Betul kemiskinan struktural adalah soal low income dan lack of opportunities, tapi faktor mindset dan akses terhadap informasi bener-bener punya pengaruh yang juga besar dalam memupuk kemiskinan struktural.
I have so many stories about this, let me tell you this one,
Kalau ini benar, kok tega yah perlakukan pengusaha catering seperti ini?
Catering khan butuh cash flow untuk beli bahan baku setiap hari.
Makanan sudah jadi 💩💩, tagihan belum bayar.
Anyway, saran cara menagih sudah saya berikan ke ibu tersebut.
🎶 BUMN untuk Indonesiaaaaa🎶
TikTok dan social media clickbait tuh bikin attention span menurun, otak jadi ga terbiasa lagi sama hal yang "lama" dan "bosan"
Ada banyak riset yg bilang salah satu cara biar aktivitas otak meningkat adalah dengan menulis pake tangan. Bisa dimulai dengan ✨Jurnal Satu Kalimat✨
Mau share sedikit tentang "Kutu Loncat" dari POV dan pengalaman pribadi sebagai Kutu Loncat, khususnya terkait pengembangan karir dibarengi proses membangun kekayaan dari 0.
Feel free to disagree about this one!
Urutan prioritas hal penting dari bekerja bagi saya:
1. Salary dan benefit lainnya
2. Kesempatan untuk mengembangkan diri
3. Kenyamanan lingkungan tempat kerja
4. Kesempatan untuk kontribusi ke hal besar
Aku awal kerja professional punya pandangan kayak gini:
"Ah mau stay di perusahaan ini lah minimal 2-3 tahun! Mau liat impact apa yang berhasil kubawa, kebetulan perusahaan dan lingkungan nya juga mendukung self growth."
Di bulan ke-9, datang lah offering, dengan kenaikan salary sekitar 60%. Saat itu sempet dilema karena awalnya mikir ga akan pindah sampai 1-2 tahun ke depan, tapi ternyata mikir juga kalo kenaikan salary segitu tuh sangat signifikan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan lainnya.
Sempet mikir kalo aku stay di perusahaan saat itu, kenaikan salary 60% tuh besar juga kemungkinan untuk tidak terjadi. Belum lagi saat proses mencapai kenaikan salary 60% itu, akan "terbuang" waktu beberapa bulan atau bahkan tahunan untuk mengumpulkan aset dan membangun kekayaan.
Akhirnya pindah lah ke perusahaan baru, toh di perusahaan baru pun masih sama-sama jadi engineer dan pasti tetep nambah skills serta pengalaman juga.
Di perusahaan baru pun ternyata banyak belajar juga, dan justru lebih cepet ngasih ke impact ke perusahaan. Berhasil megang key project nya, dan beberapa kali "lead" ongoing project dari sisi pemahaman flow dan cara kerja sistem nya padahal saat itu cuma level engineer biasa.
Sempet ditawari naik jabatan dan kenaikan salary di perusahaan itu, tapi setelah kurang lebih setahun disana, ternyata kejadian lagi seperti di perusahaan pertama. Dapat Offering dari perusahaan lain, kali ini perusahaan luar, dengan kenaikan salary yang sampai 800%, plus dapat exposure ke market luar. Ada pros and cons nya tersendiri pas ambil kesempatan itu, tapi pros nya bagiku saat itu terlalu besar untuk dilewatkan, dan akhirnya pindah lagi.
Kejadian serupa juga terjadi di tahun ke-4, meskipun dengan alasan yang cukup berbeda.
Now, here I am, di perusahaan ke-4 di tahun ke-5.
Mungkin banyak HR bisa meliat CV ku tuh kayak Kutu Loncat, tiap tahun pindah perusahaan, but it is what it is. Aku udah berikan hal yang maksimal ke tiap perusahaan tempatku kerja meskipun ga dalam jangka waktu yang panjang, aku berhasil ningkatin skill dan pengalaman diri sendiri, serta di saat bersamaan juga cukup berhasil membangun kekayaan dari 0 dengan tangan sendiri.
Mungkin ada benar nya opini terkait belum bisa nya ngasih impact dan metric yang jelas kalo kerja baru setahun, tapi dalam kasus saya, hal itu ga terjadi. Saya tetap bisa ngasih impact ke perusahaan dalam waktu yang cenderung sebentar, dan dalam pandanganku, aku selalu ngasih impresi yang cukup bagus di tiap perusahaan tempat ku bekerja.
