Boleh dong @KPK_RI cek aliran uang seluruh keluarga terkait.
Kalau di China, begitu hakim dicurigai terindikasi korup, jangankan brankas, isi dapurnya pun digeledah.
Konten2 yg mengkritik penanganan kebakaran hutan di Kalimantan terkena shadow banned diduga berdasarkan permintaan Komdigi
Bahkan akun2 influencer yg ikut speak up ttg kebakaran hutan ikut tumbang.
Meutya Hafid ini ga becus berantas judol malah sibuk berantas suara rakyat !
Padahal dulunya jurnalis sampe pernah diculik teroris, pas jadi mentri malah jadi cleaning service, alias tukang sensornya istana. Nuranimu dimana? Ini bencana, bukannya fokus ke mitigasi dan penanganan, malah sibuk perang lawan dan perangi kritik warganya sendiri.
Gua harap Anies jangan mau didikte sama opini2 sejenis ini. Sok iye asli.
Cukup menjadi Anies yg kita kenal, dah itu aja.
Selama rakyatnya dipelihara kebodohan dan kemiskinannya sama pemerintah, ga perlu teori analisa yg dalam2 amat kok knpa Anies/Ganjar bisa kalah.
Akun Ustadz Adi Hidayat juga dibanned oleh komdigi karena menyuarakan pembakaran hutan (karhutla). Memang dzolim sekali rezim ini dan buas.
Akupun iseng tanya di meta utk dibuatkan foto pakai masker dgn latar belakang asap, meta menolak dgn dalih aturan.. Gila bener.
Ketika Kepedulian Lebih Berarti daripada Menyalahkan👍
Sebuah truk bermuatan terperosok ke bahu jalan setelah mengalami kendala. Bang Iyan, sesama sopir truk tangki, berinisiatif membantu menarik kendaraan tersebut agar bisa kembali ke jalan.
Kisah ini mengajarkan bahwa kepedulian dan solidaritas tidak selalu harus ditunjukkan dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Di jalan raya, sesama pengguna jalan sebaiknya saling membantu dengan tetap mengutamakan keselamatan.
Semoga semakin banyak orang yang tergerak membantu sesama tanpa mengabaikan prosedur keselamatan.
Gua kalau segacor Anies juga nggak akan mau mendekati masyarakat lewat cara munafik. Toh, ngapain sih ngoyo sampai menggadaikan integritas demi orang-orang yang nggak mau dipimpin? Dipilih silahkan, nggak juga gapapa. Ada orang yang nggak deserve pemimpin handal sih.
Sebagai orang Palembang, izinkan mewakili para korban karhutla
Kita tau pemerintah sekarang tone deaf, cuma mau denger pujian dan yang mereka suka aja
Tapi tujuanku buat video ini supaya yang nonton mau mikir, supaya ngerti kalau kebanyakan pejabat-pejabat cuma mikir dirinya sendiri, bagi mereka semua ini hanya jokes dan candaan
Silent is complicit, tapi mereka ga hanya diam, malah ngeluarin statement yang mengganggu akal sehat
Terus peduli, karhutla belum berakhir, tugas kita didik diri sendiri dan warga, ngarepin pejabat terdidik, sekarang tampaknya masih sulit
Kegiatan pertama kemarin di Oxford University, dalam kapasitas sebagai anggota Board of Advisors Southeast Asian Studies Centre, Oxford University. Kami makan siang bersama di St Antony’s College dengan Prof. Timothy Power (Head of the Social Sciences Division), Prof. Roger Goodman (Warden of St Antony’s College), Prof. Diego Sánchez-Ancochea (Head of the Oxford School of Global and Area Studies), Prof. Paul Chaisty (former Head of School, OSGA), dan Ms. Kaitlin Bennett (Head of Development, Social Sciences Division).
Prof. Tim Power adalah kawan lama. Kami sudah beberapa kali bertemu, dan beliau juga pernah berkunjung ke rumah. Jadi siang itu rasanya seperti reuni, obrolan langsung cair dan hangat sejak awal.
Sambil makan siang, kami berdiskusi dan melihat beberapa rencana pembangunan yang akan dikerjakan. Alhamdulillah, masukan yang kami sampaikan ikut dipertimbangkan.
Obrolan siang itu mengalir ke banyak hal: kondisi global, perekonomian dunia, perkembangan di Asia Tenggara, dan tentu saja Indonesia. Banyak sekali pertanyaan dari mereka tentang situasi terkini di tanah air. Kami bercerita, dan kami juga banyak mendengar.
Pertemuan yang produktif. Mendengar cara pandang kawan-kawan di Oxford tentang kawasan kita membantu kami melihat Indonesia dari sudut yang berbeda, dan itu bekal berharga untuk dibawa pulang.
Menerima penghargaan The Freedom of the City of London.
Di Guildhall, London, balai kota yang berdiri sejak abad ke-15, ada sebuah ruangan tempat satu tradisi dijalankan selama ratusan tahun. Di ruangan itu, siang kemarin, penghargaan Freedom of the City of London kami terima. Alhamdulillah.
Prosesinya khidmat. Tidak ada kamera yg boleh menyala sampai seluruh rangkaian selesai. Hanya ada deklarasi yg dibacakan dengan kata2 yg sama seperti ratusan tahun lalu, sebuah buku besar untuk ditandatangani, jabat tangan, diakhiri satu kalimat sambutan: “a Citizen of London.”
Penganugerahaan Freedom of the City of London adalah salah satu tradisi sipil tertua di dunia. Tercatat sejak 1237, awalnya ia menandai status warga merdeka yg berhak berdagang di kota London. Kini ia diberikan kepada mereka yg dinilai berkontribusi bagi kehidupan publik. Dalam daftar panjang penerimanya ada Winston Churchill, Nelson Mandela, Desmond Tutu, Lee Kuan Yew, Stephen Hawking, J.K. Rowling, Tim Berners-Lee, Harry Kane, Andrew Lloyd Webber, dan banyak lainnya.
Nominasi bagi kami datang dari Lord Mayor of London Alastair King dan Alderman Gregory Jones. Upacara dimpimpin The City Remembrancer selaku kepala protokol. Alderman Vincent Keaveny, Lord Mayor 2021-2022, berdiri di samping mendampingi sepanjang upacara. Fery ikut hadir menyaksikan prosesi yg amat khidmat itu.
Kami sadar, yg dibawa masuk ke ruangan itu bukan nama satu orang, melainkan kerja2 kami sebelumnya, terutama saat diberi amanah di Jakarta. London memberi pengakuan terhadap kerja bersama itu, maka penghargaan ini pun kami dedikasikan menjadi milik bersama.
Dalam sambutan singkat, satu pesan disampaikan, kami ini ingin penghargaan ini diperlakukan sebagai pintu, bukan piala. Semoga lewat pintu ini makin banyak walikota, insinyur, guru, dan anak muda Indonesia yg belajar ke London, dan London juga datang belajar ke kota2 kita.
Kami menutup sambutan singkat di Guildhall kemarin dgn satu kata bahasa Indonesia. Kata yg diteriakkan bangsa ini pada 1945, dan masih diteriakkan setiap kali kita berbahagia. Kata yg dalam bahasa Inggris berarti freedom.
Merdeka!
Terima kasih, London. Sampai jumpa di Jakarta.