Tuntutan mahasiswa kadang memang kurang mudah dipahami atau musah dikomunikasikan ke publik awam, sehingga mudah dipelintir.
Di situ apa yang disampaikan Mbak Anggota DPRD inj ada benarnya,bahwa mahasiswa memang perlu menjelaskan “menolak apa, dan menawarkan apa” di dalam demonstrasi mereka.
Tapi menurut saya, oal MBG, mahasiswa umumnya tidak menolak ide memberi makan anak miskin.
Yang ditolak adalah desain dan prioritas anggarannya.
Program ini menyedot puluhan triliun per tahun, sementara kasus keracunan massal terjadi berulang di banyak daerah, ada dugaan korupsi (harus saya sebut "dugaan" dulu ya) di rantai pengadaan, dan dana pendidikan serta kesehatan justru dipangkas atau ditahan untuk membiayainya.
Maka, menolak MBG versi sekarang itu bukannya membenci orang miskin. Itu seperti bilang “saya menolak rumah yang fondasinya buruk”, bukannya “saya menolak rumah”.
Lagi pula, perbaikan gizi lewat posyandu lebih tepat sasaran dan lebih murah dari memasak jutaan porsi tiap hari.
Tanya saja pakar. Bandingkan dengan kajian soal MBG. Mana yang lebih saintifik?
Soal Pertamax, ini salah kaprah yang paling sering dipakai untuk memframing mahasiswa sebagai pembela orang kaya.
Pertamax (RON 92) memang lebih banyak dipakai mobil pribadi. Saya salah satu pemakainya. Dua motor saya, dan satu mobil LCGC milik istri, tak pernah nenggak selain Pertamax.
Tapi jelas saya bukan orang kaya.
Yang sebenarnya jadi isu dalam banyak demonstrasi adalah subsidi yang salah sasaran, transparansi tata kelola Pertamina, dan kebijakan energi secara keseluruhan, bukan “tolong jangan naikkan harga BBM orang kaya”.
Salah, itu.
Makanya, ada strawman dalam menyederhanakan tuntutan kompleks menjadi “mahasiswa belain pemilik mobil”.
Kenapa disebut strawman?
Karena postingan ini memakai teknik klasik, menempelkan motif terburuk pada lawan (seperti “kalian sengaja menyakiti orang miskin demi orang kaya”) supaya substansi kritik mahasiswa yang demo tidak perlu dijawab.
Padahal kritik mahasiswa hampir selalu soal akuntabilitas, prioritas anggaran, dan tata kelola, bukan soal benci-bencian kelas.
Lagian, yang bikin postingan hampir pasti bukan orang yang terusik dengan bunyi token listrik yang hampir habis.