Pandangan ku:
Bekerja lah di tempatmu sekarang bekerja seolah-olah itu tempat mu bekerja untu selamanya. Berikan 110% mu untuk perusahaan, bawa impact bagus buat perusahaan, buatlah agar mereka seperti bayar kamu "kemurahan" dengan impact yang kamu bawa, tapi ketika ada kesempatan yang menurutmu lebih baik, jangan sungkan untuk ambil itu meskipun akhirnya kamu akan dikatakan Kutu Loncat.
Rata-rata harapan hidup manusia Indonesia itu cuma 60-75 tahun, dan waktu kita produktif bekerja mungkin cuma setengahnya. Jadi bagi saya yang harus membangun kekayaan dari 0, waktu 1-2 tahun dengan salary yang lebih banyak 30% aja udah berarti banget.
Lagi, cuma opini dan pandanganku pribadi ya, mau setuju boleh, mau ga setuju juga boleh.
Semangat buat semua orang yang sedang membangun kekayaan nya masing-masing! ✊️
Pagi2 dapat chat dari Robosen selaku pihak yang mengirimkan saya Megatron-nya. Bayangin, kata2 ini keluar dari brand-nya itu sendiri. 😂
Semoga ke depannya kita beres deh, agak malu juga bacanya.
WAH2! CS EKSPEDISI KURANG TRAINING?! Izin quote lagi, bang Okta!
Rekap:
Я обожаю сборную Индонезии, сборная точно может победить в полуфинале
All clear
“All clear”. Kalau saya sih kalau mengakui bikin delay, barangnya penyok & sobek, saya akan bertanggung jawab atau setidaknya saya akan MINTA MAAF. Kalau saya ini mah.
Tapi balik lagi, kan gak semua orang kayak saya ya. 🙏
@sosmedkeras Terkadang diam lebih baik daripada mengucapkan sesuatu yang tidak perlu.
Ingat mulutmu harimaumu. Melukai hati orang sangat mudah tapi untuk menyembuhkannya amat susah, berfikir terlebih dahulu sebelum berkata...
Tugas
"Bu Mutia, dipanggil ke ruangan Pak Dekan."
"Ada apa ya Mbak Admin?"
"Ada yang mau diobrolin katanya."
"Jam berapa mbak?"
"Jam 1, habis makan siang."
***
"Ada apa Pak Dekan?"
"Bu Mutia kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?"
"Iya Pak."
"Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?"
"Iya Pak."
"Biar karir Bu Mutia lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3."
"Wah, kalau nggak gimana Pak? Saya lagi banyak pengeluaran."
"Nanti karir Bu Mutia stuck di situ."
"Oh gitu, oke Pak."
***
"Mbak Admin, kalau saya mau daftar S3 di univ sini aja, syaratnya apa aja?"
"Kok gak ke luar negeri aja Bu?"
"Anak saya baru masuk kuliah, di jurusan sebelah, adiknya mau masuk SMA."
"Wah udah gede."
"Iya, saya dulu nikah muda dan punya anak cepet."
"Oh gitu, saya cek dulu ya syarat-syaratnya Bu, nanti saya hubungi."
***
"Bu Mutia, syaratnya ini Bu: Ijazah sama Transkrip S1 dan S2, Hasil tes TPA, Hasil tes TOEFL, sama Proposal Penelitian."
"Tes TPA sama TOEFL saya udah kadaluarsa, harus tes lagi?"
"Iya Bu. Oh ya, nanti juga ada tes lagi dari jurusan."
"Bentar, saya ngajar di jurusan Farmasi ini, punya beberapa paper di jurnal internasional di bidang ini juga, masih harus dites kemampuannya?"
"Iya Bu, memang aturannya begitu."
"..."
***
"Mbak Admin, ini saya udah dapat tes TPA dan TOEFL saya, ada reimburse-nya?"
"Gak ada Bu."
"Hah? Kok gitu, bukannya ini saya melaksanakan tugas secara profesional? Kok jadi uang saya pribadi yang keluar?"
"Memang aturannya begitu Bu."
"Uang pendaftaran ke universitas juga nggak ada reimburse-nya?"
"Gak ada Bu."
"..."
***
"Pak Dekan, saya kan udah urus pendaftaran S3 ke sini, untuk biaya UKT per semesternya gimana?"
"Sekitar 15 juta per semester Bu."
"Wah, saya gak kuat harus bayar segitu."
"Bu Mutia cari beasiswa aja, ada LPDP atau BPI."
"Bentar, ini saya kan melaksanakan tugas secara profesional kan Pak? Atas perintah Fakultas?"
"Iya Bu."
"Tapi saya disuruh cari pendanaan sendiri? Antara bayar sendiri atau beasiswa cari sendiri?"
"Iya Bu. Memang begitu. Saya dulu juga begitu."
