Idk, kalau kamu pengen meromantisasi aktivitas membaca sebagai "wow jendela dunia" atau "literasi itu penting biar ga gampang dibodoh-bodohi" tapi bacaannya ga kritis dan emang buat hiburan, ya jangan diromantisasi sebagai demikian, karena ya udah beda fungsi.
“Pembaca sekarang aneh-aneh,” kata Da Roka kepada saya kemarin. “Kok gampang banget marah kalo ada buku atau penulis dicela? Padahal, kalo kita semakin banyak baca buku, seharusnya kita tau dan sadar, bahwa sebagian besar—kalau tidak semua—buku dan penulis memang layak dicela...
TB Pelagia diminta netral dan ga melanggengkan bookshaming krn kalian pada kaget toko buku bisa punya kultur mengkurasi jualan mereka. Lucu malah kalo industri literatur dipaksa apolitis. Dikira placement dan sales Gramedia selama ini ga political hanya karena opsinya "banyak".
“To photograph people is to violate them, by seeing them as they never see themselves, by having knowledge of them that they can never have; it turns people into objects that can be symbolically possessed. "
― Susan Sontag, On Photography
aku gak sukanya booktwt mengamini ini terus-terusan. komunitas dengan bacaan yang udah lebih luas harusnya lantang mempertanyakan suatu tren, bukannya "tapi gak bisa dipungkiri" terus
@rationyan "ingat kita hidup di sistem kapitalis".
Trus kabeh kon koyo raditya dika ngono?
Sing ngeluh ki kalimat terakhirmu. Ne aku gak pingin sukses njur ngopo?
Jadi penulis di Indonesia harus:
1. Bisa branding
2. Gaul/banyak teman
3. Public speaking bagus
4. Koneksi banyak
5. Sering tampil di publik
6. Kooperatif dgn penerbit/stakeholder terkait
7. Open minded
8. Dll, silakan tambah
Makanya semua org bisa jd penulis. Kecuali PENULIS.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan kerja sama orang kaya:
- Mereka itu bisa banget ngegaji minimal UMK, tapi ga mereka lakuin, karena alasan masih UMKM dan berprinsip keluarga
- Mulanya ngegaji untuk satu bisnis, tengah jalan akan ditambah tapi gaji sama aja
- Rela keluar uang untuk pihak eksternal, tapi ke staffnya pas-pasan aja
- Kewajiban seprti BPJS ngga didaftarkan
- Bikin perusahaan cangkang atau lain, supaya omset perusahaan utama bisa diakalin
- Mereka beli barang pribadi tapi atas nama perusahaan
- Ketika perusahaan untung, pemilik dan keluarganya bisa liburan minimal ke Bali/Lombok/SG
- Tapi pas rugi karena pencatatan keuangan buruk, karyawan juga kena perampingan tanpa pesangon dan bonus-bonus lain semasa kerja
- Intinya mereka kaya kalo bukan karena eksploitasi sumber daya alam atau manusianya + koneksi dengan yang kita tau siapa dan apa
Salah satu kritik terhadap makanan Nusantara adalah menurutku:
Bagaimana rezim cenderung mempertahankan romantisme seperti misalnya Nasi Jamblang atau Nasi Lengko asal tempatku yang merupakan "makanan khas" orang sini dan dulunya sebagai bekal praktis buruh gula atau spirtus dan sudah berhenti di situ.
Lalu ada juga kebiasaan meminum air teh gula atau tanpa gula setelah makanan dan kalo dilihat secara sejarahnya, ini bukan lahir dari ruang kosong, tapi memang kondisi yang ada saat itu: surplus gula dan kelangkaan bahan hanya untuk golongan kelas ningrat, elite dan untuk kebutuhan ekspor.
Tahun berganti, tapi sikap narsisme itu tetap subur semacam sikap angkuh bahwa Indonesia itu negara besar dan kaya dgn harapan dengan sendirinya bisa tetap relevan dalam segi pemenuhan asupan gizi harian.
Kita tahu ngga sedikit negara-negara yg saat ini maju itu dulunya juga sempat melarat juga, tapi mereka mampu mengembangkan makanan tradisionalnya dengan tetap relevan agar gizi harian terpenuhi dan rakyatnya tidak kekurangan gizi/stunting.
Jepang adalah salah satu negara yang aku tahu ini, beberapa negara seperti Thailand dan Vietnam ini dua contoh yg juga sukses membawa makanan khasnya ke dalam luar batas negaranya.
Eksistensi suatu makanan itu kayanya kurang gimana gitu jika hanya bertahan karena romantismenya. Selain itu makanan itu pasti juga menyangkut lingkup kerja dan ekonomi warganya.
Maka setiap mode economy berubah dengan tren di belakangnya, apalagi kehadiran negara jarang memberikan insentif untuk pegiat kuliner, pedagang, pokoknya yang menghidupi ekosistem ini, tak heran jika makanan yg mungkin kita kenal di buku sejarah hanya sebatas katalog--bahwa ia pernah ada di sana dan kita hanya bisa membayangkannya.
Sukarno itu terkenal di Asia, Afrika, dan sebagian Eropa Timur yang punya nasib sama dengan Indonesia. Mereka kenal Sukarno karena berhasil nyatuin orang dari berbagai latar budaya, agama, dan suku buat ngelawan kolonialisme. Ali Khamenei bahkan pernah dua kali ngungkapin kekaguman ke Sukarno; pertama di biografinya, kedua di sambutan KTT GNB Tehran 2012. Nelson Mandela pun pernah bilang, 'I was inspired by Sukarno.'
Eh, ada Gen-Z hasil korban cuci otak agen orba dengan enteng bilang: 'Menurut gw kalau Soekarno hidup di jaman sekarang, beliau cuma abang-abangan FISIP yang pura-pura kiri buat deketin cewe-cewe aja.'