Simbol Salib Merah menurut gue dalem banget sih, cuma orang TOLOL yang tega babat hutan setelah liat simbol ini.
Menurut kacamata gue, rakyat Papua ga ngerti harus minta tolong ke siapa lagi agar hutan (kehidupan) mereka gak dirusak oleh negara, sehingga mereka mengekspresikan "hopeless" itu menjadi Salib Merah.
Ini kalo diulik lebih dalam pake kacamata Karl Marx yang agama adalah candu, bakal lebih ngena karna menurut gue emang dalem banget maknanya.
Asli jahat banget nih negara sama korporasi, masa kerja di perusahaan sawit digaji 2 juta dipotong 1 juta buat keperluan makan. Pekerja nerima 1 juta doang per bulan bisa buat apa njir?
Belum lagi soal tanah satu hektar yang diharhai cuma 300 ribu, kelen gila kah? Satu hektar loh masa cuma 300 ribu ya Allah๐ญ
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."๏ฟผ
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.๏ฟผ
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.๏ฟผ
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.๏ฟผ
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.๏ฟผ
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.๏ฟผ
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.๏ฟผ
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.๏ฟผ
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.๏ฟผ
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.๏ฟผ
Guys, ini skenario yang menurut gua perlu dibahas dengan sangat serius dan sangat konkret karena bukan tidak mungkin terjadi.
jika Rupiah tembus Rp20.000 per dolar tahun ini
apakah yang akan terjadi untuk kaum menengah kebawah?
Yang paling terasa adalah dapur kita
kenapa begitu ??
Gandum seluruhnya impor.
Semua produk berbasis tepung terigu langsung naik. Roti.
Mie instan.
Biskuit.
Kue.
Mi ayam gerobak di depan rumah lo.
Kedelai mayoritas impor.
Tahu dan tempe yang selama ini jadi protein paling terjangkau bagi rakyat kecil harganya naik.
Ini bukan pertama kali terjadi kita sudah sering lihat demo perajin tahu tempe ketika rupiah melemah.
Beras dalam negeri tapi pupuknya banyak yang impor.
Harga pupuk naik berarti ongkos produksi petani naik berarti harga beras ikut naik.
Minyak goreng berbahan CPO tapi biaya produksi dan distribusinya pakai bahan bakar yang harganya mengikuti harga minyak global yang dibayar pakai dolar.
Gula mayoritas masih impor.
Daging sapi frozen sebagian besar impor dari Australia.
Estimasi kasar harga kebutuhan pokok bisa naik 10 sampai 20 persen dalam 3 sampai 6 bulan setelah rupiah tembus Rp20.000.
Untuk pekerja bergaji UMR.
UMR Jakarta sekarang Rp5,3 juta.
Dengan inflasi yang dipicu pelemahan rupiah daya beli riil mereka bisa turun 15 persen tanpa ada potongan di slip gaji.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada pengumuman.
Uang yang sama tapi bisa beli lebih sedikit.
Simulasinya begini.
Sebelumnya dengan Rp5,3 juta kamu bisa makan tiga kali sehari bayar kos naik transportasi masih ada sedikit sisa.
Setelah harga naik 15 persen dengan gaji yang sama kamu harus memilih kurangi makan atau nunggak kos atau berhenti bayar cicilan.
Dan kenaikan UMR tidak otomatis mengikuti inflasi. UMR ditetapkan setahun sekali.
Inflasi bisa terjadi kapan saja.
Artinya ada jeda antara harga yang naik dan gaji yang menyesuaikan dan selama jeda itu pekerja UMR yang menanggung selisihnya.
Yang paling parah adalah mereka yang sudah punya cicilan.
Cicilan KPR subsidi yang bunganya naik karena suku bunga acuan ikut naik untuk menjaga rupiah.
Cicilan motor yang tenor-nya masih panjang.
Cicilan pinjol yang sudah menumpuk sebelum rupiah lemah sekarang makin mencekik karena pengeluaran dasar sudah naik semua.
Yang kedua pelaku UMKM kecil.
Ini adalah kelompok yang paling tidak punya bantalan sama sekali.
Ambil contoh penjual gorengan.
Minyak goreng naik.
Tepung terigu naik.
Gas elpiji naik karena subsidi energi makin berat ditanggung negara.
Tiga komponen utama biaya produksinya naik sekaligus.
Kalau dia naikkan harga jual pelanggan berkurang karena daya beli mereka juga sedang turun.
Kalau dia tidak naikkan harga marginnya habis bahkan bisa rugi.