"..."
***
"Prof. Harjo, bisa jadi promotor S3 saya?"
"Bisa Bu Mutia, tapi saya lagi minim funding beberapa semester ke depan. Hampir semua guru besar di fakultas kita lagi susah Bu."
"Oh gitu Prof, kalau tanpa funding, gimana?"
"Bu Mutia harus biayain penelitian sendiri."
"Maksudnya?"
"Beli mencit, reagen, bahan kimia, sama alat-alatnya secara mandiri Bu."
"Bentar, jadi selain harus bayar UKT, saya juga harus bayar penelitiannya?"
"Iya Bu."
"Kan ini saya bertugas secara profesional kan Prof? Ada surat dari Fakultas loh saya disuruh Tugas Belajar, kok pakai uang pribadi?"
"Saya dulu juga gitu Bu. Memang begitu."
"..."
***
"Bu Mutia, ini ada surat dari lembaga beasiswa yang di-apply kemarin."
"Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?"
"Iya Bu, ini ada suratnya dari LPDP sama BPI. Dibuka aja Bu."
"..."
"Kenapa Bu, kok sedih?"
"Dua-duanya nggak keterima Mbak, padahal saya juga PNS Dosen."
"Waduh, jadi gimana Bu?"
"Terpaksa bayar UKT pakai uang pribadi."
"..."
***
"Mbak Keuangan Fakultas, ini kok gaji saya tinggal gaji pokok PNS doang? Ini gaji pokoknya mana di bawah UMK pula."
"Bentar saya cek ya Bu Mutia."
"Tolong ya mbak, itu semua tunjangan sama serdos jadi ilang semua, saya lagi perlu biayain anak-anak saya."
"Bu Mutia mulai tugas belajar semester ini?"
"Iya Mbak."
"Oh pantes, memang gitu aturannya Bu, selama tugas belajar yang diberikan hanya gaji pokok PNS."
"Hah, kok gitu? Saya kan mengerjakan tugas ini atas perintah Fakultas?"
"Memang aturannya begitu Bu."
"..."
***
"Halo Pak TU Kampus jurusan sebelah? Ini kok anak saya dapat UKT maksimum?"
"Iya Bu, kan Ibu PNS."
"Gak bisa daftar KIPK gitu?"
"PNS gak bisa Bu. Pejabat dikbud bilang gitu kemarin."
"Tapi gaji saya tinggal gaji pokok doang karena Tugas Belajar. Jadi di bawah UMK."
"Wah, saya gak bisa bantu Bu. Memang aturannya begitu."
"..."
***
"Prof. Harjo, Alhamdulillah ini paper penelitian kita accepted di jurnal Q1."
"Alhamdulillah. Ya udah, urus administrasinya ya."
"Saya harus bayar APC Prof."
"Berapa?"
"USD 3000 Prof. Open Access berbayar. Kalau gak gitu, nunggu review aja bisa 1.5 tahun."
"Waduh, hibah penelitian kita cuma sanggup bayar 10% dari itu."
"Sisanya gimana?"
"Kamu bayar sendiri."
"Hah?"
"Memang begitu. Saya dulu juga gitu"
"..."
***
"Prof. Harjo, biar saya lulus, saya butuh berapa paper jurnal Q1?"
"Perlu empat Bu Mutia. Baru satu yang kemarin kan ya?"
"Iya Prof."
"Berarti yang tiga lagi sama kaya kemarin lagi? Biaya penelitian dan APC jurnal dari saya semua?"
"Iya, terpaksa begitu, kita lagi krisis funding."
"..."
***
"Selamat ya Bu Mutia, sudah berhasil defense."
"Terima kasih atas bimbingannya selama ini Prof. Harjo."
"Saya minta maaf gak bisa bantu banyak ya Bu Mutia."
"..."
***
"Pak Dekan, saya mau resign."
"Hah, kan baru lulus S3 Bu?"
"Saya dapat offer di LN Pak, saya kelilit utang ratusan juta karena biayain penelitian, APC jurnal, kuliah anak pertama saya, sama sekolah adiknya."
"Gak bisa Bu, kalau tugas belajar ada perjanjian harus mengabdi 2n+1."
"Maksudnya?"
"Kan Bu Mutia kemarin Tugas Belajar 4 tahun, berarti harus tetap di sini selama 9 tahun ke depan."
"Hah?"
Kasus kedua pilot Batik Air BTK6723 ketiduran saat bertugas: What we need to know and accept!
(Warning: Long Post!)
Untuk kasus pilot ketiduran di pesawat Batik Air, pertama bagaimana kalau ada pilot tidur?
