🚀 What if the next altseason rewrites the rankings?
$THETA: 250x
$TFUEL: 128x
$FIL: 52x
$FET: 35x
$TAO: 14x
AI, DePIN, RWA & L1s could lead the next wave. The biggest gains come with the biggest risks. Do your research. 🔥
- buy cheapest new iphone
- create new apple id & password
- disable face id
- custom alphanumeric passcode
- lockdown mode
- install wallet
- generate new address
- disconnect from internet
- put in a safe or a cell
- send all unused and newly acquired assets to the new address
Duit yang ditaruh di IHSG sejak 2006 sekarang udah naik 355%, dari Rp100 juta jadi Rp455 juta, tapi kata Leon Hartono begitu dihitung pakai dolar, hasil 20 tahun itu cuma 4,4% setahun dan masih kalah sama deposito 4,65% yang baru ditawarin ke dia.
Yang lebih nyesek, kalau mulainya 10 tahun lalu, dalam rupiah memang masih naik sekitar 26% tapi dalam dolar justru minus sekitar 6%, dan kalau mulainya 15 tahun lalu, minusnya dalam dolar sampai 18,9%. Leon sendiri ngaku hitungan ini belum masukin dividen, jadi tinggal ditambah kira-kira 2 sampai 4% setahun, tapi menurut dia pakai dividen pun plusnya tetap kecil banget.
Di Amerika, ajaran Warren Buffett itu simpel, cukup ikutin indeks S&P 500 terus biarin compounding bekerja, sementara di sini Leon bilang pejuang IHSG udah kayak tim SWAT karena mesti ngalahin indeks dulu baru dapet cuan yang berarti. Makanya ada temannya yang bercanda kalau Buffett itu cuma hoki, soalnya kalau dia lahir di Indonesia dengan IHSG kayak gini dan rupiah yang melemah, dia ga bakal jadi orang terkaya di dunia.
Leon ga nutup mata kalau pakai rupiah hasilnya memang kesannya ga sejelek itu, tapi dia tetap ngajak buang home country bias alias kebiasaan cuma investasi di pasar negeri sendiri. Kalau kalian, masih setia sama IHSG atau udah mulai nyebrang ke saham Amerika?
Sumber: YouTube Leon Hartono
Cara Berpikir Timothy Ronald yang Menurut Gue Menarik
Gue baru nonton podcast Xander bareng Timothy Ronald.
Yang menarik bukan cuma ngomongin Bitcoin, saham, AI, atau geopolitik.
Tapi cara Timothy melihat risk, wealth, dan hidup.
Ada beberapa pemikiran yang menurut gue cukup berbeda.
1.
Semua orang harus jadi investor, tapi tidak semua orang harus jadi trader
Ini salah satu poin paling sederhana tapi penting.
Menurut Timothy:
Trading = pekerjaan.
Investing = membangun aset.
Trading membutuhkan waktu, perhatian, skill, statistik, probabilitas, dan decision making.
Sementara investasi bisa dilakukan lebih pasif dan punya horizon jauh lebih panjang.
Jadi menurut dia:
Nggak semua orang harus jadi trader. Tapi semua orang sebaiknya menjadi investor.
Karena jangan sampai kita berpikir:
“Gue mau kaya, berarti harus trading.”
Padahal bisa saja jalan yang lebih cocok adalah:
naikkan income → sisihkan uang → investasikan → compound.
2.
Di financial market, kura-kura mengalahkan kelinci
Timothy punya analogi menarik:
Kelinci vs kura-kura.
Orang yang ingin cepat kaya biasanya mencari:
10x.
100%.
2% per hari.
Leverage.
Short-term trade.
Sedangkan orang yang berpikir panjang mungkin cuma mengejar:
8–10% per tahun.
Kedengarannya kecil.
Tapi kalau konsisten selama puluhan tahun, compound-nya bisa menjadi sangat besar.
Jadi menurutnya, salah satu karakter investor yang bertahan lama adalah:
sabar.
Bukan karena return-nya selalu besar.
Tapi karena dia tidak mati di tengah perjalanan.
3.
“Too good to be true” harus bikin kita curiga
Ini juga salah satu mental model yang gue suka.
Ada orang bilang:
“Bisa profit 2% sehari.”
Kedengarannya keren.
Tapi kalau dihitung secara compounding, angka tersebut menjadi luar biasa besar.
Makanya menurut Timothy, ketika ada investasi menawarkan return yang terlalu bagus, pertanyaannya bukan:
“Gimana caranya gue ikut?”
Tapi:
“Kenapa orang ini mau memberikan return sebesar itu kepada gue?”
