sociologist at @UINSK on sociological theory, cultural sociology and youth studies l translator l @_orhanpamuk & tรผrk kรผltรผrรผ & edebiyatฤฑ & @spiritturki
Dear mimin @unpad, saya sudah semingguan lebih berkirim email ke [email protected], buat minta izin ada salah satu foto di website saya ambil buat keperluan tulisan. Editor minta keterangan korespondensi. Mohon disenggol dong ke humasnya.
@EYulihastin Tak kira kemarau panjang itu dimulai Juni, seperti banyak prediksi, dan panas ekstrim. Ini kok masih ujan dan awan gelap.
Artinya, fenomena cuaca bisa berubah-ubah dg cepat atau gmn prof?
Kalau kamu pernah ikut demo, pulang dengan perasaan "ini akan mengubah sesuatu", lalu tiga bulan kemudian semuanya kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa โ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐.
โHal itu dijawab tuntas oleh Zen RS di Diskusi & Peluncuran Buku: Infrastruktur Impunitas (Karya Elizabet F. Draxler).
Ini agak panjang. Tapi setiap bagiannya saling mengunci, dan di akhir, ada satu pertanyaan yang mungkin akan terus mengganggumu setelah selesai membaca.
๐ฆ๐๐๐จ๐๐ ๐จ๐ง๐๐ฆ.
Tak sekali dikontak temanยฒ jauh yg bahkan tak pernah ketemu, berteman krn koneksi kerjaan dll. Mengeluh kondisi masingยฒ, soal kebutuhan hidup yg terus mencekik. Hanya untuk dapat 200rb saja kesusahan.
Sementara proyek setan MBG KDMP bakar uang rakyat.
Bangkrut bangkrut!
Ini baru berita. Akhirnya rentenir internasional jg sujud pada negeri besar ini. Mereka membatin gemes, "Eh, si Endut satu ini taunya ngutang terus!" ๐ข
https://t.co/7h2u0H8xZs
Familiar dg nama @robymuhamad ketika beberapa tahun silam menyoal jaringan sosial. Tapi baru sekarang menyimak pandangannya soal buku dan dunia literasi. Menarik juga ketika "bertemu" @_orhanpamuk dan Kartini di New York.
Partai @Gerindra ini daya rusaknya akan sangat hebat bagi negara. Ini jadi titik puncaknya. Sudah dimulai oleh @PDI_Perjuangan, ini puncak brutalnya di tengah matinya oposisi.
Tinggal didaftar nanti. Semua kemauan presiden langsung dpt karpet merah.
Wamendiktisaintek Stella Christie menegaskan keberhasilan penggunaan Kecerdasan Artifisial (AI) tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi harus berdasarkan kebutuhan dan kualitas SDM yang mengelolanya.
Bila ia masih hidup, 10 Juni 2026, Asrul Sani akan berumur seratus tahun. Angka yang bulat. Nyaris seperti penanda. Seolah waktu ingin memberi jeda, meminta kita berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang.
Bagi banyak orang, Asrul adalah penyair Angkatan โ45, penulis, penerjemah, dan salah satu penanda penting kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan.
Bagi saya, ia adalah Pak Cunโadik kandung ayah saya, paman yang tinggal di rumah kami di Menteng ketika saya masih kecil, dan yang lewat percakapan-percakapan sederhana membentuk cara saya melihat dunia.
Dari sanalah saya berkenalan dengan Albert Camus dan Anton Chekhov. Dua nama yang, pada usia saya yang masih kecil saat itu, terasa jauh. Tidak sepenuhnya saya pahami. Tetapi buku-buku itu tidak hilang. Mereka menunggu.
Dan bertahun-tahun kemudian, ketika saya membacanya kembali dengan mata yang sudah lebih banyak melihat hidup, saya menyadari apa yang sebetulnya ingin Pak Cun sampaikan: bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan.
Camus menolak karena ia tahu penjelasan yang tersedia tidak memadai untuk menampung absurditas keberadaan.
Chekhov menolak karena ia tahu penjelasan akan mengkhianati tekstur sebenarnya dari pengalaman manusia. Dan Asrul, meski tidak pernah secara eksplisit berdialog dengan keduanya, sampai pada posisi yang serupa lewat jalannya sendiri.
Saya masih terlalu kecil untuk memahami cara pikirnya. Kata-katanya mungkin lewat begitu saja, tidak sempat tinggal.
Yang tersisa justru yang lain: potongan-potongan keseharian, hal-hal kecil yang tidak penting, tapi bertahan. Saya masih ingat, kamarnya yang remang. Bau rokok yang menyengat, bukan sekadar asap, tapi semacam jejak yang menetap di udara. Debu di sana sini, obat nyamuk bakar hijau melingkar di lantai, pelan-pelan habis, menyisakan abu yang rapuh. Buku-buku berserakan, seperti tak pernah selesai dibaca atau mungkin tak ingin disusun. Di atas meja kerja, ada sebuah mesin tik tua. Diam, tapi terasa hidup, seolah setiap saat bisa kembali berbunyi, memecah sunyi dengan ritme yang teratur.
Lalu tikus itu.
Ia tidak diusir. Tidak dijebak. Pak Cun justru memberinya makan sedikit, secukupnya. Seolah ada kesepakatan yang sederhana: tikus itu tidak mengganggu buku-bukunya, dan sebagai gantinya, ia diberi ruang untuk hidup. Dalam logika sehari-hari, ini mungkin tampak ganjil. Tapi di situ ada sesuatu yang lain: cara melihat dunia yang tidak selalu ingin mengalahkan.
Tetapi yang paling saya ingat adalah pertanyaan dan nasihat yang ia tinggalkan.
โMengapa seseorang masuk universitas?โ
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya akan berangkat ke Australian National University untuk studi pascasarjana, ia berkata:
โYang paling penting dalam sekolah bukanlah buku teks. Buku teks di setiap universitas akan sama saja. Yang penting adalah bagaimana kamu mengembangkan pemikiran, berdiskusi, bertukar gagasan, dan belajar dari lingkungan di sekitarmu.โ
Pesan itu mengubah cara saya melihat pendidikan. Pendidikan bukan sekadar soal memperoleh pengetahuan atau gelar. Ia juga tentang memelihara rasa ingin tahu dan membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.
Puluhan tahun kemudian, saya masih memikirkan pertanyaan dan nasihat itu. Barangkali memang begitu cara seorang guru bertahan hidup: bukan dalam jawaban yang ia berikan, melainkan dalam pertanyaan yang terus menemani kita.
Disarikan dari tulisan saya untuk buku peringatan 100 tahun Asrul Sani.
Ini waktu tepat membedah buku Menachem Ali yang sempat ramai dikritik oleh @Sam_Ardi dan @Stakof. Kami penerbit Suka PRESS @UINSK menyediakan forum dengan pembanding kawakan Cak @MunimSirry. Catat tanggal dan jamnya!
Buku diskon khusus bisa dikontak: https://t.co/tZIdjEfBTb
Setelah kurikulum merdeka, pelajaran sejarah SMA/Sederajat menyusut dari 17 jp (Kurtilas) menyusut menjadi 6 jp (Kurikulum merdeka)
Berikut lembar sejarah berdarah yang hilang:
-Tread-