21 TAHUN DAMAI ACEH: KENAPA DI HARI PERDAMAIAN MALAH RUSUH?
15 Agustus 2005, Aceh dan Indonesia memilih jalan damai.
15 Agustus 2026, tepat 21 tahun kemudian...
Acara memperingati perdamaian justru diwarnai kericuhan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman.
Bendera Merah Putih diturunkan, bendera bulan bintang dikibarkan, lalu terjadi bentrokan antara massa dan aparat. Bahkan hari ini Pemerintah Aceh dan DPRA sepakat kembali berkonsultasi dengan Kemendagri soal persoalan bendera tersebut.
Ironis kali, Bang.
Hari yang seharusnya mengenang berakhirnya konflik malah memperlihatkan bahwa masih ada urusan lama yang belum benar-benar selesai.
Sekarang jangan cuma kita tanya:
“Siapa yang rusuh?”
Tanya juga:
“Kenapa setelah 21 tahun, simbol-simbol masa konflik masih begitu sensitif?”
Karena masalah Aceh tidak selesai hanya dengan menghentikan tembakan.
Perdamaian itu harus melahirkan kepercayaan.
Dan kepercayaan itu dibangun dari satu hal:
kesepakatan yang dijalankan.
MoU Helsinki melahirkan berbagai pengaturan khusus bagi Aceh. Sebagian sudah berjalan, tetapi berbagai persoalan implementasi masih terus diperdebatkan.
Bahkan tokoh perdamaian Juha Christensen mengingatkan bahwa persoalan yang tersisa harus dijaga melalui saling percaya antara pemerintah pusat dan Aceh. Ia juga mengingatkan bahwa Aceh masih tertinggal dibandingkan daerah lain.
Nah, di sinilah benang merahnya.
Kalau sebuah kesepakatan damai sudah berumur 21 tahun tetapi masih banyak persoalan yang belum selesai, jangan heran kalau rasa kecewa, identitas dan memori konflik masih muncul ke permukaan.
Tapi ada satu hal yang harus jelas:
Rusuh bukan solusi.
Menurunkan Merah Putih bukan cara menyelesaikan persoalan.
Melempar aparat bukan cara menuntaskan MoU.
Dan menghidupkan kembali kekerasan bukan jalan bagi Aceh.
Kalau ada masalah, buka meja dialog.
Kalau ada butir yang mandek, buka MoU.
Kalau ada aturan yang tidak berjalan, perbaiki aturan.
Kalau ada perbedaan tafsir, duduk bersama dan selesaikan.
Dan kalau setelah semua jalan konstitusional ditempuh masih ada perdebatan tentang masa depan hubungan Aceh dengan Indonesia, maka referendum atau federalisme boleh menjadi bahan diskusi politik dan akademik secara damai—bukan dengan senjata, bukan dengan kerusuhan, dan bukan dengan memaksakan kehendak.
Karena membicarakan masa depan politik tidak sama dengan mengajak perang.
Yang berbahaya justru kalau semua pertanyaan rakyat dianggap ancaman.
21 tahun lalu, perdamaian lahir karena dua pihak mau duduk dan berbicara.
Maka kalau hari ini masih ada persoalan, jangan pulak kita kembali ke jalan yang dulu.
Kita kembali ke meja.
Buka lagi kesepakatannya.
Bicarakan lagi yang mandek.
Evaluasi yang tidak jalan.
Dan pastikan rakyat Aceh benar-benar merasakan hasil perdamaian.
Sebab damai bukan hanya
Tidak ada perang.
Damai adalah ketika rakyat merasa:
didengar, dihargai, diperlakukan adil, dan kesepakatan benar-benar ditepati.
Kalau itu semua berjalan, Aceh akan tetap damai.
Tapi kalau masalah dibiarkan menumpuk selama puluhan tahun.
jangan heran kalau suatu hari pertanyaan tentang masa depan Aceh kembali ramai dibicarakan.
Bukan dengan senjata.
Dengan suara rakyat.
Dengan dialog.
Dengan demokrasi.
Dengan hukum.
Itulah cara kita menjaga damai.
Karena damai Aceh jangan cuma diperingati setiap 15 Agustus.
Damai Aceh harus dirasakan setiap hari.
#21TahunDamaiAceh
#MoUHelsinki
#AcehBicara
#DamaiDenganKeadilan
#ImplementasiMoU
#Aceh
Ini adalah harapan sebahagian besar masyarakat Aceh, bintang bulan berkibar sebagai mana dalam butir mou helsinki, tak perlu menunggu 21 tahun lagi untuk merealisasikan semua butir² dari mou tersebut
Hanaya do'a bersama untuk memperbaiki bangsa tang telah rusak kronis,dan memperingati 21 Tahun Damai aceh, knp dihalang halangi wak.
Kami bukan minta merdeka bukan nak pisah pula dari negara yang pejabatnya babi ngepet perusak negara.
Kami hanya memohon doa supaya babi ngepet perusak bangsa itu digilas oleh tronton
Lawan Ganasnya Penyakit, Tetap Jadi Anak-Anak 💪❤️
Nampak kali anak ni makan pakai selang dari hidungnya. Berat kali perjuangannya, melawan penyakit yang tak nampak ganasnya.
Tapi lihatlah… dia tetap bermain sama kawannya. 😢❤️
Kalau anak lain sibuk mikirin mainan, dia mungkin sibuk melawan rasa sakit. Tapi semangatnya jangan ditanya, kuat kali dia!
“Penyakit boleh menyerang badan, tapi jangan sampai merampas semangat seorang anak.”
Semoga lekas sehat, dek. Jangan kalah sama penyakitmu. Kau masih punya banyak permainan, banyak tawa, dan banyak hari indah di depan sana. ❤️🙏
#SemangatAnak #PejuangKecil #LawanPenyakit #AnakHebat #MedanStyle #SemogaLekasSembuh
@Goo9le_Fiv3 Ya indonesia kaya tapi sejak dipimpin jokotingkir gurunya mbah wowo jadi suram, dan sampai diwariskan ke kacungnya jokowi malah lebih suram, kami ingin negara baru saja gimana wo