1997. Mengalir dalam darahnya sebentuk angkara yang diam-diam mengikis kewarasan. Hingga ia lupa cara merasa. Hingga yang ia kenal hanya getir di ujung lidah.
ㅤ
ia tetap melakukan manuver parkir, lalu melepas sabuk pengamannya begitu mobil benar-benar berhenti. “Gue sering lewat nih, tapi belom pernah coba. Kayaknya baru, ya.” @expresseud
ㅤ
ㅤ
lantai bawah, dan bernuansa gelap di bagian atas. Kafe itu tidak sepi—sepertinya laku keras—tetapi juga tidak sampai penuh sesak hingga berdesakan dan perlu mengantre panjang.
“Bener di sini, ‘kan?” tanya Kairav sembari menoleh ke arah Ezra. Kendati bertanya demikian,
ㅤ
ㅤ
sabuk pengaman, pintu bagian penumpang tetap ia bukakan dari arah dalam.
“Jadi, ini mau ke mana?” tanya Kairav kemudian sembari memasang sabuk, menghidupkan mesin mobil, lalu membuka peta elektronik di ponselnya sebagai pengarah jalan. “Udah nentuin, ‘kan?” @expresseud
ㅤ
ㅤ
“Perlu gue bukain pintu, gak?” Jelas, tanya itu hanya ia utarakan untuk menggoda sosok satunya, sebab tak lama ia sudah membuka pintu bagian kemudi dan langsung masuk tanpa membukakan pintu untuk Ezra.
Setidaknya, tidak dari luar, karena sebelum ia mengenakan
ㅤ
ㅤ
Sambil meraih jaketnya, ia membalas pesan itu.
iMessage — Ezra
Kairav: Cepet amat
Kairav: Bentar
Sesudah itu, ia segera beranjak keluar sambil memasukkan ponselnya secara asal ke saku.
“Mana kunci?” Tanpa basa-basi menyapa pemuda yang lebih kecil,
ㅤ