JOKOWI DAN AROMA TUAK
Saya ingat di tahun 2018, seseorang memaki Jokowi. Kata-katanya tidak estetik. Kotor dan tak beradab. Dia tidak kenal saya, Jokowi juga tidak mengenal saya dan dia, dan saya tidak mengenal keduanya. Tapi setiap cacian berkarat yang ditikamkan kepada Jokowi, perihnya terasa di sini. Saya melawan, berdebat dan mengumpatnya demi Jokowi.
Jokowi ketika itu bagi saya adalah berhala. Dia berselimut kebenaran yang selalu terhindar dari kesalahan. Jokowi "Neo Ma'sum" era milenia. Bahkan melihat dia memakai kaus kaki di undakan masjid, hati ini rasanya teriris. Melihat dia berbahasa Inggris dengan "pronunciation" berantakan, kita tetap bangga minta ampun.
Rasa suka kadang merampas akal sehat. Ada kejanggalan yang membuat kita malas bertanya dan ada kesalahan yang selalu dimaklumi. Bahkan seringkali terjadi pemaksaan estetika yang tidak pada tempatnya. Saya selalu memaksa Jokowi sempurna. Flawless! Jika tidak setuju dengan anggapan ini, siapapun akan jadi seteru.
Tapi kemudian manusia tetap manusia. Kadang kita semua lupa bahwa kejahatan dan kebaikan tak selalu bertutur terbuka. Gestur bisa ditutupi, tapi moral dan tabiat seringkali tak sanggup sembunyi.
Lalu semua terkuak satu persatu. Setiap manusia yang "diberhalakan" adalah "Nobelized Evil". Jokowi ternyata bagian dari sejarah penguasa dunia yang malas beringsut. Hari ini telanjang bulat di depan etalase politik kita bahwa kata-katanya adalah tuak. Semua lagaknya sekedar sulap. Dia, laksana Machiavelli berjubah malaikat.[]
@islah_bahrawi Transparansi dana bansosnya perlu dikedepankan…selain kekhawatiran akan pemberian bansos untuk politasasi kampanye paslon, juga dikhawatirkan penyalahgunaan dananya untuk penyaluran dana kampanye paslon..
Tentang Anies; Boni Hargens Keok Di Live TikTok
Boni Hargen orang NTT. Saya pun 100% orang NTT tulen. Kami beda pulau. Dia dari pulau Flores, saya pulau Pantar-Alor.
Sejak dulu, saya kagum pada karaeng Boni, karena ada orang NTT yang otaknya seencer dia. Pikirannya dan logika diskusinya apik. Dia seorang akademisi—dulunya. Entah sekarang?
Nyanda sangka, bang Boni punya akun TikTok. Malam ini bang Boni live di TokTok. Tentu terkaget-kagetlah saya, orang sesibuk Boni, masih demen main TikTok. Apa karena Ganjar seleb TikTok, hingga bang Boni terinspirasi. Entahlah…
Tadinya saya lewati saja live itu. Cuma saya balik lagi. Penasaran. Ternyata mereka lagi bahas Pilpres 2024. Seru pula tema diskusinya.
Sekitar 5 sampai 10 menit; saya simak live TikTok itu. Dan tampaknya bang Boni sudah memasang barrier to entry dalam dirinya, bahwa hanya Ganjar dan Prabowo Capres yang bisa membangun Indonesia. Anies? Nehi !
Berbagai argumen dikokohkan bang Boni untuk menegasi Anies. Mulai dari soal radikalisme, intoleran, khilafah, komitmen Anies terkait kontinuitas pembangunan yang digagas Jokowi, sumur resapan DKI, DP rumah Nol Rp, intoleransi dan soal Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
Saya lupa nama lawan debat bang Boni, tapi fotonya sempat saya capture. Tapi sparring partner Boni kali ini lumayan encer otaknya. Datanya pun lengkap. Malah dia tantang Boni adu-adu data. Bang Boni hanya mengernyitkan kening.
Satu persatu dia koyak argumen karaeng Boni tentang Anies. Pertama, soal sumur resapan yang dibangun era Anies. Menurutnya, sumur resapan itu bermanfaat bagi pengurangan debit air di permukaan. Ini sudah diuji coba para ahli di ITB.
“Silahkan bang Boni cek, sejak Anies gubernur DKI, banjir jakarta tak separah era Jokowi dan Ahok. Era Jokowi dan Ahok, Banjir di bundaran HI naik hingga menyentuh selangkangan, sungguh.”
Ada benar juga si abang ini. Dari data https://t.co/P34qpRnmur, jumlah RW tergenang di DKI menurun dari 390 RW pada tahun 2018 menjadi 290 RW pada tahun 2019 dan 169 RW pada tahun 2020 dan terus menurun di tahun 2022.
