Pernah berpikir nggak sih, kenapa negara harus berbisnis dengan rakyatnya? Kenapa negara harus menjadi saingan rakyatnya sendiri? Kenapa Badan Usaha Milik Negara harus money oriented?
Jika alasannya karena “Badan Usaha” sehingga harus mencari untung, kenapa negara memberikan izin maupun kesempatan kepada swasta untuk menjadi tender? Atau, kenapa negara memberikan izin kepada swasta untuk menyediakan barang serta jasa yang sebenarnya, sudah disediakan oleh negara?
Sebagai contoh, kasus Tom Lembong sangat relevan dengan pembahasan dalam tulisan ini, kenapa PT PPI harus mengambil fee Rp 105 per kg? Jika BUMN itu melayani masyarakat, seharusnya tidak perlu mengambil fee dong?
Nah sedangkan, jika fee dibebankan kepada swasta, tentu harga gula yang ada di pasar akan dinaikan. Bukankah itu memberatkan masyarakat? Lantas jika memberatkan, apakah PT PPI menjalankan tugasnya sebagai BUMN yang melayani masyarakat?
Btw, tadinya ini tuh mau dibikin esai. Tapi ga jadi perkara komen monyet ke si Pigai🗿
-Thread-
Senangnya punya legal streaming selain bisa nonton live eksklusif tanpa delay juga bakal nerima highlight panjang gini
Serie A infonya bakal ada OTT (layanan streaming) yang nayangin per giornata 5
Ada indo valid? Mola, Vision, atau Bein?
–Mimpi keadilan Pegi Setiawan–
Mimpi Pegi tidak neko-neko. Ia ingin keluarganya bisa makan, adik-adiknya bisa terdidik. Karenanya ia memilih berhenti sekolah lalu bekerja. 10 tahun kemudian angan sederhana itu terancam musnah. Ia tiba-tiba dijadikan tersangka pelaku pembunuhan berencana di TKP yang tidak ia hadiri.
Utas
Dari mana asal-usul keyakinan kubu @prabowo dan @gibran_tweet bahwa mereka akan menang 1 putaran?
Kami merangkum MENIT-MENIT penting dalam film Dirty Vote karya @Dandhy_Laksono
THREAD RINGKASAN FILM DIRTY VOTE
- RASUK -
TW / VIOLENCE - BUNDIR
(1)
Cerita bersambung ini diangkat dari suatu kisah yang saya dapatkan pada tahun 2013 tentang sebuah keluarga yang memasang benda-benda gaib di bawah bangunan kos-kontrakan miliknya. Dalam versi cerita yang pertama dikisahkan, sejumlah penghuni tempat itu kemudian mati dengan cara bunuh diri, dan sebagian yang lain meninggal dengan sebab yang sukar dipahami. Semua kematian itu hanya terjadi setelah mereka pergi dari tempat itu untuk pindah ke tempat yang lain. Pencerita kisah dengan cukup yakin menyebut sedikitnya 30 orang bekas penyewa rumah tersebut telah tewas dalam 10 tahun dikarenakan sebab-sebab yang demikian. Menurutnya, berangkat dari penyelidikan yang sudah ia jalani, si pemilik rumah itu masih menghendaki korban-korban selanjutnya hingga mencapai jumlah tertentu sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuannya. Berkenaan dengan itu saya bertanya, apa yang menjadi tujuan keluarga itu. Pencerita mengatakan, keluarga tersebut menginginkan sebuah perjanjian dengan setan.
Sebenarnya saya sangat tergoda untuk menuliskan ulang kisah itu sepersis versi yang pertama. Namun demikian belakangan saya menganggap bahwa hal itu hanya akan menjadi sangat emosional juga tidak realistis. Karenanya saya memilih menyusun dengan gaya yang lain, sehingga perasaan ini terbebas dari hal-hal yang tidak perlu ada. Dan, dengan pertimbangan keasyikan serta keberlanjutan cerita, maka cerita berjudul Rasuk ini merupakan bagian yang kedua dari kisah yang pertama berjudul Ruqyah.
***
IZIN TAG
@IDN_Horor@bacahorror