Pagi di hari ke-2 lebaran, nangis sesugukan di pojokan. Ingat sudah 5 tahun ini tidak berlebaran bersama alm simbah. Setelah berpuluh tahun jadi yatim-piatu yang biasa berlebaran berdua dengan simbah. Al Fatihah.
Banyak PR yang belum selesai. Kenapa gw klo kerja gak bisa santai kaya rangorang sih? Bawaannya kenceng mulu. Pdahal gak ada yg menuntut gitu. Ini semacam tuntutan pada diri sendiri, yang pd akhirnya sering bikin kolaps.
Mungkin bila kita punya tombol untuk mematikan rasa. Maka yg dimaksud trauma dapat hilang dg seketika. Tapi nyatanya tidak. Seringkali kita akan terus berjibaku dg hal itu seumur hidup kita. Tidak tampak, bukan berati tidak terjadi. Tidak bersuara, bukan berarti tidak sakit.
Dan mungkin juga sebaliknya
Butuh kekuatan untuk menyadari ada kesalahan dari orang lain, tanpa tergelincir terus menyalahkan
Butuh kebaikan untuk menemui rasa malu orang lain, tanpa mempermalukan
Butuh keberanian untuk menghadapi rasa bersalah, tanpa tergelincir kepada menyalahkan diri sendiri
Butuh keramahan untuk menghadapi rasa malu, tanpa mempermalukan diri sendiri
Butuh kelembutan untuk meminta maaf, sambil memaafkan diri sendiri yang pernah melakukan salah