Ini mindset yang penting.
Karena semakin besar return yang dijanjikan, biasanya kita juga perlu bertanya:
berapa besar risiko yang disembunyikan?
4.
Makin berpengalaman, justru makin sistematis
Ini menurut gue salah satu bagian terbaik dari podcast.
Orang sering mengira:
“Kalau sudah jago, pasti feeling-nya makin tajam.”
Timothy justru mengatakan sebaliknya.
Menurut dia, semakin lama dia berinvestasi, keputusan berdasarkan feeling justru semakin berkurang.
Dia menggunakan semacam mandate untuk dirinya sendiri.
Misalnya:
sekian % → defensive/benteng
sekian % → compounder
sekian % → speculative
Jadi ketika ada peluang baru, dia nggak asal masuk.
Dia bertanya:
“Apakah keputusan ini masih sesuai dengan mandate gue?”
Kalau keluar dari sistem yang sudah dibuat, menurut pengalamannya, hasil biasanya semakin buruk.
5.
Tujuan membangun kekayaan ≠ tujuan mempertahankan kekayaan
Nah, ini menurut gue salah satu pemikiran paling kuat dari podcast tersebut.
Timothy bilang:
“You only need to get rich once.”
Saat masih membangun kekayaan:
konsentrasi bisa masuk akal.
Karena modal masih kecil dan kita butuh pertumbuhan.
Tapi setelah kekayaan sudah besar:
game-nya berubah.
Sekarang bukan lagi:
“Gimana caranya gue menang besar?”
Tapi:
“Gimana caranya gue nggak kalah?”
Makanya setelah mencapai level tertentu, dia lebih memilih diversifikasi dan preservation.
Build wealth → concentration.
Preserve wealth → diversification.
6.
Jangan mengambil risiko yang bisa membuat kita keluar dari game
Contoh yang dia kasih sangat sederhana.
Punya Rp10 juta.
All-in satu aset.
Leverage 10x.
Aset naik 2x → uang bisa berkembang berkali-kali lipat.
Kelihatannya hebat.
Tapi kalau aset turun sekitar 9–10%, posisi leverage tersebut bisa mengalami margin call.
Jadi pertanyaannya:
Apakah return besar itu worth it dibanding kemungkinan kehilangan seluruh modal?
Menurut Timothy:
Tidak.
Karena masalahnya bukan apakah kita bisa menang.
Masalahnya adalah:
Apakah satu kekalahan bisa membuat kita tidak bisa bermain lagi?
Ini konsep risk of ruin.
7.
Skill stacking adalah mesin pembuat income
Ketika ditanya bagaimana anak muda bisa meningkatkan kekayaan, jawabannya bukan:
“Cari koin 100x.”
Justru:
Tambah skill.
Misalnya:
Videografi
↓
Editing
↓
Public speaking
↓
Financial knowledge
↓
Content
↓
Sales
↓
Media
Skill yang ditumpuk membuat value seseorang semakin mahal.
Jadi kalau income kita stuck:
jangan cuma bertanya:
“Kenapa gaji gue nggak naik?”
Tapi:
“Skill gue bertambah nggak?”
Karena kalau skill stagnan, income juga punya kecenderungan stagnan.
8.
AI menurut Timothy bisa menciptakan “intelligence gap”
Ini bagian yang cukup kontroversial.
Timothy tidak melihat masa depan AI sebagai otomatis menjadi utopia.
Menurut pandangannya, AI justru bisa menciptakan gap antara orang yang mampu membeli intelligence terbaik dengan orang yang tidak mampu.
Sekarang saja sudah ada perbedaan akses terhadap model AI dan compute.
Kalau ke depannya AI menjadi jauh lebih powerful dan mahal, menurut dia:
orang kaya → akses intelligence lebih powerful → produktivitas lebih tinggi → semakin kaya.
Sedangkan orang yang tidak mampu mengaksesnya bisa semakin tertinggal.
Jadi menurutnya, AI berpotensi bukan hanya menciptakan wealth gap, tapi juga intelligence gap.
9.
Saat bubble pecah, dia tidak mau menebak pemenang AI
Ini menarik.
Kalau AI bubble benar-benar pecah, Timothy mengatakan dia lebih memilih:
World Index
daripada menebak perusahaan AI mana yang akan menjadi pemenang.
Logikanya sederhana:
“Gue nggak mau nebak siapa yang menang.”
Karena bisa saja perusahaan yang kita kira akan menang ternyata kalah.
Dengan index, kita membeli sekumpulan bisnis sekaligus.
Jadi bukan:
“Siapa pemenang AI?”
