Yuk coba kita buka cermin dan buka mata. Ini penting agar semua bisa melihat dan berkaca pada kenyataan yang ada.
Tak perlu sombong, apalagi songong (sudah sombong menggonggong pula). Buka saja peta perolehan suara di 2014 dan di 2019 kemarin.
Dan yang perlu rakyat ketahui adalah, ketentuan presidential threshold gabungan partai politik pada tahun 2024 nanti adalah representasi perolehan suara pada pemilu 2019 lalu, bukan perolehan suara pemilu 2024.
Jika merujuk pada peta peroleh suara pemilu 2019, maka :
Koalisi NASDEM, DEMOKRAT, PKS mewakili 24,92% suara.
Koalisi NASDEM, PKS, PKB mewakili 26,16% suara.
Koalisi NASDEM, DEMOKRAT, PKS, PKB mewakili 34,19 suara.
Angka-angka tadi sebatas syarat terpenuhinya syarat pencalonan Capres oleh gabungan partai politik, tapi tidak relevan untuk dijadikan representasi elektabilitas Capres yang diusung.
Bicara elektabilitas Capres bukan soal besar kecilnya perolehan suara partai politik, juga bukan semata-mata popularitas sang Capres belaka, elektabilitas Capres adalah bicara soal jejak rekam Capres.
Justru partai politiklah yang paling sering menunggangi popularitas Capres. Lihat saja PSI misalnya, partai gurem ini pada pemilu 2019 lalu hanya mampu meraih 2,07% suara. Tapi dibalik kelicikan para politisinya, mereka cukup cerdik untuk mendompleng popularitas Prabowo pada pemilu 2024 nanti.
Seandainya PSI tidak menunggangi popularitas Prabowo, mereka sadar betul bahwa 2024 nanti perolehan suara mereka akan jeblok sejeblok-jebloknya akibat kiprah para politisinya yang seringkali tampil dengan “aneka kelucuan” melebihi lucunya Srimulat.
Walau berbeda faktor penyebab, Partai Demokrat pun sebenarnya berpotensi mengalami “abrasi suara” pada pemilu 2024. Bencana pembegalan yang dialami Partai Demokrat tidak serta merta menjadi faktor penarik simpati para pemilih.
Publik mungkin saja menilai Moeldoko sebagai figur ‘antagonis politik’ yang menyerang Partai Demokrat, tapi juga sekaligus melihat Partai Demokrat sekedar figur ‘protagonis politik’ saja, tak lebih dari itu. Lagi-lagi, bicara soal popularitas partai adalah bicara soal jejak rekam.
Sebenarnya Partai Demokrat memungkinkan untuk tetap bisa memperoleh peningkatan perolehan suara di pemilu 2024 nanti, namun nampaknya harus mengikuti jejak rekan juniornya PSI, yakni mengambil keuntungan lewat 𝘦𝘧𝘦𝘬 𝘥𝘰𝘸𝘯-𝘣𝘢𝘭𝘭𝘰𝘵, ‘𝙘𝙤𝙖𝙩𝙩𝙞𝙡 𝙚𝙛𝙛𝙚𝙘𝙩’ dari mengusung figur popular yang memiliki elektabilitas tinggi.
Jika Partai Demokrat tidak salah memilah dan memilih langkah dalam berkoalisi, sebenarnya ada peluang besar Partai Demokrat menjadi destinasi bagi ‘𝘴𝘸𝘪𝘯𝘨 𝘷𝘰𝘵𝘦𝘳𝘴’ dari partai PAN dan PPP. Kebetulan sekali ditinjau dari segi popularitas dan jejak rekamnya, kedua partai ini diprediksi akan masuk masa ‘menopause politik’.
Sayangkan, jika peluang baik bagi Partai Demokrat terhempas sia-sia akibat emosional tidak stabil para kadernya yang terlalu cepat menggerutu, baper serta gampang merajuk.
Rasa frustasi, rasa kecewa dan rasa ingin menyerah seketika harus dilawan meskipun jiwa dan raga sudah tidak sanggup. Ak ingin teriak sekeras kerasnya.. #mentalpejuang