Waktu surut >95% genangan juga menurun dari 72 jam pada tahun 2018 menjadi 48 jam pada tahun 2019 dan 24 jam pada tahun 2020. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kinerja penanganan banjir di Jakarta. Jadi ada data keberhasilan penanganan banjir di Jakarta era Anies. Terkecuali data-data ini tak ada sama sekali.
Kedua, soal intoleran? Emang ada konflik dan kekerasan horizontal atas nama agama dan etnis selama Anies gubernur DKI? Kasi datanya, mana, hayo lo? Ternyata tidak ada toh? Di era Anies, ia banyak memberikan izin bangun rumah ibadah, agama apapun.
Menyalurkan bantuan senilai Rp 11 miliar bagi tempat ibadah seluruh agama di wilayah Jakarta dan sekitarnya selama 2022, termasuk 65 gereja. Program Bantuan Operasional Tempat Ibadah (BOTI) Rp.2 juta/bulan ke semua rumah ibadah di DKI.
Ketiga, soal khilafah, ah, itu diskusi lumrah orang-orang kampus. Sebagaimana orang diskusi, ada yang bela komunisme, liberalism hingga ateisme. Jadi tak ada hal pelik. Orang bicara khilafah, itu imajinasi orang yang melekat pada sistem nilai yang ia yakini. Masa orang berimajinasi kaga boleh?
Di Indonesia ini, mega peristiwa yang sungguh-sungguh serius dan berdarah dalam merongrong ideologi bangsa (pasca merdeka) adalah PKI. Umat Islam itu sejak dulu sudah legowo dalam common sense tentang keindonesiaan.
Keempat, soal IKN? Itukan sudah diundangkan. Jadi kalau Anies jadi presiden, konsekuensinya ia lanjutkan pembangunan IKN. Terkecuali ada amandemen terhadap UU dimaksud. Tapi selagi itu mendemokratisasikan pembangunan di Indonesia, kenapa tidak? Asalkan dompet negara mampu saja.
Kelima, soal KCJB? Nah itu yang perlu dicermati secara seksama. Karena skema pembiyaannya bermasalah. Apalagi sekarang APBN tersandera oleh perubahan skema pembiyaan KCJB.
Tak seperti janji Jokowi sebelumnya, kalau KCJB ini murni public private partnership (PPP). Tapi kenapa ketika pembekakan biaya (cost overrun), malah APBN dijadikan jaminan. Inilah yang perlu diaudit.
Keenam, soal DP rumah nol Rp? Kan ada realisasinya. Hingga 2021, realisasi DP rumah 0 Rp adalah sebesar 2.332 unit. Memang belum sesuai target. Tapi karena program ini berkenaan dengan pembiayaan di sektor finansial-- yang bergejolak selama pandemi Covid-19, sehingga sedikit terkendala. Selama pandemikan ekosistem finansial kita cukup parah terdampak.
Masih ingatkan, selama pandemi Corona, fokus kebijakan pemerintah hanya dua, pemulihan kesehatan dan ekonomi. Kalau kesehatan melalui penurunan kasus Corona dan ekonomi berkaitan dengan social safety net. Itulah kenapa, DP rumah Nol rupiah ini terkendala.
Semua argumen penolak bang Boni terhadap Anies terjawab secara apik. Disitulah bang Boni sejenak tertegun sembari mengernyitkan kening. Kali ini ia bertemu sparring partner yang bertenaga luar dalam. Tapi Kareng Boni tetap tak deman dengan Anies.
Saya teringat kata Ali Bin Abi Thalib r.a. “Orang itu kalau udah suka, yang kamu lakukan salah pun ia demen. Sebaliknya kalau udah benci, meski kamu bener sekalipun, dia ga demen.” Wallahu’alam….
*Jogja, 29 April 2023
Penulis Munir Timur
Kutipan
Mengapa utk membangun IKN pemerintah ada dana?
Mengapa utk menanggung pembengkakan biaya Kereta Cepat pemerintah sanggup??
Namun utk memastikan harga BBM tetap terjangkau justru tidak sanggup???
https://t.co/3MTdKqAe1m
Direksi BUMN adalah pejabat bisnis bukan pejabat politik. Membiasakan mereka rapat di @DPR_RI membuat mereka bermental politik. Inilah akar dari rusaknya professionalism di BUMN. Mereka dipaksa melayani kepentingan politik eksekutif dan legislatif. Budaya korporasi rusak!
Presiden @jokowi, apakah anda punya solusi u/ pandemi ini selain berkunjung ke apotek dan rumah warga? 3 juta kasus dan 80k nyawa melayang sia-sia bukanlah sebuah keberhasilan. Sudah saatnya kami menengok konstitusi & menagih pertanggungjawaban tuan. If we burn, you burn with us