Kalo ada konten demo lewat diberanda kalian langsung like dan posting ulang!
Jika itupun kalo Kalian peduli dengan kecemasan negara saat ini, dengan melakukan itu secara tidak langsung kita membantu perjuangan temen" yg disana melalui sosial media, karena media terbungkam!
Hobinya seremonial dan kasi sambutan.
Kalo dikritik, tersinggungan lalu gas ke wa pribadi menuju doxxing.
Kerja nomer dua, nama baik adalah utama
Kalo melaju pake kendaraan, harus dikasi jalan
Kalo berobat harus dikasi spot terdepan.
👍
Top KOE
SING LIYANE BENG2
Gak ada yang lebih ironis dari kisah Prof. Bambang Hero Saharjo. Ilmuwan yang berjuang nyelametin hutan Indonesia dari kebakaran, malah digugat Rp510 Miliar di negeri sendiri oleh korporat sawit.
Tahun 2018, dosen IPB ini dituntut dengan angka fantastis itu cuma karena beliau jadi saksi ahli KLHK buat ngebongkar kasus pembakaran hutan di Riau. Analisis ilmiahnya yang akurat malah dibalas teror hukum yang nyaris ngehancurin kariernya.
Tapi plot twist-nya bikin nampar muka hukum kita: Di saat dalam negeri beliau ditekan habis-habisan, tahun 2019 lembaga internasional di London, Inggris, justru menganugerahi beliau John Maddox Prize—salah satu penghargaan tertinggi buat ilmuwan paling berani di dunia.
Bukti nyata kalau di negeri ini, jujur dan pakai ilmu buat bela alam itu taruhannya bisa miskin tujuh turunan digugat mafia.
Wkwkw ini siapa yg cepuin? @PNS_Ababil
Pasti staf yg gak dapet jatah dinas wkwk.
Ya pasti kesel sih. Di era efisiensi kayak gini, mereka aja diperes habis”an buat kegiatan MBG Kopdes, eh anak menteri ambil jatahnya 🤣🤣
TEMAN-TEMAN LIHAT INI!!
Ada anak menteri ikut bapaknya dinas ke New York.
@.Dody Hanggodo hello pak 🙃
WNI tanya WNI...
Boleh sih begini?? Kunjungan kerja bawa anak istri??
Mau tanya juga, nama anaknya masuk list SK delegasi berarti ngikut pake duit negara gitu kah?? @.KemenPU
Beneran Nanya ini😌
Mumpung Kegiatan Masih 6-7 hari, masih bisa itu revisi😉
HIGH-LEVEL MEETTING ON THE MIDTERM REVIEW OF THE NEW URBAN AGENDA NEW YORK
(13-19 Juli 2026)
in This Economy They Said "Efficiency"
PNS latsar : daring via zoom ❌
KDMP latsar : seragam lengkap, barak, training komcad 1,5 bulan ✅
PNS pemda, kerja pake laptop pribadi karena pengadaan ditiadakan sejak 2020 untuk refocusing Covid, sampai sekarang. Giliran KDMP yang cuma jaga toko gak jelas, malah dikasih seragam sampai tumbler. PNS disuruh beli seragam sendiri.
Aku gak iri atas nama pribadiku, soalnya aku bisa beli sekaligus jualan blazer warna khaki kulakan di Shopee, tapi kan kasian para PNS yang gak jualan, terpaksa beli seragam. Pret bangetlah.
cc:threadawaluddinrizal
Yang bikin kebocoran siapa gue tanya?
Yang bikin MBG siapa? Anggaran 1.2 triliun perhari?
Dikorupsi Dadan 1 miliar sehari masih sisa banyak?
Yang bikin Kopdes di tengah sawah sama tengah hutan juga siapa?
Siapa gue tanya?
Siapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?
Koperasi yang saya tahu:
1) Dimodalin dengan iuran anggota
2) Usahanya dijalankan oleh anggota
3) Jenis usahanya ditentukan oleh anggota: misal Koperasi Simpan Pinjam atau Warung Sederhana, tergantung mana yang profitable.
4) Profitnya dibagikan ke anggota lewat sisa hasil usaha (SHU)
5) Sebagian dipakai buat lanjutin usaha.
Digaung-gaungkan oleh Hatta waktu itu, karena bikin rakyat independen dan mandiri.
Koperasi desa merah putih:
1) Dimodalin APBN, banyak pula
2) Usahanya dijalankan oleh Parjo, sampai manajer yang direkrut disuruh latian militer
3) Jenis usahanya ditentukan oleh pemerintah: mini market, mau ngalahin Indomaret sama Alfamart
4) Emang ada profitnya? Minimarket dibangun di tengah sawah sama di hutan gitu?