Tapi:
“Bagaimana caranya gue tetap mendapatkan exposure terhadap pertumbuhan ekonomi?”
Dan mungkin inti terbesar dari semua pembicaraan ini:
Timothy sebenarnya nggak terlalu fokus pada:
“Bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak mungkin?”
Tapi lebih kepada:
“Bagaimana caranya membangun sistem yang membuat gue tidak kembali miskin?”
Dia bahkan menyebut ketakutan terbesarnya adalah kembali menjadi miskin.
Bukan karena dia sekadar ingin punya banyak uang.
Tapi karena menurutnya ketika seseorang miskin, kemampuan untuk membantu orang lain juga terbatas.
Dan dari situ keluar satu prinsip:
You only need to get rich once.
Setelah itu jangan merasa harus terus membuktikan sesuatu kepada market.
Build → Protect → Compound.
Menurut gue, itu justru salah satu benang merah paling kuat dari podcast ini.
Bukan tentang menjadi orang yang paling agresif di market.
Tapi tentang bertahan cukup lama sampai compounding melakukan pekerjaannya.
Everything you want is on the other side of not giving a fuck, asking again, and taking another shot. Life gives you endless lottery tickets to try and you only need one win to change your life forever .
NEVER STOP HELPING PEOPLE
NEVER STOP BUILDING
NEVER STOP MAKING MONEY
NEVER STOP SELF IMPROVEMENT
NEVER STOP MAKING IMPROVEMENT
IF U GET BAD DAY CHILL AND REST
MAYBE TOMORROW YOU GET PROFIT
TOUCH GRASS FIRST, SOMETHING MIGHT GO BAD TODAY, BUT THAT DOESN’T MEAN YOU SHOULD STOP AND GIVE UP
SOMETIMES BAD DAYS CAN HAPPEN AT ANY TIME, AND YOU NEED TO BE PREPARED FOR THEM
When asked for the secret to success, I think the most underrated and overlooked strategy is trying really really really hard for a very very long time.
Works for everyone I know who’s done it.
disini aku pakai gmgn, karena gmgn menurutku udah paling enak buat screening, dari UI nya juga menurutku yang paling enak diliat dari terminal lain
kalau kalian ngeliat token yang udah lama turu kok tiba tiba pump hard, itu momentum yang pas buat kalian hunting wallet buat di track
kalau udah nemu tokennya, kalian pilih candle sebelum pump, kenapa? yap, karena whale atau smart money itu tau apa yang kita gatau. karena mereka pasti punya alasan kenapa mereka bisa masuk lebih dulu
aku saranin pakai time frame 1m atau 5m biar ngefillternya enak, terus klik candlenya, nanti bakal muncul history trade yang terjadi di candle itu. nah disitu tinggal kalian cari wallet yang menurut kalian layak dipantau
1. $TSLA - Tesla Paling obvious sih, tapi harus disebut. Semua orang tau mobilnya. Robotnya namanya Optimus, ukuran manusia, dirancang buat kerja di pabrik. Yang lain susah bikin 1 juta unit. Tesla udah biasa.
2. $OUST - Ouster LiDAR. Laser yang mapping ruangan 3D biar robot tau mana yang harus dihindari. Dipake di warehouse robot, delivery bot, drone. Last quarter $55 juta, naik 56% karena sensor Rev8 mulai kirim.
3. $ISRG - Intuitive Surgical Mesin da Vinci-nya 4 lengan robot di atas meja operasi. Dokternya duduk di console, kontrol dari jauh. Udah terpasang 11.710 unit di dunia, naik 12%. Procedure naik 16%. Revenue $2,89 miliar last quarter.
4. $AMBA - Ambarella Otaknya robot. Chip kecil yang bisa jalanin AI langsung di mesinnya, jadi gak perlu nunggu data center. Katanya NXP lagi pembicaraan beli mereka sekitar $3,3 miliar.
5. $CGNX - Cognex Matanya robot. Kamera + software biar mesin bisa liat: ini part apa, posisinya bener gak, rusak gak. Record quarter $291 juta, naik 17%.
6. $AME - AMETEK Motor, actuator, sensor. Bagian yang bikin keputusan robot jadi gerakan nyata, terus kasih feedback posisi. Boring, gak glamour, tapi ada di mana-mana. EPS dan sales naik, share count datar.
7. $COPR - Coppernico Metals Wildcard. Semua robot ini fisik. Butuh tembaga, kabel, motor. 1 miliar robot bukan cuma butuh software & chip… butuh logam. Mereka explorer tembaga & emas di Peru, 50.000 hektar. Teck udah pegang hampir 9%. Baru dapet izin drilling setelah nunggu 9 tahun.