Solusinya yang biasa dilakukan UMKM kecil adalah shrinkflation porsinya dikecilkan tapi harganya sama. Tahu goreng yang tadinya besar jadi kecil
Mi ayam yang tadinya banyak isinya jadi sedikit.
Ini bukan solusi jangka panjang tapi pilihan yang paling mungkin dilakukan saat modal tidak ada dan akses kredit tidak tersedia.
UMKM yang sedikit lebih besar usaha konveksi kecil misalnya kena lebih parah.
Bahan baku kain dan benang sebagian besar impor atau menggunakan bahan baku yang harganya mengikuti kurs.
Mesin jahit yang rusak butuh suku cadang yang harganya naik.
Sementara order dari konsumen turun karena konsumen mereka sendiri juga sedang mengurangi pengeluaran.
Yang ketiga buruh pabrik.
Ini adalah kelompok yang ada di dua sisi masalah sekaligus.
Di satu sisi sebagai konsumen mereka kena dampak inflasi yang sama dengan semua orang di atas.
Di sisi lain sebagai pekerja di industri manufaktur mereka berhadapan dengan risiko PHK.
Karena ketika rupiah melemah signifikan pabrik yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi dua pilihan naikkan harga jual atau potong biaya produksi.
Memotong biaya produksi artinya mengurangi jam kerja mengurangi shift atau mengurangi jumlah pekerja.
Buruh pabrik tekstil adalah yang paling rentan. Industri tekstil Indonesia sudah tertekan oleh serbuan produk tekstil murah dari China.
Rupiah yang melemah sebenarnya membuat produk ekspor tekstil Indonesia lebih kompetitif di pasar global tapi masalahnya bahan baku benang dan kain banyak yang juga impor sehingga efek kompetitifnya tidak sebesar yang diharapkan.
Yang kemungkinan besar terjadi adalah gelombang PHK lanjutan di sektor yang sudah PHK massal tekstil garmen sepatu elektronik.
Dan pekerja yang kena PHK tidak langsung dapat pekerjaan baru karena lapangan kerja formal juga sedang menyempit.
Yang keempat petani kecil.
Paradoks paling menyedihkan ada di sini.
Ketika rupiah melemah harga komoditas ekspor seperti beras CPO dan kopi secara teori naik dalam rupiah karena dibayar dolar.
Seharusnya petani untung.
Tapi yang terjadi di lapangan berbeda.
Pupuk naik.
Biaya angkut naik.
Bensin untuk pompa air naik.
Plastik untuk pembungkus dan pengemasan naik.
Dan petani kecil tidak punya daya tawar untuk menentukan harga jual yang menentukan adalah tengkulak atau koperasi atau pasar yang sering kali tidak serta-merta menaikkan harga beli dari petani secepat kenaikan harga jual di konsumen.
Artinya ongkos produksi naik tapi harga yang diterima petani tidak naik proporsional.
Marginnya semakin tipis.
Dan petani yang sudah bergantung pada utang untuk modal tanam semakin terjepit.
Yang kelima orang yang punya utang dalam dolar atau produk yang harganya mengikuti dolar.
Ini termasuk cicilan kendaraan dan elektronik yang spesifikasinya diimpor.
Smartphone yang baru.
Laptop.
Komputer.
Peralatan rumah tangga.
Semua yang komponen intinya impor harganya akan naik dalam rupiah.
Orang yang berencana membeli laptop Rp8 juta sekarang harus siapkan Rp9 sampai Rp10 juta.
Yang berencana beli smartphone Rp5 juta mungkin harus bayar Rp5,5 sampai Rp6 juta.
Soal apa yang terjadi dengan subsidi dan bagaimana itu memperparah fiskal negara.
Ini adalah lingkaran setan yang paling berbahaya.
Rupiah melemah berarti harga BBM impor dalam rupiah naik.
Tapi pemerintah tidak serta-merta naikkan harga BBM karena takut inflasi meledak dan gejolak sosial. Jadi subsidi energi yang harus dibayar negara makin membengkak.
Subsidi yang sudah jebol 266 persen
dari target di Q1 2026 akan semakin jebol.
Defisit APBN semakin lebar.
Dan untuk menutup defisit itu pemerintah harus meminjam lebih banyak atau mencetak uang keduanya menekan rupiah lebih jauh lagi.
Lingkaran itu berputar ke bawah.
Soal satu-satunya hal yang bisa dilakukan orang biasa untuk memproteksi diri.
Dalam kondisi rupiah melemah signifikan ada beberapa langkah yang bisa diambil secara individual meskipun semua punya trade-off.
Pertama untuk yang punya tabungan pertimbangkan sebagian kecil di emas atau dolar bukan spekulasi tapi sebagai lindung nilai. Nilai rupiah dari tabungan biasa akan tergerus inflasi.