5) Kalaupun ada profitnya gak tau dikemanain,
Koperasi macam apa itu?
Teman gue beli Avanza 2019.
Harga 135 juta.
Murah dikit dari pasaran.
BPKB ada. STNK ada. Pajak hidup.
Nama di BPKB sesuai KTP penjual.
Semua keliatan beres.
Langsung deal. Langsung transfer.
3 bulan kemudian.
Dia mau jual lagi karena butuh uang.
Calon pembeli baru minta cek fisik dulu.
Bareng ke Samsat.
Petugas cek nomor rangka.
Diam lama.
Terus bilang:
"Pak, BPKB ini diduga palsu."
Teman gue shock.
Kira salah baca.
Petugas tunjuk satu per satu.
Serat kertas diterawang, gak ada benang merah biru.
Nomor seri dicek di sistem, gak terdaftar.
Hologram terlalu mulus. Terlalu licin.
Palsu. Tapi hampir sempurna.
Balik ke penjual.
Nomor masih aktif hari pertama.
Jawabnya:
"Saya juga gak tau Pak, saya beli kondisi gitu."
Telepon berikutnya.
Tidak diangkat.
Berikutnya lagi.
Nomornya tidak aktif.
Lapor polisi.
Mobilnya ditahan sebagai barang bukti.
Penjual belum ketangkap.
135 juta raib.
Mobilnya raib.
Penjualnya raib.
BPKB palsu sekarang bukan kaleng-kaleng.
Kertas mirip. Hologram mirip. Tanda tangan mirip.
Mata telanjang gak akan ketahuan.
Tapi ada 3 hal yang selalu ninggalin jejak:
1. Serat kertas.
BPKB asli kalau diterawang — ada benang merah dan biru di dalam kertas.
Palsu: polos. Atau seratnya dicetak, bukan tertanam.
2. Nomor seri.
Tiap BPKB punya nomor seri unik yang terdaftar di sistem Polri.
Cek di: https://t.co/UA5mhtlZUI
Palsu: nomornya gak akan muncul. Atau muncul tapi datanya beda.
3. Tekstur cover.
BPKB asli covernya agak kasar, ada tekstur grid halus.
Palsu: terlalu mulus dan licin waktu dipegang.
Tapi cek dokumen saja gak cukup.
Nomor rangka dan mesin juga bisa dimanipulasi.
Digerinda halus. Di-stamp ulang.
Kelihatan mulus kalau cuma dilihat sekilas.
Yang bisa deteksi: senter kuat + kaca pembesar.
Sorot miring ke nomor rangka.
Kalau ada bekas gerindaan, batalkan transaksi.
Ini checklist wajib sebelum bayar:
Terawang kertas BPKB → cek serat merah biru.
Cek nomor seri BPKB → ke website Korlantas Polri.
Pegang cover BPKB → harus kasar, bukan licin.
Sorot nomor rangka pakai senter → cek bekas gerindaan.
Bandingkan digit per digit → satu angka beda = batalkan.
Minta cek fisik bareng ke Samsat → gratis, 30 menit.
TAMPARAN TERAKHIR:
Lo pegang BPKB-nya.
Tapi gak diterawang.
Lo baca nomornya.
Tapi gak dicek ke sistem.
Lo lihat hologramnya.
Tapi gak diraba teksturnya.
Semua butuh kurang dari 5 menit.
Tapi di-skip.
Dan itu yang bikin 135 juta raib semalam.
Luar biasa banget emang negara kita.
Demi ngajarin generasi muda cinta Pancasila, MPR rela keluar Rp30,7 miliar.
Tiga puluh koma tujuh miliar rupiah.
Untuk lomba cerdas cermat.
- Penyusunan soal: Rp1,2 miliar
- Grand final: Rp3,5 miliar
Soal kuis. Satu koma dua miliar.
Mungkin soalnya ditulis pakai tinta emas di atas kulit sapi Wagyu.
🥇 Juara 1: Rp10 juta
🥈 Juara 2: Rp7,5 juta
🥉 Juara 3: Rp5 juta
Belum dipotong pajak.
Total hadiah tiga besar: Rp22,5 juta.
Dari Rp30,7 miliar.
Sisa Rp30,69 miliar. Jadi pilar perlombaan atau jd pilar nilai² pancasila ya?
Minimal Kita bisa memetik pelajaran dan nilai²:
- kerja keras itu mulia
- pengabdian itu tak ternilai
- uang bukan segalanya
Pelajaran yang sangat pas — disampaikan oleh panitia yang anggarannya Rp30,7 miliar.
Negara ini pandai sekali mengajarkan kesederhanaan. Lewat rakyatnya.
