Indonesia punya 56 juta "pengusaha."
Malaysia cuma 3 juta.
Kedengarannya bangga. Padahal itu alarm.
Malaysia 75% pekerjanya formal, bergaji, terserap sistem.
Indonesia? 38%.
Sisanya jadi "pedagang" bukan karena mau, tapi karena nggak ada pilihan lain.
Bukan wirausaha. Survival mode.
Selisih itu bukan bukti kita lebih entrepreneur.
Itu bukti sistem kerja kita gagal nyerap orang.
Mengapa Soeharto tak ditangkap setelah jatuh pada 1998?
Pada tahun 2000, Gus Dur berusaha melakukan itu.
Gus Dur berusaha menangkap Soeharto dan keluarganya.
Sidang dijadwalkan pada 14 September 2000.
Pada 13 September 2000, bom raksasa meledak di Bursa Efek Jakarta.
15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil. Tubuh mereka hancur berceceran oleh bom mobil raksasa yang diparkir di basement Bursa Efek. Puluhan lainnya terluka parah.
Asap tebal membumbung di tengah-tengah SCBD di jantung perekonomian Indonesia. Gedung-gedung kantor besar perusahaan multinasional, bank, dan pemerintahan yang berisi ratusan ribu karyawan dilanda kepanikan dan dievakuasi.
Bom teroris besar itu menyebabkan kepanikan yang lebih besar.
Saat itu, Indonesia sedang tertatih-tatih memulihkan diri dari krisis 1997 dan mengembalikan kepercayaan internasional.
Kesejahteraan ekonomi ratusan juta rakyat bergantung pada kesuksesan pemerintahan Gus Dur melakukan hal itu.
Bom teroris di Bursa Efek sangat menggoncangnya. Harga saham jatuh. Indonesia terancam roboh kembali.
Jika Indonesia tak stabil, jutaan rakyat terancam kembali jatuh miskin dan menganggur.
Tentu saja, secara teori, jika Indonesia roboh, Soeharto dan keluarga Cendana tak akan bisa ditangkap.
Keluarga Cendana tidak akan pernah bisa ditangkap polisi apabila tidak ada polisi dan tidak ada penjara karena Indonesia bubar.
Siapa dalang bom teroris tersebut?
Kecurigaan tentu langsung tertuju pada keluarga Cendana, terutama Tommy Soeharto.
Alasan pertama, serangan bom teroris terjadi satu hari sebelum persidangan kedua yang seharusnya menyeret Soeharto dan keluarganya ke peradilan hukum.
Alasan kedua adalah Gus Dur yang langsung mengumumkan bahwa Tommy adalah tersangka utama dan memerintahlan pemeriksaan. Gus Dur sebagai presiden tentu berkuasa atas informasi intel.
Alasan ketiga, sebelumnya Tommy sudah terlibat dengan serangkaian kasus bom dan penembakan.
Lima bulan sebelumnya pada 13 Maret 2000, Tommy diseret ke hadapan Komisi V untuk diperiksa tentang kasus korupsi dan kegilaan monopoli cengkeh BPPC.
Pada saat itu, jendela ruang rapat Komisi V tiba-tiba ditembak orang misterius dengan senjata api.
Anggota Komisi V merasa sangat terancam. Bagaimana kalau yang ditembak berikutnya bukan jendela kosong, melainkan kepala mereka? Atau kepala anak mereka?
3 bulan kemudian, pada 4 Juli 2000, Tommy diseret Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk diperiksa di Kejaksaan Agung.
Satu jam setelah Tommy meninggalkan gedung, gedung Kejaksaan Agung meledak oleh bom.
Ternyata yang meledak seharusnya dua bom. Tetapi salah satu bom untungnya gagal meledak.
Dua bulan kemudian, pada 31 Agustus 2000, sidang pertama kasus korupsi Soeharto dan keluarganya digelar.
Tiba-tiba, bus yang diparkir mencurigakan di samping tempat persidangan meledak. Ada orang yang menaruh bom besar di situ.
