Gue berusaha mengurangi menonton short video setelah tahu akibatnya bisa mengubah struktur otak.
Jadi ada penelitian tahun 2025 yang melakukan MRI otak pada 111 mahasiswa untuk dilihat hubungan antara sering menonton short video dengan volume gray matter otak.
Hasilnya menunjukkan orang yang rutin menonton short video ternyata memiliki area otak yang lebih sensitif terhadap instant gratification. Penelitian ini menyebutkan bahwa perubahan struktur otak tersebut bisa semakin membuat scrolling video menjadi tidak terkendali.
Penelitian lain menunjukkan bahwa rutin menonton short video berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif serta penurunan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
Sumber:
Neuroanatomical and functional substrates of the short video addiction and its association with brain transcriptomic and cellular architecture
If you are a Marxist who is beginning graduate studies or has recently completed a PhD, be prepared for struggle.
Being a Marxist already means taking sides: the side of the majority, the oppressed. That is why Marxists generally suffer more than others.
https://t.co/TClo8Sb8nQ
Orang-orang bukan malas baca buku. Mereka dikondisikan kehabisan energi untuk cari makan. Dikondisikan mati-matian untuk bertahan hidup doang. Mereka tidak punya waktu, tidak punya energi lagi untuk merayakan hidup, bahkan sekadar membaca buku.
Read, read, read, read, read. Those who read own the world; those who immerse themselves in the Internet or watch too much television lose it. Our civilization is suffering profound wounds because of the wholesale abandonment of reading by contemporary society.
— Werner Herzog
Iran adalah salah satu korban keganasan sistem hak cipta jurnal Elsevier rancangan mata-mata Mossad, Robert Maxwell 🇮🇱.
IPTEK Iran dicekik. Akses ilmu terlalu mahal.
Tapi, rakyat Iran tidak menyerah.
Iran pun jadi negara pembajak jurnal ilmiah terbesar di bumi.
Begitu hausnya rakyat Iran akan ilmu pengetahuan, sampai-sampai tembok kolonialisme Zionis Elsevier pun dapat mereka robohkan hingga luluh lantak.
Masalah yang sama dihadapi negara-negara Muslim lainnya, yang menjerit tidak bisa membayar palakan monopoli Kolonialisme Jurnal ala VOC yang kini dikontrol Elsevier cs.
Solusinya juga sama: bajak sebanyak-banyaknya paper dari Sci-Hub.
Daripada mikirin kopdas-kopdes yang gak jelas itu, mending kita cerita tentang desa yang benar-benar bisa mengelola potensinya dengan baik.
Namanya Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Desa ini berhasil jadi salah satu desa terkaya di Karanganyar berkat pengelolaan BUMDes-nya.
Sepanjang tahun 2025 saja, BUMDes mereka mencatat pendapatan kotor sekitar Rp11,85 miliar, dengan laba bersih mencapai miliaran rupiah.
Dari pendapatan itu, desa bisa jalankan program luar biasa bernama 3SBS:
- Semua Bisa Sehat
Layanan kesehatan lebih baik, termasuk mobil siaga, pos kesehatan, jaminan kesehatan tambahan, dan bantuan biaya pengobatan.
- Semua Bisa Sarjana
Beasiswa pendidikan untuk ratusan siswa SD, SMP, SMA/SMK, hingga mahasiswa. Guru juga dapat insentif tambahan.
- Semua Bisa Sejahtera
Bantuan untuk petani, UMKM, BLT desa, THR untuk warga (misalnya Rp500 ribu per KK), bagi hasil ke RT, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat.
https://t.co/5X7sc4HNwI