Ingat setahun lalu kami undang Mama Yasinta ke acara diskusi MIWF tentang dampak PSN. Dengan segala kemungkinan risiko, kami sempat pertimbangkan untuk membatasi promo medsos.
Beliau protes dan dengan tegas bilang, "Untuk apa saya jauh-jauh ke Makassar jika saya tak didengar?"
Pandangan Ulil ini memanipulasi rasa “bersalah bersama” untuk membenarkan kejahatan struktural. Ia menyodorkan fakta bahwa semua orang pakai hasil tambang seolah itu mandat moral untuk terus menggali, padahal yang sedang dikritik adalah model produksi yang rakus, kotor, dan mematikan, bukan keberadaan logam itu sendiri.
Menyalahkan rakyat karena pakai HP dan listrik sambil membebaskan oligarki tambang dari tanggung jawab adalah pembalikan logika: yang mengatur sistem energi dan industri adalah segelintir elite, bukan petani yang tanahnya longsor atau warga yang mati di lubang bekas galian.
Saat Ulil menyebut zero mining “goblok”, yang sedang ia bodohi justru publik. Zero mining bukan klaim bahwa besok pagi bumi harus steril dari setiap bentuk penggalian, melainkan horizon politik: batas keras bahwa ada ekosistem, wilayah adat, dan generasi masa depan yang tidak boleh lagi dikorbankan.
Di tengah krisis iklim, banjir bandang, kekeringan, dan puluhan ribu lubang tambang telantar, sikap rasional justru adalah rem darurat, moratorium, sampai penutupan bertahap—bukan menambah izin baru lalu menyebutnya “dengan aturan yang jelas”.
ACEH
Peta ini memperlihatkan bahwa banjir besar yang melumpuhkan Aceh terjadi di wilayah yang salah satu konsesi hutannya dimiliki langsung oleh Prabowo Subianto melalui PT Tusam Hutani Lestari, perusahaan HTI yang menguasai sekitar 97 ribu hektare hutan di Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Utara.
Konsesi milik Prabowo ini berdiri berdampingan dengan puluhan izin tambang, HTI, HPH, dan kebun sawit berskala raksasa yang bersama‑sama menggerus tutupan hutan di pegunungan dan hulu sungai, merusak daerah tangkapan air, dan melemahkan kemampuan alam menahan limpasan hujan.
Banjir yang menerjang baru-baru ini datang ketika curah hujan ekstrem turun di kawasan yang sudah lama dikapling izin-izin tersebut, sehingga air hujan tidak lagi tertahan oleh hutan dan tanah yang sehat. Air mengalir deras membawa lumpur dan kayu ke pemukiman, menjadikan banjir bandang di Aceh sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir, menenggelamkan ribuan rumah dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Wilayah yang disorot dengan garis ungu di peta—Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Gayo Lues hingga Aceh Singkil—adalah kabupaten dengan banjir terparah yang resmi berstatus siaga darurat. Di banyak titik, penjelasan resmi memang menyebut luapan sungai setelah hujan lebat berhari‑hari, tetapi peta ini menambahkan lapisan fakta lain: hulu sungai yang sama sudah dibebani 30 izin tambang minerba seluas lebih dari 132 ribu hektare ditambah konsesi kayu dan HTI yang membentang hingga ke batas permukiman.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah kawasan Linge di Aceh Tengah, tempat PT Tusam Hutani Lestari menguasai hampir 100 ribu hektare hutan dan telah lama diprotes warga karena merampas ruang hidup mereka dan mengubah hutan adat menjadi kebun industri pinus.
Dengan demikian, bencana ini bukan hanya soal hujan dan alam, tetapi juga soal kepemilikan lahan raksasa oleh elit politik, termasuk presiden, yang ikut menentukan seberapa parah air bah menerjang kampung‑kampung di hilir.
Bicara eksploitasi di Papua harus bicara sejarah
Kontrak karya Freeport disahkan Soeharto 2 tahun sebelum Pepera 1969. Demi mengamankan Freeport, Orba memanipulasi referendum
Dari 800.000 jiwa Papua, hanya diwakili 1.026 jiwa
Kejadian di Raja Ampat gak muncul dari ruang kosong
@R4khm4t_M@vincentrcrd @irwndfrry Betul. Mitos sebagai mitigasi lingkungan. Kalau nggak salah di Baduy ada hutan keramat, yang tak boleh dijamah siapapun. Artinya baik untuk kesehatan alam. Alam sehat sudah barang tentu memberi ruang hidup yang baik.
@vincentrcrd @irwndfrry Dulu pernah ada esai menarik yang dimuat Vice Indonesia (Sekarang udah tutup). Mitos sebagai mitigasi lingkungan. Cerita2 mistik yang beredar dalam konteks lingkungan alam, cenderung lebih terjaga kelestariaannya. Tapi hal ini nggak berlaku bagi oligarki. Wkwkwkwk.
Sistem irigasi sawah 1 juta Ha era Soeharto yang menghabisi hutan (1996) dan gagal. Food estate Kalteng ini diulangi Jokowi dan Prabowo (2021), gagal.
SBY (2009) dan Jokowi (2015) bikin di Merauke, gagal. Kini diulang lagi (2024).
Kalimantan Papua