2 minggu kemudian, sehari sebelum sidang kedua pengusutan keluarga Cendana, terjadilah bom di Bursa Efek yang sangat brutal dan mengerikan ini. Ini adalah pengeboman teroris paling mematikan sejauh ini.
Gus Dur memerintahkan penyelidikan untuk mengusut Tommy dan antek-antek gerombolan premannya yang diduga keras menjadi dalang terorisme pengeboman Bursa Efek itu.
Pada saat itu, Menteri Pertahanan Mahfud MD menjadi sangat resah.
Ia membaca pola ancamannya: jika Gus Dur terus menginvestigasi Soeharto, gerombolan keluarga Cendana, dan pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi hasil rampokan mereka selama 20 tahun terakhir, Indonesia akan terus digoncang bom dan instabilitas. Ini sudah masuk ranah ancaman pertahanan nasional.
Mahfud seakan membaca tulisan yang ditulis dengan darah orang-orang Bursa Efek: "Jika kamu terus mengusut, Republik ini akan jatuh."
Gus Dur bebal. Dua bulan kemudian, Gus Dur menolak permohonan grasi yang dengan sangat belagu diajukan Tommy Soeharto. Saat itu Tommy baru saja didakwa korupsi memaling aset tanah Bulog dan akan segera dipenjara.
Apa yang dilakukan Tommy? Ia kabur dan menjadi buronan.
Pada 14 November 2000, polisi mengirim 18 tim untuk melakukan penggerebekan di 18 lokasi. Sebanyak 206 anggota polisi diturunkan untuk melakukan penggerebakan serentak, termasuk di rumah Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Gagal. Tommy tak bisa ditemukan.
Sebulan kemudian, rentetan bom teroris kembali meledak, yaitu pada Malam Natal 24 Desember 2000.
Yang ini sangat mengerikan.
23 gereja berbeda yang tersebar di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Mojokerto, Bandung, Ciamis, dan Lombok hancur oleh bom teroris yang dijadwalkan meledak serentak.
Serangan bom serentak ini menewaskan jemaat Kristen yang sedang berdoa, juga menewaskan Riyanto, anggota Banser NU yang ditugaskan menjaga gereja dari ancaman teroris. Ia mati syahid ketika berusaha menjauhkan bom dari para jemaat gereja.
Beberapa minggu kemudian pada Januari 2001, salah satu teman dekat Tommy, Elize Tuwahatu, berhasil ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Elize tertangkap basah membawa-bawa tiga buah bom raksasa dari Tommy.
Dari mulut Elize dan pelapornya, berbagai kelakuan Tommy berhasil dibongkar.
Ternyata, berapa hari setelah Bom Malam Natal, Elize ditugasi Tommy untuk menyusun rencana membunuh Jaksa Agung Marzuki Darusman serta Menteri Industri dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan dengan bom.
Bom pertama dan kedua ditujukan pada Marzuki dan Luhut, yang dianggap mengancam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset keluarga Cendana.
Apabila Luhut berhasil dibunuh dengan ledakan bom, kematian sadisnya juga akan mengguncang stabilitas industri dan perdagangan Indonesia, mengingat jabatan strategis Luhut saat itu.
Menperindag sebelum Luhut adalah Jusuf Kalla. Menperindag sebelum Jusuf Kalla adalah Rahardi Ramelan di zaman Habibie. Menperindag sebelum Rahardi Ramelan adalah Bob Hasan, operator bisnis keluarga Cendana.
Barangkali Luhut yang saat itu jadi anak buah Gus Dur menyentuh "sesuatu" yang membuat keluarga Cendana dan kroninya (seperti Bob Hasan) sangat marah.
Selain Marzuki dan Luhut, kedua bom itu juga diharapkan memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf Kejaksaan Agung dan staf Kemenperindag dan menciptakan sebesar-besarnya teror dan kekacauan nasional.
