GUYSS... TERNYATA OBAT CINA TUH BANYAK YANG AMPUH DAN SELALU DICARI ORANG ‼️
Catetttt📝
1. Li liang : diabetes, kencing manis, Hipertensi
2. Zhi wu : asam urat, nyeri sendi
3. Fufang : demam, badan lemas, trombosit
4. Zhiyang : gatal, alergi
5. Chang Seuw Tian: kanker, tumor,, miom, kista
6. Angkung Premium : saraf, stroke, kejang.
7. Die Da Yao Jing : luka, memar, keseleo, bekas jatuh.
8. Pi Kang Suang : Gatal, Jamur, Eksim
Aku tahu bgt harga buku terhitung mahal krn banyak faktor, tapi jgn sampai bikin kamu konsumsi bajakan ya.
Aku dan @bukugpu mau bagi-bagi 10 voucher Gramedia 100 rb buat 10 orang.
Caranya:
1. Follow aku dan @bukugpu
2. Reply tweet ini dgn alasan knp kamu suka baca.
GAS!
Karena MU abis menang, dan hari ini gue full senyum, gue mau bagi-bagi THR giveaway image IPhone 13 Pro 256gb buat salah satu dari lo yang ngeliat postingan ini, syaratnya cuma komen dan retweet aja, tambahin like juga boleh, gue umumin pemenangnya besok malam.
Semoga beruntung ❤️
Upeti Kolonial di Tanah Merdeka
Kita ini bangsa yang lucu. Katanya sudah merdeka delapan puluh tahun lebih, tapi urusan tanah masih pakai mentalitas pesuruh. Postingan Pak Susno Duadji tempo hari bukan sekadar curhat pensiunan. Itu tamparan buat ahli hukum yang hanya baca teks tanpa rasa. Beliau bertanya, kenapa rumah sendiri dipajaki tiap tahun? Logikanya di mana? Pertanyaan sederhana ini membuat pusing birokrat pajak.
Hari ini, 29 Januari 2026, kita makin canggih dengan sertifikat tanah elektronik, tapi mentalitasnya masih zaman Daendels. PBB sebenarnya hantu kolonial. Dulu Belanda menciptakan Grondbelasting karena menganggap seluruh tanah milik Ratu; kita hanya numpang. Setelah merdeka, logika itu malah diteruskan. Negara jadi tuan tanah besar, kita cuma penyewa abadi?
Coba pikir pakai logika siput. Siput bawa rumahnya ke mana-mana, berat, tapi tak perlu bayar pajak rumput ke pemilik taman. Kita lebih repot: beli tanah pakai uang yang sudah kena PPh, bangun rumah pakai semen kena PPN, lalu tiap tahun ditagih PBB. Telat kena denda, lama tak bayar rumah disita. Ini lintah fiskal berbaju rapi. Katanya untuk keamanan? Keamanan yang mana? Pagar kita bangun sendiri, satpam kompleks kita patungan. Saat sengketa, negara kadang bingung sendiri. Jadi PBB untuk apa? Sertifikat SHM kan bukti kepemilikan mutlak, bukan kartu langganan sewa.
Pasal 28H UUD 1945 menjanjikan hak milik pribadi tak boleh diambil sewenang-wenang. Tapi apa gunanya kalau NJOP naik ugal-ugalan tiap tahun? Di Jakarta, banyak pensiunan terusir pelan-pelan dari rumah warisan, bukan digusur preman, melainkan tak sanggup bayar PBB. Ini gentrifikasi legal. Negara memaksa rakyat jadi miskin di atas tanahnya sendiri yang tiba-tiba dianggap mewah. Aparat pajak hanya lihat angka, tak lihat isi dompet. Mereka seperti burung pemakan bangkai yang menunggu NJOP naik untuk tambah target APBD. Padahal Pasal 33 amanatnya kemakmuran rakyat, bukan memeras rakyat yang hanya punya satu atap.
Hukum nasional kita seperti jerapah: leher tegak ke langit konstitusi, tapi kaki terjebak lumpur aturan kompeni. Kita butuh keberanian menyatakan: hunian pertama untuk hidup tak boleh jadi objek pajak. Itu hak asasi, bukan mesin ATM pemda. Kalau negara ngotot menarik PBB untuk rumah tinggal satu-satunya, jangan marah kalau rakyat bertanya: ini negara atau kompeni berbaju batik?
Jangan sampai kemerdekaan hanya seremonial upacara, sementara di dalam rumah kita masih budak pajak di atas tanah yang katanya milik nenek moyang. Mau sampai kapan kita pelihara logika penjajah ini?
Penderitaan tak berhenti di PBB tahunan. Bayangkan orang tua meninggal, anak-anak berduka, eh negara datang bawa tagihan: BPHTB waris. Rumah yang dibangun dengan keringat orang tua itu, saat mau pindah nama ke anak, harus ditebus lagi ke negara. Padahal bukan jual beli, melainkan perpindahan kasih sayang dalam bentuk aset. Belum lagi biaya notaris atau PPAT yang bikin jebol kantong, plus bea balik nama. Semua minta jatah. Anak seolah harus “membeli kembali” haknya dari negara dan birokrasi. Tak punya uang, sertifikat tak turun, tanah jadi sengketa atau telantar. Negara bukannya melindungi, malah menghambat keadilan keluarga.