1. Pilot tidur di fase cruising itu hal biasa dilakukan, namun satu-satu bergiliran. Ini dikarenakan microsleep sangat berguna ketika sedang letih.
2. Yang masalah adalah kalau keduanya ketiduran.
Masalah ketiduran ini harus dilihat dari faktor-faktor penyebabnya:
- Kopilot memberikan keterangan bahwa dia memang sedang kurang istirahat karena membantu istrinya ngasuh bayi kembar yang baru berusia sebulan.
- Seharusnya, ketika ini terjadi, kaptennya harus menilai apakah dia sendiri cukup atau tidak istirahatnya? Jika memang kurang istirahat, maka dia atau kopilotnya, atau dua-duanya minta diganti.
Masalahnya disini adalah masalah kondisi kerja dan kedisiplinan istirahat pilot.
Dari sisi scheduling, penjadwalan terbang mereka sepertinya tidak ada masalah, termasuk juga untuk kebutuhan istirahat di penerbangan dini hari.
Dari sisi lain, butuh ditelusuri mengenai corporate attitude mengenai masalah pilot fatigue, dan ini masalah kompleks:
1. Apakah jika ada pilot yang minta diganti schedule terbangnya karena alasan fatigue diberi sanksi atau tidak? Jika diberi, apakah langsung, atau berdasarkan trend jejak rekam si pilot?
2. Perusahaan sudah pasti mempunyai awareness campaign mengenai kesehatan/kesiapan terbang pilot (contoh: "IAMSAFE" program), tetapi apakah dijalankan?
3. Apakah perusahaan memberikan "Paternal Leave"(Cuti lahiran) bagi pilot pria yang istrinya baru melahirkan? Jika tidak ada, sebaiknya diadakan, guna menurunkan resiko terkait pilot fatigue.
Masalah pemberian sanksi:
Dalam hal ini, saya sangat tidak setuju jika jalan keluarnya "hanya segampang" memberikan sanksi kepada pilot dan manajemen maskapai.
Ini ada resiko sistemik yang harus diselesaikan, dan justru kebijakan gampang memberikan sanksi akan menghambat perbaikan karena masalah Pilot Fatigue ini masalah yang membutuhkan analisa dan solusi kualitatif, bukan kuantitatif, karena membutuhkan awareness dan kesadaran dimana butuh pilot yang fatigue diberi pengakuan dan perlindungan dari sanksi guna bisa memberikan keteragan sepenuh-penuhnya agar bisa dicarikan solusi yang sistemis.
Namun, jika memang masalah fatigue ini diakibatkan oleh kesengajaan atau keteledoran berdasarkan perilaku yang tidak bertanggung jawab oleh pilotnya, maka wajar bila diberikan sanksi disipliner.
Yang patut dipertanyakan, kalau pilotnya ngaku "kurang istirahat", reaksi perusahaan bagaimana?
Terus, seharusnya si kapten juga sadar kalau dirinya sendiri kurang istirahat.
Kalau diem saja, kopilotnya juga tidak tau kondisi rekannya
Selain itu, yang perlu di evaluasi untuk overnight flight operations rute jarak pendek/menengah adalah:
1. Efektifitas program Fatigue Risk Management System (FRMS) perusahaan.
2. Pola recommended rest sebelum dan setelah overnight flight bagi crew di dalam FRMSnya seperti apa.
3. Feedback mengenai efektifitas FRMS
4. Awareness/kepatuhan crew dalam mengikuti pola istirahat sebelum dan sesudah flight sesuai FRMS bagaimana?
Jangan lupa, point nomor 4 ini penting yah!
Di forum debat, prediksi saya:
Prabowo akan dihabisi Anies dan Ganjar.
Gibran akan dihabisi Muhaimin dan Mahfud.
Prabowo-Gibran kalau bicara dan tampil di muka publik nggak bisa bagus. Malah sering blunder.
Menghadapi para aktivis lulusan UGM dengan pengalaman yang tak perlu dipertanyakan, ah sulit rasanya Prabowo-Gibran bisa mengimbangi.
Capek banget ngarepin polisi. Kemarin bawa tetangga ke Polsek Parung Panjang dengan kondisi babak belur abis dipukulin suaminya. Sama si polisi disuruh pulang, bawa surat-surat KTP/KK dan Surat Nikah....
@MyRepublicID halo admin, di rumah sy sudah dari hari minggu malam (27/08) tidak bisa menggunakan akses wifi.. Sudah lapor ke tim terkait, infonya sudah diemail namun belum ada progres kelanjutan nya..
Mohon dibantu min kejelasannya. Sudah 5 malam tidak menggunakan wifi.. Thx