Gaji PNS tahun 1990:
Rp 240.000
Setara: 10,9 gram emas
(harga emas waktu itu Rp 22.000 per gram)
Gaji PNS tahun 2026:
Rp 2.785.700
Setara: 1 gram emas
(harga emas sekarang Rp 2.795.000 per gram)
Dalam 36 tahun, gaji PNS nominal naik 11,6x lipat.
Tapi nilai sebenarnya (dalam emas)? Turun 10x lipat.
Ini bukan kebetulan. Ini design.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Halo.
Saya sering memakai kereta api untuk perjalanan rutin Semarang-Jakarta, dan sebaliknya. Di kereta, saya sering mendapati contoh seperti ini.
Dan salat seperti ini: tidak sah (jika yang dikerjakan adalah salat fardu).
Pertama, semangat shalatnya patut diapresiasi. Tapi harus diketahui bahwa salat itu ada fikihnya, dan contoh di bawah ini bisa jadi melewatkannya.
Berdiri (qiyam) adalah rukun salat fardu. Kecuali si Mas salat sunnah, maka tidak perlu berdiri (meski bukan di kereta, salat sunnah dengan duduk diperbolehkan).
Maka berdiri, meskipun sedang di kendaraan apapun (termasuk kereta), masih menjadi wajib bagi orang salat. Fikih menjelaskan: jika kalian mampu berdiri, ya wajib berdiri.
Ada pengecualian, tapi sempit:
1. Kalau kendaraannya terlalu bergoyan sehingga berdiri benar-benar membahayakan kalian,
2. Tidak ada ruang sama sekali untuk berdiri, atau
3. Khawatir waktu salatnya habis sementara turun tidak mungkin.
Sebagai pengguna setia KAI, saya cukup tahu betul umumnya sudah ada musala yang bersih di gerbong dekat restoran.
Kalau ada musala, dan fisiknya si Mas mampu berdiri, maka salat di kursi penumpang seperti ini: belum sah menurut kebanyakan ulama (jumhur).
Sekali lagi, niat si Mas sudah benar, dan harus diapresiasi.
Tinggal mengubah caranya saja.
🙏
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Ini kok saya dapet UKT tertinggi? Penghasilan Orang Tua saya gak segede itu?"
"Coba saya cek, kasih nama sama NIM?"
"Debi Pak, ini NIM saya."
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang biasanya UKT tertinggi, memang gitu aturannya di kampus ini."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba kamu apply KIPK. Ini dicek ya syaratnya."
***
"Bu Dinas Sosial."
"Iya gimana?"
"Saya mau cek orang tua saya di desil berapa di DTSEN, saya mau daftar KIPK."
"Minta NIK orang tua ya."
"Ini Bu, tolong dicek"
"Sebentar ya"
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS pasti kehapus dari DTSEN. Dari jaman DTKS juga rutin diapus. Perintah menteri sosial. Memang aturannya gitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba kamu pakai surat keterangan tidak mampu atau slip gaji ortu buat daftar KIPK."
***
"Pak Lurah, saya mau minta SKTM buat daftar KIPK"
"Kamu bukannya Debi, anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?"
"Iya Pak"
"Lah, penghasilannya bukannya lumayan?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Bentar saya cek dulu aturannya, Ibu PNS kan ya?"
"Iya Pak"
"Saya kemarin dapet instruksi dari Pemda sini, katanya kalau PNS gak boleh dapet SKTM. Jadi saya gak berani keluarin."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba langsung pakai slip gaji Ibu ke Dikbud."
***
"Bu Dikbud."
"Iya gimana?"
"Saya mau daftar KIPK, cuma data ortu saya gak ada di DTSEN sama Pak Lurah gak bisa ngeluarin SKTM. Jadi pakai slip gaji."
"Sebentar saya cek ya."
"Ini slip gaji ibu kamu? PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang gak bisa daftar KIPK. Kemarin pejabat tim teknis KIPK udah bilang kalau PNS gak boleh sama sekali."
"Sama sekali Bu? Gaji Ibu saya cuma segini?"
"Iya. Bahkan Golongan I juga gak boleh. Memang aturannya begitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba ke bank aja sama Ibu, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank"
"Iya gimana?"
"Saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Bu, saya cek dulu"
"..."
"Bu Lala, setelah kita cek penghasilan dan riwayat finansial, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi. Saya gak berani Bu, nanti saya yang kena."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet KIPK Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Ibu saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas fintech, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya Mbak"
"Waduh, itu segede biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
"Memang aturannya segitu pinjaman kita."
***
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Misalkan saya mau nunda kuliah jadi tahun depan, buat ngumpulin duit dulu, bisa gak?"
"Jadi gak daftar ulang pertama?"
"Iya."
"Gak bisa, kalau udah lulus ujian tahun ini, kamu diblacklist dari ikut ujian lagi tahun depan."
"Hah?"