Bagi kelas menengah Jakarta, Uniqlo adalah tanda kesetaraan. Dan setelah brand Jepang tersebut melantai di Plaza Indonesia, saya kira tinggal 2 mal eksklusif di Jakarta: Pacific Place dan Plaza Senayan.
Ungkapan Gemi, Nastiti, Ngati-ati yang disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada acara Jogja Financial Festival 2026 bukan sekadar ajakan hidup sederhana, tapi menjadi prinsip kepemimpinan dan tata kehidupan masyarakat Jawa.
#PemdaDIY#HumasJogja
Semoga kasus ini tidak di-Tom Lembong-kan. Nadiem jika merasa benar harus berjuang sampai tingkat akhir peradilan. Agar semua jelas dan polarisasi masyarakat selesai.
1/
Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa diseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi.
Saya menyaksikan sebagian proses itu dari dekat.
Nyobain kereta lokal dari Rangkas-Merak. Ini pertama kali lagi naik kereta ketemu dengkul seperti ini setelah setelah 2012. Dulu pernah naik Progo dari Jakarta-Jogja, di tengah jalan mogok agak lama. Sejak saat itu saya mending nabung buat naik kereta bisnis kalau jarak jauh 🥲
Titi DJ lagi menuai pro kontra usai memuji Vedra lebih bagus nyanyinya dibandingkan Lyodra,
Vedra, peserta "The Icon Indonesia" dapat pujian dari para juri saat nyanyi lagu "Sang Dewi",
Titi DJ bilang, "Saya pikir, tidak ada lagi yg lebih bagus dari Lyodra menyanyikannya, tapi ternyata malam ini dipatahkan, ternyata ada yg lebih bagus dari Lyodra."
Netizen pro kontra karna ngerasa memuji seseorang gak harus dengan menjatuhkan penyanyi lain.
Senang banget sekarang kemasan baru, lebih travel-friendly. Sudah bertahun-tahun pakai lotion ini dan sangat cocok buat tipe kulit seperti saya yang sangat sensitif dan rawan eksim. Langsung checkout aja di sini https://t.co/o3XRlGCIZT
Bintang 5 untuk toilet Dufan. Sangat bersih padahal weekend banyak pengunjung. Perlu dicontoh oleh pengelola tempat publik lainnya terutama tempat wisata. Good job.
Menkeu berkali-kali sampaikan bahwa kita bisa lepas dari kutukan pertumbuhan 5% dan menuju lebih tinggi jika pemerintah dan swasta sama-sama produktif. Q1 buktikan belanja pemerintah dan konsumsi RT mendorong pertumbuhan. Pemerintah akan fokus mendorong belanja swasta pada Q2
Guys, BPS baru merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia Q1 2026 dan angkanya mengejutkan banyak orang.
5,61 persen year-on-year. Melampaui ekspektasi konsensus yang hanya 5,4 persen.
Tapi tunggu dulu sebelum ikut-ikutan tepuk tangan. Karena kalau dibaca lebih dalam datanya justru menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekedar angka yang kelihatannya bagus.
Mulai dari yang paling mencolok di slide BPS ini.
Konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen year-on-year.
Itu adalah angka yang sangat tidak normal.
Untuk konteks konsumsi rumah tangga yang merupakan 54 persen dari PDB hanya tumbuh 5,52 persen.
PMTB atau investasi tumbuh 5,96 persen. Ekspor hanya tumbuh 0,90 persen.
Tapi konsumsi pemerintah meledak 21,81 persen.
Dan BPS sendiri dalam slidenya secara eksplisit menjelaskan apa yang mendorong angka itu gaji ke-14 alias THR pegawai negeri dan belanja barang yang diserahkan ke masyarakat melalui program Makan Bergizi Gratis.
Ini adalah pertanyaan yang paling penting dan paling jarang ditanyakan dengan jujur.
Kalau pertumbuhan ekonomi kita di Q1 2026 sangat bergantung pada konsumsi pemerintah yang naik 21 persen lebih dan konsumsi pemerintah itu didorong oleh THR PNS dan MBG maka pertumbuhan itu bukan pertumbuhan organik dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Itu adalah pertumbuhan yang dibiayai oleh pengeluaran negara yang luar biasa besar.