Kedua untuk UMKM kurangi ketergantungan pada bahan baku impor sebisa mungkin. Cari substitusi lokal meski kualitasnya mungkin tidak identik.
Ketiga untuk semua orang ini waktu yang paling penting untuk tidak menambah utang konsumtif. Cicilan yang terasa ringan sekarang akan terasa lebih berat ketika harga barang kebutuhan pokok sudah naik semua.
Keempat untuk yang punya keahlian digital atau bisa bekerja dalam dolar ini adalah waktu terbaik untuk mencari klien atau pekerjaan yang dibayar dalam mata uang yang lebih kuat.
Rp20.000 per dolar bukan angka abstrak.
Itu adalah harga beras yang lebih mahal.
Tahu tempe yang lebih mahal.
Ongkos produksi UMKM yang lebih berat.
PHK di pabrik yang lebih banyak.
Dan gaji UMR yang nilainya riilnya makin kecil meski angkanya sama.
Yang paling tidak adil dari seluruh situasi ini adalah orang-orang yang paling tidak punya pilihan yang tidak bisa pindah ke investasi dolar tidak bisa raise harga tanpa kehilangan pelanggan tidak bisa nego cicilan dan tidak bisa nunggu kondisi lebih baik justru yang paling keras merasakan dampaknya.
Ingat baik-baik namanya, Nalince Wamang
Pelajar asli Papua, 17 tahun, tewas ditembak oleh tentara saat sedang mendulang emas di wilayah bekas aliran limbah tambang PT. Freeport demi mencari uang untuk kuliah
Dimiskinkan sistem, dibunuh aparat negara
Never forget, never forgive
Pernah ketemu sama tulisan yg hangat banget:
"Kenapa kita butuh sholat 5 kali sehari?
Karena tak ada satu pun di dunia ini yang rela bertemu denganmu lima kali sehari, dalam keadaan senang, sedih, susah, patah hati atau kuat, kecuali Allah."
Such a beautiful reminder...๐ฅน๐ค
Guys, Istana Cinere rumah ikonik Anang Hermansyah dan Ashanty yang selama bertahun-tahun jadi simbol kemewahan selebriti Indonesia kembali dijual.
Dan kali ini dengan detail yang cukup mengejutkan.
Fakta yang perlu lo ketahui dulu:
Rumah tiga lantai bergaya Eropa klasik di Cinere ini sudah dihuni sejak 2013.
Berdiri di atas lahan seluas 1.428 meter persegi.
Ada 11 kamar utama, 10 kamar mandi, kolam renang, ruang gym, studio musik, salon, dan foyer yang megah.
Satu dekade lalu ini adalah salah satu rumah selebriti termewah di Indonesia.
Tahun 2020 rumah ini pernah mau dijual. Sudah ada yang berminat di harga Rp35 miliar.
Tapi deal batal. Ashanty bilang rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Tempat anak-anak tumbuh. Tidak jadi dijual.
Sekarang 2026 rumah itu kembali dijual. Harganya? Rp25 miliar.
Turun Rp10 miliar dari harga 6 tahun lalu.
Dan ini yang perlu dipahami secara finansial karena banyak yang tidak sadar:
Properti residensial di Indonesia terutama di area seperti Cinere yang masuk kawasan Depok-selatan secara historis mengalami apresiasi atau kenaikan harga rata-rata 5-10% per tahun.
Kalau kita ambil angka konservatif 5% per tahun saja dalam 6 tahun, rumah yang dihargai Rp35 miliar di 2020 seharusnya sekarang bernilai sekitar Rp47-50 miliar.
Tapi mereka menjualnya di Rp25 miliar.
Itu bukan sekadar tidak untung. Itu adalah kerugian yang sangat signifikan dibanding nilai pasar yang seharusnya.
Dan fakta bahwa mereka bersedia menjual jauh di bawah nilai apresiasi itu sinyal bahwa kebutuhan likuiditas saat ini jauh lebih mendesak dari mempertahankan aset.
Apa yang terjadi di balik keputusan ini:
Dalam beberapa tahun terakhir Anang dan Ashanty menghadapi serangkaian masalah bisnis yang bertubi-tubi.
Usaha kosmetik mereka yang sempat besar tersandung kasus hukum dan akhirnya gulung tikar tiga tahun lalu. Gerai kuliner Ashanty juga tutup buku.
Dan penutupan bisnis kuliner itu tidak berjalan mulus ada konflik hukum dengan mantan karyawan bernama Ayu Khairo Nurisa yang sudah dipenjara atas kasus penggelapan dana dan pemalsuan tanda tangan.