Bom ketiga ditujukan untuk memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf di kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk semakin menebar teror di sektor-sektor kunci pemerintahan dan kestabilan ekonomi.
Tommy sendiri ternyata memiliki penyuplai bom yang menurut investigasi kepolisian diduga adalah suatu oknum pengkhianat negara di Kopassus. Secara semangat korsa, ini sangat menyedihkan mengingat Luhut sendiri adalah mantan komandan Kopassus. Tetapi memang, pada zaman Soeharto, Kopassus sempat dipimpin oleh orang yang sangat dekat dengan keluarga Cendana.
Enam bulan kemudian, pada Juli 2001, tragedi kembali terjadi. Hakim yang sedang mengusut Tommy Soeharto, Syafiuddin Kartasasmita, dibunuh dengan sangat brutal di tengah jalanan Jakarta menggunakan senapan mesin ketika sedang menuju tempat kerjanya.
Hakim Syafiuddin ini mati syahid dengan tubuh berlubang-lubang. Kematian mengerikannya sangat menghebohkan Indonesia.
Pembunuhan Hakim Syafiuddin yang luar biasa sangat sadis inilah yang ternyata berhasil digunakan penegak hukum untuk mengumpulkan cukup bukti tak terbantahkan untuk menangkap Tommy Soeharto.
Dalam suatu periode drama kehebohan nasional yang membuat rakyat menempel ke TV, Tommy si Penjahat Nomor Satu diburu oleh penegak hukum.
Tim sangat elite ini diberi nama Tim Kobra dan dikomandoi oleh perwira lapangan bereputasi cemerlang yang sedang naik daun saat itu, Tito Karnavian. Meski begitu, awalnya penyelidikan mengalami kebuntuan.
Menggunakan penyadapan sinyal telepon dan pengamatan intel, lokasi Tommy diisolasi ke sebuah rumah di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
Akhirnya Tommy berhasil digerebek, diseret keluar, dan ditangkap sebagai hewan buruan terbesar pemerintahan Gus Dur pada 28 November 2001, 4 bulan setelah Syafiuddin mati dibunuh.
Tommy dipenjara selama beberapa tahun dan hidup mewah di penjara dengan sofa, kulkas, TV, dapur, dan akses untuk bermain golf di Jakarta.
Tommy bebas dengan masa tahanan yang sangat dipotong remisi. Setelah bebas, ia langsung berusaha membeli Golkar pada tahun 2009 dengan pundi-pundi raksasa kekayaan keluarganya. Ia dikalahkan Aburizal Bakrie.
Gus Dur sendiri tidak sempat melihat Tommy ditangkap dari posisi menjabat sebagai presiden.
Gus Dur keburu digoncang dengan Operasi Semut Merah dan berbagai krisis politik.
Akhirnya, Gus Dur kalah dan digulingkan dari kursi kepresidenan pada pertengahan 2001.
---
Itulah bagaimana keluarga Cendana berhasil lolos dari jerat hukum.
Soeharto mati dengan pulas dan santai pada tahun 2008. Tubuhnya dikubur di suatu ancient temple mistis di atas bukit yang tersembunyi di tengah hutan lebat kaki Gunung Lawu yang angker, seperti seorang raja Jawa kuno. Ketika gw solo travelling ke situ dengan motor, templenya dijaga segerombolan penjaga.
On this day, 108 years ago, at the stroke of a colonial pen, the 67 word Balfour Declaration was issued promising our land away, reducing our existence to “non-Jewish communities”, and triggering the ethnic cleansing of Palestine and the ongoing Nakba and dispossession of the Palestinian people.
108 years later, we remain rooted in our land, certain that no declaration made or crime committed can erase our presence on our land.
It is long overdue to recognize, apologize, reparate, and end this historic injustice that befell a colonized, captive, and oppressed people.
IMAGINE SENDING 20 WARSHIPS TO INTERCEPT BOATS CARRYING MILK POWDER AND BABY FORMULA FOR STARVING CHILDREN. THIS IS THE GREATEST EVIL EXISTING IN THE WORLD RIGHT NOW!!!!!
