Agak shock dengan cara pemerintah menggusur (membongkar?) permukiman kali ini.
Siapa yang gak kaget coba. Sore 26 Maret 2026, Presiden RI, Prabowo Subianto datang blusukan mendadak sambil bagi² uang Rp 2 juta ke warga permukiman liar di kawasan Senen tanpa dijelaskan ini uang apa.
Terus malamnya warga permukiman liar tersebut dapat surat, besok 27 Maret 2026 sudah harus pindah karena mau dibongkar. Udah kayak serangan fajar, besoknya betulan dibongkar.
Boleh dibilang ini sih jatuhnya bongkar ya bukan gusur. Kalau gusur ada diskusi dulu dengan warga, warga dikasih jangka waktu yang cukup, warga juga dikasih solusi atau tempat bakal pindah ke mana. Nah ini gak ada sama sekali.
Bung Hatta Menantang Arus: Perang Melawan Minuman Keras!
Pada suatu ketika, setelah Indonesia merdeka, Bung Hatta berkunjung ke istana di Bukittinggi. Tiba-tiba disuguhkanlah sebotol Whisky kepada khalayak di istana tersebut. Hatta datang melihat minuman keras tersebut. Bukan main murkanya.
Semua yang hadir dibentak-bentak, sehingga tidak ada yang dapat mengangkat muka. Beliau berkata: "Tidak ada satu tetes minuman keras boleh diminum ditempatku ini. Tuan-tuan boleh pergi semua dari dekatku, kalau tuan-tuan lebih menyukai minuman keras!"
Hening semua. Dan sejak itu, tidak ada lagi minuman keras mendekati istana.
(Dikutip dari Kenang-kenangan hidup Jilid IV - Buya Hamka)—
Kalau ada perempuan diatas 25 tahun belum nikah jangan ditanyain kapan nikah mulu, siapa tau dia baru mulai menata hidupnya. Baru ngerasain makan sate satu porsi tanpa dibagi untuk satu keluarga, beli baju hasil uang sendiri, traveling, baru nyenengin hidupnya 🙂
Mimpi Basah Prabowo Subianto
Prabowo Subianto mengatakan keinginannya untuk kembali melakukan retreat pada tahun 2026 mendatang, jika memungkinkan. Pernyataan itu tentu membuat saya gusar, “Apa yang sedang Prabowo cari?”. Jika ia menginginkan satu komando, tegak lurus, atau kesamaan visi misi setelah melakukan retreat, yang jadi pertanyaan: kenapa Bahlil membuat kebijakan tentang peredaran gas LPG 3 Kg yang malah membuat chaos?
Selain itu, tidak cairnya tukin dosen yang memicu aksi protes #IndonesiaGelap juga terjadi setelah adanya retreat, yang menandakan, tidak ada pengaruhnya sama sekali program retreat terhadap kinerja dan kesamaan visi-misi Menteri. Kenapa saya berani bilang demikian? Karena sampai detik ini, saya kesulitan menemukan jurnal ilmiah yang membahas hal serupa. Lantas jika tidak ada rujukan pasti terhadap program retreat terhadap kinerja maupun visi-misi Menteri, untuk apa Prabowo memaksakan program itu? Di sisi lain, program retreat menelan anggaran Rp 13 miliar rupiah di tengah pemangkasan anggaran. Apakah hal tadi masuk akal?
Berawal dari pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, membuat saya akhirnya bertanya, “Apakah ada yang salah dengan gaya kepemimpinan Prabowo?”.
Pada esai kali ini, saya akan mencoba untuk mengulas gaya kepemimpinan Prabowo dengan beberapa pendekatan teoritis, sehingga, bisa membuat publik menilai tentang sosok Presiden yang sedang memimpin negara ini hingga 2029 nanti.
-Sebuah Esai-
@realfedinuril Teramat sangat patut curiga!!
Danantara ada dalam kendali;
1, Jokowi: Finalis @OCCRP
2, Prabowo; Mr Endasmu
3, Burhanudin Abdullah: mantan koruptor dalam blacklist Panama Papers.
4, Pandu Sjahrir: Jago tipu bin pengemplang pajak terbesar keponakan LBP.
Melihat logonya Sukatani, itu sebetulnya tulisan Arab dari nama band-nya sendiri. Tetapi, saya tergelitik dengan aspek kebahasaan dari "سكتاني", yang jadi logo band-nya.
Kata tersebut memang bisa dibaca sebagai "sukatānī" alias nama band-nya sendiri, tetapi kata itu juga bisa dibaca sebagai "sakatānī", yang artinya "they (2 people/entities) silenced me", atau "mereka (2 entitas) membungkam saya".
Kebetulan sekali memang yang membungkam demokrasi kita saat ini ada 2 entitas—polisi dan pemerintah.
Mestinya grup band SUKATANI tak perlu minta maaf dan menarik lagu "Bayar Bayar Bayar" dari peredaran krn alasan pengunjuk rasa menyanyikannya saat demo (2025). Lagu tsb sdh diunggah di Spotify sblm ada unras (mnrt ChatGPT, Agustus 2023) dan "Menciptakan lagu utk kritik adl HAM".
Sepanjang gue ngikutin Bang @irwndfrry di Youtobe & Medsos, ini kayaknya yang paling emosional
Begini lho maksudnya bagaimana cara merealisasikan program dimana segala aspek harus diperhatikan terlebih dahulu, jangan asal eksekusi tanpa pertimbangan matang
Efesiensi hanya sekadar slogan, blm menyentuh hal2 yg sebenarnya patut di efesiensikan seperti tunjangan penjabat, staf khusus, pengawalan yang berlebihan, dll
Dari kualitas apapun, anda jauh lebih layak menjadi Wakil Presiden
Lirik lagu ini pakai kosakata umum: Polisi (police). Sama sekali tak menyebut polisi India, Zimbabwe, atau Kepulauan Solomon.
Di mana masalahnya?
Apa liriknya perlu ditambah:
"Mau bikin lagu, bayar polisi"?