Tapi yang membuat situasinya semakin berat: Ayu menggugat Ashanty secara perdata dengan nilai gugatan Rp100 miliar.
Seratus miliar. Empat kali lipat harga rumah yang sedang mereka jual.
Kalau gugatan itu dikabulkan pengadilan menjual Istana Cinere seharga Rp25 miliar pun tidak akan cukup untuk menutupinya.
Ini bukan cerita tentang Anang dan Ashanty saja:
Ini adalah pelajaran yang sangat relevan tentang bagaimana bisnis selebriti di Indonesia sering dibangun di atas fondasi yang lebih rapuh dari yang terlihat di permukaan.
Banyak artis Indonesia yang masuk dunia bisnis dengan modal nama besar dan basis penggemar yang luas tapi tanpa sistem manajemen bisnis yang kuat, tanpa pemisahan yang jelas antara keuangan pribadi dan bisnis, dan tanpa antisipasi risiko hukum yang memadai.
Ketika bisnis bermasalah aset pribadi ikut terseret. Rumah yang dibangun dari hasil kerja keras bertahun-tahun jadi taruhan untuk menutupi lubang yang dibuat oleh keputusan bisnis yang tidak terstruktur.
Soal rumah yang susah laku dan ini yang menarik secara pasar properti:
Fakta bahwa rumah ini sudah diturunkan harganya sangat signifikan tapi belum tentu langsung laku adalah cerminan kondisi pasar properti kelas atas Indonesia saat ini.
Properti mewah di atas Rp20 miliar adalah segmen yang sangat terbatas pembelinya. Orang yang punya uang Rp25 miliar untuk beli rumah tidak banyak โ dan mereka punya banyak pilihan. Mereka juga biasanya lebih selektif soal lokasi, akses, dan potensi apresiasi ke depan.
Cinere secara historis bukan kawasan premium tier-1 seperti Pondok Indah atau Menteng. Aksesnya tidak semudah kawasan-kawasan elite di Jakarta Selatan. Dan dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang dengan rupiah di Rp17.335 dan daya beli yang tertekan pembeli properti kelas atas cenderung lebih berhati-hati.
Ditambah lagi: reputasi properti bahwa "ada konflik hukum yang sedang berjalan" bisa membuat calon pembeli lebih waspada. Tidak ada yang mau beli properti yang kemudian terseret dalam proses hukum pemilik lamanya.
Pelajaran yang bisa diambil bukan untuk menghakimi:
Satu โ nama besar tidak sama dengan kekayaan yang aman. Banyak artis yang terlihat sangat kaya dari luar tapi sebenarnya cash flow-nya sangat tergantung pada endorsement dan konten yang bisa turun drastis kapan saja.
Dua โ bisnis yang tidak dikelola dengan sistem yang kuat tidak peduli seberapa populer pemiliknya sangat rentan terhadap masalah hukum yang bisa mengancam aset pribadi.
Tiga โ properti mewah bukan aset yang mudah dilikuidasi. Ketika butuh uang cepat rumah Rp25 miliar tidak semudah menjual saham atau menarik deposito. Dan kalau harus dijual cepat biasanya harus rela rugi signifikan.
Istana Cinere yang ikonik itu sekarang menjadi simbol yang berbeda dari dulu. Bukan lagi simbol kemewahan dan pencapaian tapi simbol bahwa tidak ada yang benar-benar aman dari tekanan finansial, termasuk mereka yang terlihat paling mapan.
Semoga prosesnya berjalan baik untuk mereka. Dan semoga ini jadi pengingat buat kita semua bahwa membangun kekayaan itu bukan hanya soal seberapa besar yang bisa lo tampilkan tapi seberapa kuat fondasi yang lo bangun di baliknya.
โ ๏ธ
trigger warning // TW CW // serangga
Pro tips klo nemu dua serangga ini di rumah, jangan dibunuh! Cukup diusir pergi ajah
Plus dia jg ga ngganggu dan ga ngejar, unlike mangsanya yg super rese itu. Thank me later!
๐ jd sender fist time mau cobain mandi kenang ala2 Amanda zahra gtu, di pikiran sender kya cantik gtu bunga2
Tp knp result nya agak horor ya๐ฅฒ
Takut ditarik tangan dri dlm air ๐ฅฒ๐ฅฒ
Ada satu kalimat yang terdengar gagah, tapi runtuh begitu disentuh angka:
โ๐๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ด๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ช 70% ๐ซ๐ข๐ญ๐ถ๐ณ ๐ญ๐ข๐ถ๐ต, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ <5% ๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ช ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐ฎ๐ช๐ฏ๐บ๐ข.โ
Itu bukan keunggulan. Itu definisi ๐ธ๐ฒ๐ด๐ฎ๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐ป ๐๐๐ฟ๐๐ธ๐๐๐ฟ๐ฎ๐น.
