I believe the opposite.
As your wealth increases, I think you should dress a certain way and buy certain things, as doing so employs tailors, artists, and craftspeople. These trades are dying from a lack of patronage.
In the past, these trades flourished under wealthy patrons who valued beauty and craftsmanship, sometimes producing things that benefited the broader public, such as creating beautiful libraries and museums. Today's elites seem more interested in optimizing their health and wealth, pursuits largely confined to themselves.
A tailor who makes clothes for wealthy clients has a steady stream of income. In doing so, they can also take on side projects, such as making clothes for films and theatre. Without the first, they risk going out of business, and the public consequently suffers.
@_n0t4lfiaccount Iya dibawah supco. Udah jadi sawit yg lainnya. Ptpn 2 ini wilayahnya banyak yg masuk jadi kota medan dan suburbnya jadi banyak hilang lahannya
@_King_EEE@WB_Baskerville You think bank would just let that money sit? They'll invest that money. Your trillion bazillion dollar money would recirculate to the whole world economy
@nonmanutdfans@jasukeluhur Chinese di sumatra secara umum ga terlalu lancar bahasa daerah. Bahasa Indonesia lancar, bahasa daerah engga. Mereka secara umum masih lancar bahasa lokal cina, baik hokkian maupun hakka
Like many bad cuisines, if you stick to the rice, the relishes, and the soups, it's tolerable. But they don't know how to cook proteins, and as soon as the sambal and soup are gone, it's not worth eating.
@JoMalonteLondon@kokasboi Ya kalau bandingannya dengan eropa tentu gak selevel. Tapi tahun 1600an akhir Siam sudah bisa perang dan berhasil mengusir Prancis dari bentengnya di tepi sungai Chao Phraya sehingga Prancis angkat kaki total.
@JoMalonteLondon@kokasboi Tapi secara militer Siam memang cukup kuat. Laos, Kamboja dan Kerajaan2 Melayu itu daerah jajaran Siam. Hobinya perang lawan Burma. Sering juga perang lawan Dai Viet, bahkan bisa bantu pangeran Viet naik tahta.
Bayangkan keluarga punya penghasilan Rp10 juta sebulan. Tapi karena punya banyak utang, sekarang mereka harus membayar cicilan dan bunga Rp4,9 juta setiap bulan.
Berarti dari Rp10 juta yang masuk:
Rp4,9 juta → bayar utang
Rp5,1 juta → baru bisa dipakai untuk hidup
Memang, keluarga itu masih punya rumah dan aset. Utangnya juga belum melewati batas yang dianggap berbahaya.
Tapi masalahnya, kalau utangnya setiap tahun bertambah lebih cepat daripada penghasilannya, lama-lama cicilannya makin berat.
Nah, itu yang dimaksud ekonom ini ketika mengatakan utang tumbuh lebih cepat daripada ekonomi. Jadi masalahnya bukan sekadar “utang sudah melewati 60% atau belum”. Angka 60% terhadap PDB itu seperti batas maksimal yang dipakai untuk melihat apakah beban utang masih dalam batas tertentu.
Tapi belum melewati 60% bukan berarti otomatis sehat, mestinya menghemat, namun tetap produktif.
Kalau misalnya jadi pegawai, bukan cuma soal “utang kita masih di bawah batas.” Yang lebih penting,“gaji kita naik seberapa cepat dibanding cicilan kita?”
Kalau cicilan naik lebih cepat daripada gaji, meskipun cicilan belum 60% dari gaji, tetap saja lama-lama kita bisa kesulitan bernapas. Apalagi kalau penghasilannya yg tinggal separuhnya utk foya-foya, pasti lebih cepat lagi koit.
Begitu ya?