"Mengkudeta" Pemerintah dengan Cara yang Elegan
Belum genap 100 hari pemerintahan Prabowo, banyak kritik yang dilontarkan oleh masyarakat, mulai dari kenaikan PPN 12%, Program Makan Bergizi Gratis, hingga pagar laut misterius yang melanggar kedaulatan negara, yang ditengarai milik Agung Sedayu Group. Sedangkan kritik maupun kasus yang lain? Tentu setiap hari kita disuguhi berita tentang tingkah konyol aparat kepolisian, entah itu bertindak represif bahkan yang paling parah, menembak mati siswa sekolah di Semarang.
Jenuh? Bosan? Sudah biasa. Bagaimana dengan “muak”? Apakah kalian sudah merasa muak dengan 10 tahun kepemimpinan Jokowi, ditambah dengan kepemimpinan Prabowo yang tidak terlalu berbeda dengan Jokowi? Nah yang jadi pertanyaan, “Apa yang harus kita lakukan ketika sudah merasa muak dengan rezim yang mempermainkan hukum dan kedaulatan negara?”.
Sempat terpikir oleh Saya, bagaimana jika kita melakukan “kudeta” tapi dengan cara yang elegan? Maksudnya, kudeta identik dengan kekerasan, demo di jalan, chaos, dan hal-hal yang mengerikan. Namun jika kita melakukan “kudeta” dengan cara yang elegan, hal-hal mengerikan tadi bisa diminimalisir. Tujuannya? Tentu bukan untuk mengambil alih kekuasaan, melainkan menyadarkan pemerintah bahwa kita semua sudah muak dengan segala carut marut yang terjadi di Indonesia.
-Sebuah Esai-
land where 'tough' is an understatement..
Australia is not for beginners
a thread
1. The absolute size of this cattle-eating crocodile caught in Australia.
–Mimpi keadilan Pegi Setiawan–
Mimpi Pegi tidak neko-neko. Ia ingin keluarganya bisa makan, adik-adiknya bisa terdidik. Karenanya ia memilih berhenti sekolah lalu bekerja. 10 tahun kemudian angan sederhana itu terancam musnah. Ia tiba-tiba dijadikan tersangka pelaku pembunuhan berencana di TKP yang tidak ia hadiri.
Utas
Sebelum Proklamasi dikumandangkan, para tokoh nasional berembug untuk menentukan teritorial resmi Indonesia.
Salah satu pertimbangannya adalah merujuk pada wilayah kekuasaan Majapahit di masa emasnya.
Usulan gegabah ini tentu saja menuai pro & kontra~
#UtasMILD#BPUPKI
"Pak TU kampus, saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT"
"Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya"
"Baik Pak"
***
"Pak RT, saya mau minta surat keterangan tidak mampu"
"Kamu bukannya anaknya Pak Solihin, guru SMA?"
"Iya Pak"
"Wah, tapi dari data penghasilan beliau, saya belum bisa keluarin SKTM."
"Waduh, terus gimana ini Pak?"
"Coba ke bank sama Bapak, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank, saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Pak, saya cek dulu"
"Pak Solihin, setelah kita cek penghasilan, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet SKTM Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Bapak saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya mas"
"Waduh, itu biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
***
"Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya"
"Kamu cuti dulu aja. Kerja part time gitu."
"Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?"
"Kamu bayar 50% UKT, jadi 6.25 juta."
"Hah?"
***
"Mas pinjol, kayanya saya terpaksa pinjem deh, gak ada jalan lain"
"Siap, ini saya transfer ya."
"Kalau gagal bayar gitu gimana?"
"Ada dendanya sama nanti kecatat di BI Checking."
***
"Pak Solihin, ini utang anaknya gak dibayar?"
"Wah Pak Debt Collector, gaji honorer saya telat ini, gimana?"
"Gak bisa bayar sekarang?"
"Iya, gimana?"
"Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk dari anak Bapak semester 3 sampai lulus"
***
"Ini CV kamu bagus banget, aktif di organisasi"
"Iya, makasih."
"IPK kamu juga bagus, skill set kamu juga sesuai sama yang dibutuhin user kita."
"Terima kasih."
"Oke, kita finalisasi paperwork dulu ya sebelum offer."
***
"Halo, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
***
"Halo, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
Rakyat dibikin miskin dan nganggur dari a) sampai z):
a) Mau daftar kerja, lowongan kerja dibatasin umur, 25 tahun ke atas susah cari kerja
b) Mau ngelamar kerja butuh pengalaman, mau dapet pengalaman harus kerja,
c) Mau magang buat pengalaman kerja, perlu pengalaman magang sebelumnya,
d) Syarat buat lamaran kerja nggak ngotak,
e) UMK daerah mepet, nggak cukup buat nabung,
f) Pengusaha ngasih upah UMK ditambah remah roti,
g) Perempuan mau cari kerja susah: masih single apa udah menikah? ditanya punya anak? ada rencana punya anak? kalau ntar ngurus anak gimana kerjaannya?
h) Abis hamil dan melahirkan ditanyain: selama 2-3 tahun ini ngapain aja kok gak kerja? Akhirnya gak keterima,
i) Gak ada cuti ayah buat bantuin ibu setelah lahiran,
j) Para ayah juga kalau dikasih cuti bukannya bantuin malah ngebebanin istri karena gak pernah dididik ngurus rumah,
k) Judi online dengan server di Kamboja dan Filipina dibiarin merajalela, gak ada blokir,
l) Artis ibukota endorse dan ngiklan judi online di timeline gak diapa-apain, tapi artis kabupaten ditangkep,
m) Yang kecanduan judi online jadi ngutang di pinjaman online,
n) Pinjaman online bunganya nggak ngotak, bunganya sampai empat kali pokoknya,
o) Gelut sama debt collector gara-gara judi online dan pinjaman online,
p) KDRT gara-gara judi online dan pinjaman online,
q) Lulusan jurusan pendidikan yang bisa ngajarin rakyat jadi pinter digaji seadanya, sampai gak ada lagi yang minat masuk jurusannya.
r) Sekolah dibikin zonasi tapi kualitasnya gak merata, di daerah A ada sekolah favorit, tapi di daerah B cuma ada sekolah menyedihkan,
s) Akhirnya belajar korupsi sejak dini: nitipin anak di kartu keluarga daerah A biar masuk sekolah favorit,
t) Harga beras, telur, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya nggak ngotak, naik jauh lebih cepat daripada penghasilan masyarakat,
u) Dikasih bansos sama bantuan langsung tunai dibanding tangga sosial keluar dari jurang kemiskinan,
v) Rumah dijadiin bahan investasi sama orang kaya, yang miskin gak bisa beli rumah, gak terjangkau,
w) Mau KPR juga kena tolak sama bank karena penghasilan gak cukup, akhirnya nyewa,
x) Nyewa rumah gak ada perlindungan hukum yang jelas, yang punya bisa naikin harga seenaknya sama ngusir penyewa semaunya,
y) Sekalinya sakit, satu keluarga kehilangan tulang punggung, gak bisa bayar perawatan, pontang panting utang sana sini gara gara BPJS gak keurus,
z) Waktu berobat juga ketemunya sama dokter dan nakes yang udah kecapekan dan underpaid, gak maksimal ngurusnya, jadi sehatnya lama, pengeluaran perawatan makin besar.
Bersambung,
Nantikan episode selanjutnya: Rakyat dibikin sakit dari a) sampai z).
Dulu sewaktu mahasiswa, saya begitu bangga dengan romantisme gerakan 1998. Hingga saya sadar, Soeharto enggak pernah takut dengan gerakan mahasiswa; mulai dari Malari 1974, ITB 1989, UGM 1992, BPPC 1992, SDSB 1993, Belangguan 1993, semua bisa diatasi dengan mudah.