Prabowo Subianto berbicara tentang Selat Hormuz seolah Indonesia punya leverage global karena posisi geografis. Masalahnya sederhana: ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ช๐ด๐ชโ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ ๐ง๐ถ๐ฏ๐จ๐ด๐ช.
๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐ฆ๐ฒ๐น๐ฎ๐ ๐ ๐ฎ๐น๐ฎ๐ธ๐ฎ, ๐ณ๐๐ป๐ด๐๐ถ ๐ถ๐๐ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ.
Sementara ๐๐ป๐ฑ๐ผ๐ป๐ฒ๐๐ถ๐ฎ berdiri sebagai โ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ ๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏโ, ๐ฆ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐๐ฟ๐ฎ menjadi ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข.
Indonesia menyediakan ๐ญ๐ข๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข, Singapura menjual ๐ซ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
Indonesia menjaga ๐ซ๐ข๐ญ๐ถ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข, Singapura ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ต๐ช๐ด๐ข๐ด๐ช ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข.
๐๐ฎ๐๐ถ๐น๐ป๐๐ฎ ๐ฏ๐ฟ๐๐๐ฎ๐น:
โช๏ธIndonesia: <5% capture โ USD 7โ17 miliar/tahun
โช๏ธSingapura: 70โ80% capture โ USD 100โ250 miliar/tahun
๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ด๐ช๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ณ๐จ๐ช๐ฏ.
๐๐ต๐ถ ๐ซ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข๐ฃ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐ฎ๐ช.
Masalahnya bukan kita tidak tahu.
Masalahnya kita terus salah & bangga dengan variabel yang tidak dibayar pasar.
Geografi tidak otomatis jadi geopolitik.
Kedaulatan tidak otomatis jadi kesejahteraan.
Dan pidato tidak pernah menggantikan arsitektur kebijakan.
Selama kita masih mengira bahwa:
โ๐ฝ๐๐ป๐๐ฎ ๐๐ถ๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ต = ๐ฝ๐๐ป๐๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฟโ
maka yang terjadi justru sebaliknya:
>>> kita menjadi penonton premium di rumah sendiri.
๐Riky Indrakari
Kalo emang mau basa-basi kenapa ga pake obrolan topik cuaca aja sih pak?
Lagian selama gw hidup, belum pernah punya nama temen YURI GAGARIN.
Ada yang punya temen namanya YURI GAGARIN?
Rekap 20 pelajaran hidup ala Bang Radit:
1.Jadi orang nyeleneh dikit? Santai aja, itu bukan dosa.
2.Stop julid, hidup lo bakal lebih tenang.
3.Kita tuh nggak sepenting itu di hidup orang lain, jadi chill aja.
4.Hidup simpel itu underrated banget.
5.Kerjaan berat jadi enteng kalau dicicil pelan-pelan.
6.Kerjaan juga lebih ringan kalau dikerjain bareng.
7.Ide nggak bakal keinget kalau nggak ditulis.
8.Belajar dari yang udah jago, biar nggak muter-muter.
9.Tapi kadang belajar dari yang โnggak tau apa-apaโ juga buka perspektif baru.
10.Bengong dikit itu bukan buang waktu, itu bagian dari mikir kreatif.
11.Waktu tuh bukan dicari, tapi dibikin.
12.Uang bisa dipakai buat โbeli waktuโ, manfaatin.
13.Jangan lupa have fun, hidup bukan cuma kerja doang.
14.Coba hobi baru, itu cara paling gampang biar hidup kerasa fresh lagi.
15.Kejar momen-momen berkesan, bukan cuma pencapaian.
16.Jangan ambil keputusan pas lagi emosi, fix sering nyesel.
17.Kadang harus berani bilang โiyaโ ke hal yang biasanya lo tolak.
18.Tapi di sisi lain, belajar bilang โnggakโ itu penting banget.
19.Main game = cara paling gampang buat kabur bentar dari realita.
20.Dapat kritik? Artinya masih ada ruang buat naik level.
Pesan Semesta :
Akhir akhir ini mungkin kamu ngerasa mikul beban sendirian atau beberapa kondisi orang orang gak ngertiin kamu yang lagi berjuang, tapi semesta berpesan bahwa setiap akhir dari apapun yang kamu alami sekarang akan ada kebahagiaan menanti.