannya ga akan bisa ngehasilin itu. Alhasil cuma bisa keluarin peraturan gajelas kaya harus terdaftar di PSE, bikin perwakilan di Indo, dll.
Bertahun-tahun merdeka, udah ada contoh negara yang jadi maju gegara teknologi, karya seni dan kekayaan intelektualnya (film, anime, manga, musik) sampai jadi identitas industri masing-masing. Tapi pengambil kebijakan dan pengusahanya sibuk jadi yang paling serakah sama kekayaan alam, jadi mafia. Trus masyarakatnya juga jauh/dijauhin dari sains dan kesenian --cuma dikasih makan nilai moral kosong yang ga tampak di kehidupan bermasyarakatnya.
Masyarakat yang jauh dari sains, (ngembangin) teknologi dan kesenian kemudian dah terbiasa malas berpikir, jadi pecinta klenik & keajaiban, serta ngertinya duit cepet.
Di kelompok tertentu, budaya dan kesenian bangsa sendiri dilarang sama mereka 🤣 Cerita sejarah, cerita rakyat, lagu & tarian adat/tradisional, desain arsitektur adat, ga dipelihara (malah dikikis dan disesuaiin sama budaya asing yang lebih miskin/gersang). Anak mudanya asing sama budaya dan sejarah dalam negeri sendiri. Padahal semua itu modal paling berharga.
Ga cuma itu, balik soal kreativitas. Kelompok yang larang-larang tadi sebenernya ngebatasin kreativitas dan keragaman karya. Lalu dengan mental premannya, bakal ganggu ekosistem industri. Liat aja itu industri film/sinetron atau program TV Indonesia. Miskin ragam. Ga bersaing, orang di level regional aja itungannya sampah (kecuali film (movie) kali, ya? Industri yang dah mayan).
Dengan situasi begitu, produk-produk yang dijual dan dikonsumsi akhirnya juga cuma produk-produk hasil iptek dan karya seni luar negeri (biasanya dilabel ulang atau mentok nyontek/jiplak teknologi di baliknya). Iya, masyarakatnya cuma jadi seller (itu pun nyontek), re-seller, broker, atau konsumen produk asing doang.
Mau bikin perpres atau aturan dan program buat gim yang kaya apa juga bakal percuma.
Mana litbang yang mumpuni? Mana pendidikan yang merata? Mana revolusi mental buat SDM-nya? Mana jaminan kebebasan berekspresi/berkarya?
Lalu heran kok ga ada produk-produk penelitian dan perkembangan iptek dan karya seni yang bisa dijual/unggul/bersaing? Kesal kok duit lari ke luar negeri (bahkan talents-nya)? Nyalahin anak mudanya? As a bunch of stupid mthrfckrs, that's very bold of you.
Lha? Yang disalahin pemudanya. Siapa suruh jadi negara yang selalu mandang remeh iptek, kreativitas, karya cipta, dan perlindungan kekayaan intelektualnya? 🤣
Game tuh lahir dari kebebasan kreativitas dan jiwa seni yang didukung sama teknologi dan lingkungan yang melindungi kreativitas itu dan kekayaan intelektualnya.
Negara yang ga invest di SDM (bukan cuma perkara skill) dan sarana-prasarananya (termasuk hukum) penunjang lingkungannya ga akan bisa ngehasilin itu. Alhasil cuma bisa keluarin peraturan gajelas kaya harus terdaftar di PSE, bikin perwakilan di Indo, dll.
Bertahun-tahun merdeka, udah ada contoh negara yang jadi maju gegara teknologi, karya seni dan kekayaan intelektualnya (film, anime, manga, musik) sampai jadi identitas industri masing-masing. Tapi pengambil kebijakan dan pengusahanya sibuk jadi yang paling serakah sama kekayaan alam, jadi mafia. Trus masyarakatnya juga jauh/dijauhin dari sains dan kesenian --cuma dikasih makan nilai moral kosong yang ga tampak di kehidupan bermasyarakatnya.
Masyarakat yang jauh dari sains, (ngembangin) teknologi dan kesenian kemudian dah terbiasa malas berpikir, jadi pecinta klenik & keajaiban, serta ngertinya duit cepet.
Di kelompok tertentu, budaya dan kesenian bangsa sendiri dilarang sama mereka 🤣 Cerita sejarah, cerita rakyat, lagu & tarian adat/tradisional, desain arsitektur adat, ga dipelihara (malah dikikis dan disesuaiin sama budaya asing yang lebih miskin/gersang). Anak mudanya asing sama budaya dan sejarah dalam negeri sendiri. Padahal semua itu modal paling berharga.
Ga cuma itu, balik soal kreativitas. Kelompok yang larang-larang tadi sebenernya ngebatasin kreativitas dan keragaman karya. Lalu dengan mental premannya, bakal ganggu ekosistem industri. Liat aja itu industri film/sinetron atau program TV Indonesia. Miskin ragam. Ga bersaing, orang di level regional aja itungannya sampah (kecuali film (movie) kali, ya? Industri yang dah mayan).
Dengan situasi begitu, produk-produk yang dijual dan dikonsumsi akhirnya juga cuma produk-produk hasil iptek dan karya seni luar negeri (biasanya dilabel ulang atau mentok nyontek/jiplak teknologi di baliknya). Iya, masyarakatnya cuma jadi seller (itu pun nyontek), re-seller, broker, atau konsumen produk asing doang.
Mau bikin perpres atau aturan dan program buat gim yang kaya apa juga bakal percuma.
Mana litbang yang mumpuni? Mana pendidikan yang merata? Mana revolusi mental buat SDM-nya? Mana jaminan kebebasan berekspresi/berkarya?
Lalu heran kok ga ada produk-produk penelitian dan perkembangan iptek dan karya seni yang bisa dijual/unggul/bersaing? Kesal kok duit lari ke luar negeri (bahkan talents-nya)? Nyalahin anak mudanya? As a bunch of stupid mthrfckrs, that's very bold of you.
@dewiblablabla Certainly an annoying year. Also. This remind me not to call u "ci dewi" or "bu dewi" 🤣. Sorry. After all human are forgetful creature that need constant reminder of Christ's grace. LOL