Dan kita sudah tahu kondisi fiskalnya.
Subsidi energi sudah jebol 266 persen dari target dalam tiga bulan.
Rupiah di Rp17.4400 level terlemah sepanjang sejarah.
Dua Dirjen Kemenkeu baru dicopot karena data restitusi pajak yang salah senilai Rp25 triliun. Dan Menkeu sendiri mengaku tidak tahu detail skema pembiayaan Kopdes Merah Putih.
Dalam kondisi fiskal seperti itu pengeluaran pemerintah naik 21,81 persen.
Uangnya dari mana?
Soal validitas data BPS dan pertanyaan apakah angkanya mencerminkan kondisi nyata di lapangan ini adalah perdebatan yang sangat sah untuk diangkat.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan kritis.
Pertama MBG masuk sebagai komponen konsumsi pemerintah yang menaikkan angka PDB.
Tapi MBG sendiri sudah banyak dilaporkan bermasalah di lapangan keracunan massal di berbagai daerah dari Sumatera sampai Jawa sampai Sulawesi yang sudah lebih dari 6.000 kasus,
kualitas makanan yang tidak sesuai standar gizi yang dijanjikan, pembelian motor listrik senilai Rp1,2 triliun yang tidak ada kaitannya dengan program makan anak, dan survei Policy Research Center yang menemukan hanya 6,5 persen yang merasakan manfaatnya sampai ke anak secara signifikan.
Tapi di data PDB angka itu tetap tercatat sebagai pengeluaran pemerintah yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Apakah itu benar secara teknis statistik?
Ya benar.
Tapi apakah itu mencerminkan peningkatan kesejahteraan nyata rakyat?
Itu pertanyaan yang jawabannya jauh lebih kompleks.
Kedua ada satu angka di slide ini yang sangat mencurigakan dan hampir tidak ada yang membahasnya impor negatif 20,29 persen dalam distribusi.
Impor yang berkontribusi negatif sangat besar terhadap PDB.
Ini bisa berarti impor turun drastis yang bisa jadi refleksi dari daya beli yang melemah di sisi konsumsi barang-barang impor atau bisa juga refleksi dari aktivitas industri yang melambat sehingga impor bahan baku turun.
Kalau impor bahan baku turun karena industri melambat maka pertumbuhan ekonomi yang kelihatannya bagus di atas kertas bisa menjadi alarm bahwa mesin produksi kita sedang tidak berputar dengan sehat.
Pertanyaan yang perlu diajukan kepada BPS dan pemerintah adalah satu yang sangat sederhana.
Pertumbuhan 5,61 persen ini datangnya dari mana dan berkelanjutan tidak?
Kalau pertumbuhan ini sangat bergantung pada konsumsi pemerintah yang melonjak 21 persen maka di Q2 dan Q3 ketika belanja pemerintah kembali ke level normal dan anggaran makin tertekan apakah pertumbuhan ini akan bertahan?
Ferry Latuhihin sudah mengingatkan ini jauh-jauh hari impoverishing growth.
Ekonomi bisa tumbuh secara statistik sementara kelas menengah menyusut 10 juta orang.
Kedua hal itu bisa terjadi bersamaan dan itulah yang sedang kita saksikan.
5,61 persen itu angka yang bagus di kertas. Tidak perlu dibantah.
Tapi konteksnya perlu dipahami dengan utuh. Pertumbuhan yang didorong oleh pengeluaran pemerintah yang tidak sustainable dalam kondisi fiskal yang sedang berdarah-darah bukanlah pertumbuhan yang bisa dirayakan terlalu keras.
Yang perlu dirayakan adalah ketika konsumsi rumah tangga tumbuh bukan karena disubsidi MBG tapi karena penghasilan riil masyarakat naik dan lapangan kerja berkualitas tersedia lebih banyak.
Dan data itu belum ada.
Check-out baju keren ini di https://t.co/IxXY20XSQg
Sejak beli baju ini gak pusing lagi mikirin seragam buat hari Selasa dan Rabu. Kebetulan tahun ini seragam kantor untuk Selasa temanya baby blue, dan Rabu bertema khaki. Jadi bisa dipakai hari Selasa or Rabu, or keduanya? 🤣