Sistem pajak kita seperti lintah yang menempel di sertifikat tanah rakyat. Beli tanah kena PPh, bangun rumah kena PPN, tiap tahun PBB, pas mati anak dipalak pajak waris. Sertifikat SHM bukti kepemilikan mutlak, bukan kartu langganan sewa bulanan.
Pasal 28H UUD 1945 janji manis, tapi NJOP naik ugal-ugalan dan pajak waris mencekik ahli waris. Banyak keluarga terusir pelan-pelan dari rumah warisan karena tak sanggup bayar biaya legal tak masuk akal. Ini gentrifikasi legal. Aparat pajak seperti burung nazar menunggu kematian pemilik tanah untuk tambah target APBD lewat pajak waris. Padahal Pasal 33 untuk kemakmuran rakyat, bukan memeras rakyat yang hanya ingin tinggal di rumah peninggalan bapaknya.
Kita butuh keberanian bilang: hunian pertama dan warisan untuk hidup tak boleh jadi objek pajak. Itu hak asasi, bukan mesin ATM pemerintah daerah. Kalau negara ngotot narik PBB dan BPHTB waris untuk rumah tinggal satu-satunya, jangan marah kalau rakyat bertanya: ini negara atau kompeni berbaju batik?
Hukum harusnya membebaskan, bukan membuat rakyat merasa asing di rumahnya sendiri. Mau sampai kapan kita pelihara logika penjajah ini?
@jokowi@prabowo@aniesbaswedan@ridwankamil@sandiuno@ganjarpranowo@SBYudhoyono@fadlizon@Fahrihamzah@susipudjiastuti@mohmahfudmd@basuki_btp@DediMulyadi71@Metro_TV@tvOneNews@kompascom@mediaindonesia@tempo@detikcom@CNNIndonesia@GeiszChalifah@DokterTifa@msaid_didu@sudirmansaid
Guys, jadi minggu depan aku udah ga kerja nih krn terkena layoff. Jadi selagi nunggu panggilan kerja yg lain, misal ada yg butuh jasa seperti antar jemput di stasiun, belanja, nemenin jalan kemana aku ready ya.
Bisa DM aja kalo dari kalian butuh jasa aku. Jogja only 🙏✌
BERITA DUKA
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, sudah terkonfirmasi bahwa Juru Bicara H, Mang Obed memang benar telah syahid bersama keluarganya akibat pengeboman Zionis.
Ini adalah pukulan keras bagi kita semua. Mari kita berdoa dan mengirimkan salat gaib untuk Beliau.
Kadang perlu menyerang utk bisa bertahan, apalagi kondisinya diserang duluan. Perang itu diperlukan utk menjaga perdamaian, krn selama ini tdk ada yg mengimbangi Sarewel, mendoakan Ir-an bisa membela diri dan memberi pelajaran kpd-nya. Genosida Gaza sdh nyata, dan dikecam dunia.
Kepada seluruh laskar Julid Fi Sabilillah!
Lembaga amal Zionis jahanam satu ini tengah menggalang dana dan dukungan, narasinya, "Will you Stand with God's chosen people?"
Benar-benar menjijikkan!
Waktu dan tempat dipersilakan. 👍
Pada akhirnya, semua akan terlupakan. Dalam hitungan beberapa generasi, tak ada lagi yang mengingat nama kita, perjuangan kita, keberhasilan kita, bahkan luka-luka kita.
Segala hal yang kini terasa begitu penting akan sirna, lenyap tanpa bekas.
Jadi, untuk apa kita habiskan waktu berharga dengan menganggap segalanya terlalu serius?
Mengapa teramat peduli pada pandangan orang?
Mengapa gelisah oleh perkara remeh?
Mengapa kita biarkan diri dihantui kesalahan yang kelak tak diingat oleh siapa pun?
Renungkanlah.
Kita hidup hanya sementara, di sebuah titik kecil bernama Bumi, melayang-layang mengikuti Matahari di tengah semesta yang entah di mana ujungnya.
Bencana terbesar kita, bahkan aib yang paling kita takuti, semuanya tak akan tercatat dalam peta agung kehidupan.
Daripada menambah luka pada diri sendiri, pergilah, temukan sedikit kebahagiaan.
Daripada hanyut dalam pikiran yang tak berujung, hadapilah dunia, rasakan pengalaman baru.
Daripada sibuk menjaga citra, lebih baik ukirlah kenangan yang memang pantas dikenang.
Hidup ini benar-benar terlalu singkat, terlalu fana, untuk dijalani dengan wajah tegang dan hati yang sempit.
Masalah kita tak seberat yang kita kira, Kesalahan kita tak sedalam yang kita takutkan.
Overthinking memicu stres kronis.
Stres kronis mencetuskan atau memperparah apa pun penyakit yang ada di tubuh kita.
Lepaskan beban itu, tersenyumlah.
Ciptakan momen-momen yang membuat hati hangat.
Berdamailah dengan ketidaksempurnaan diri.
Tak seorang pun akan mengingat semuanya. Dan justru karena itulah, nikmatilah perjalanan kita ini sepenuh hati.
Gila. Ternyata yg bikin Trump mendadak tunda kebijakan tarif krn JEPANG. Bukan China.
Tiga hari ini Jepang jual obligasi USA yg dipegangnya scara besar2an.
Harga obligasi USA terjun bebas.
Trump langsung nyerah.
Tebasan Samurai dalam Keheningan Malam.