NOBODY is connecting the dots on these Gen Z protests.
India. France. Spain. Chile.
Different signs. Same problem.
Young people can't get hired.
Can't afford rent.
Can't afford a house.
Can't see a future.
At the same time, AI is quietly deleting the jobs they were supposed to start with.
Entry-level hiring has COLLAPSED since 2024.
You can't tell a generation to "work hard" when the first rung of the ladder is gone.
The streets are the only place left.
Follow + 🔔. This is going global.
Buat yang ga ngikutin demo di Perancis:
> Murid SMA protes karena terlalu banyak jam kosong di kelas akibat kekurangan guru. Tiap bulan minimal ada total 2 hari jam kosong bahkan sampe seminggu karena gurunya work life balance ambil cuti tapi gaada pengganti.
> Murid SMA muak karena tiap 1 guru harus ngajarin 35 murid. Mereka anggap ini rasio yang tidak efisien. Di Indonesia, 1 guru bisa ngajar >40 murid
> Murid SMA sadar kalau penyebabnya anggaran pendidikan yang kecil. Bahkan saat musim panas aja AC sekolah mati karena gak punya anggaran bayar listrik.
> Belum lagi setelah mereka lulus SMA dan mau jadi sarjana, itu sistem kuliahnya Gacha. Gaada test kayak di Indo. Mereka sistemnya tulis 10 jurusan dan kampus yang mereka mau, lalu nanti sistem yang ga transparan bakal pilih random sesuai ketersediaan kuota. Mereka frustasi sama ini.
> Teknik demonstrasi yang mereka lakukan adalah menduduki dan memblokade akses SMA dan Universitas terkenal. Salah satu SMA yang diduduki adalah SMA alumninya 5 mantan presiden Perancis. Kalau di Bandung Ibarat blokir SMA 3 dan 5 dan kampus ITB.
> Ada tokoh kanan yang ambil momentum nyalahin imigran, tapi gak kemakan narasinya sama anak SMA ini soalnya gak nyambung.
> Jadi makin viral karena salah satu video wawancara demonstran viral. Seorang anak SMA kulit putih di sekolah elite pusat kota Paris, tinggal di gated community, tapi narasinya pro minoritas, gerakan kiri, dan solidaritas terhadap rakyat kecil.
> Ketidakpuasan ini makin parah karena generasi boomers Perancis makanin uang pensiun dari pajak yang dibayarkan generasi muda. Sementara generasi muda gak ngerasa dapet apa-apa dari pajak.
> Menjadi titik balik gerakan kiri terbesar di Eropa. Sebuah sintesis dari dialektika anti-tesis gerakan ideologi kanan yang populer 1 dekade terakhir. Bisa kita bilang "The Leftist Spring" karena hal serupa terjadi juga di Jerman.
Di Indonesia sulit ada hal kayak gini karena sejak awal gaada dialektika Ideologi. Yang ada adu retorika makna Pancasila. Semua ideologi fafifuwasweswos maknanya 🤣
Warren Buffett: “Si para aumentar mi patrimonio un 1 % o un 5 % tengo que rodearme de gente que me da náuseas, no me interesa.”
«Montar un negocio con alguien que te revuelve el estómago es como casarse por dinero. Rara vez es buena idea, pero si encima ya eres rico, es una locura.”
Integritas orang berpengalaman gabisa disamain si dengan integritas orang butuh duit dan gak punya pengalaman. Apalagi asal usul keluarga dan latar belakang ekonomi itu pasti beda.
Faktornya banyak ke pengambilan keputusannya. Karena ada beberapa org yg gua tau dia pada kerja di SPPG karena ya banyak faktor.
Gua gak pernah mau menghakimi org hanya karena dia kerja di sana, urusan perut adalah hal yang gak akan berani gua masuk ke sana.
Bicara saat perut gak pernah kelaparan dan punya pengalaman memang enak untuk bandingin orang yang kerja di SPPG seolah level terendah.
@kamentrader Di real life itu lansia2 jepang terpaksa bekerja krn uang pensiun dr pemerintah dikit & jepang lg inflasi gila2an 3 tahun kebelakang ini. Apalagi budaya di jepang itu lansia hidup terpisah dr anak. Kasian gw liatnya.
Ini ada benernya. Prancis gila-gilaan ngotot gak mau pake skema capitalized pension. Akhirnya sekarang tekor, yang muda gaji UMR kena potongan banyak buat kenyamanan orang pensiun. Seperempat APBN habis buat bayar pensiun doang.
Kalau soal nafsu saya kasih tahu ya, laki-laki itu bisa beli, murah, gampang, nggak pakai ribet. Kalau soal lapar, laki-laki bisa ke warung, nasi padang ada, pecel lele ada, nggak perlu nunggu kamu masak. Dan kalau soal rumah berantakan, baju numpuk, piring kotor, laki-laki bisa sewa pembantu, tinggal bayar, beres selesai.
Terus kamu nanya, jadi laki-laki nikah buat apa? Nah sini saya kasih tahu ya, banyak perempuan di luar sana salah paham. Ini bukan soal nafsu, ini bukan soal makanan, ini bukan soal cari orang untuk bersih-bersih rumah. Kalau cuma itu ngapain nikah, mending hidup sendiri, iya kan lebih hemat, iya kan nggak ada drama.
Yang laki-laki cari itu beda, yang nggak bisa dibeli, nggak bisa disewa, nggak ada di warung. Ini adalah soal tempat pulang, tempat pulang paling nyaman ketika laki-laki lagi selelah-lelahnya, lelah kerja, lelah dihajar dunia, lelah pura-pura kuat di luar sana. Dan tempat pulang itu adalah kamu, iya kamu, wanita yang paling dicintainya.
Ga bakalan Indonesia punya pabrik semikonduktor besar macam ini. Semikonduktor butuh air dlm jumlah sangat besar, dan hrs air murni betul (ultra pure water). Air biasa cuma buat pendingin (datacenter) saja sdh bikin ribut
Mau tahu se-tidak adil apa dunia ini?
Ada yg terlahir penuh cinta di ruang VIP rumah sakit, ada yg terlahir di toilet sekolah lalu dibuang ke tong sampah.
Ada yg gajinya 3jt/bulan untuk satu keluarga, ada yg ditransfer papi 3jt untuk sekali makan.
Sejak awal kita benar-benar terlahir di garis start yg berbeda. Jadi kalau ada orang yg menyamakan garis finish kesuksesan dengan isi rekening harus 20 miliar di usia 20 tahun, dia pasti positif narkoba.
Yang gue ga suka..
Ada aja cemoohan sesama orang Indo kepada mereka yang mau kerja di luar negeri.
- Dibilang lemah lah
- Dikasih tahu kalau biaya hidupnya di luar mahal lah
- Ditakut-takutin hidup di sana susah dan harus mandiri lah
Intinya dibikin ga nyaman dan demot. Bukannya malah saling support.
Bener-bener crab mentality.
Mana tuh gotong royong??
abis ngomong sesuatu sama mama tentang susah senang with a man and honestly, i think agree with that she said.
di umur 25-30 something itu biasanya fase laki-laki lagi baru mau memulai hidup. we want a man can provide us like our dad right? but sometimes forget that before reaching that stage, maybe they also struggled in their early 20s and 30s.
ga salah kalau perempuan mau laki-laki yg financially stable, mau a provider or mau laki-laki yg udah mapan sekalipun, because everyone has their standard.
but for me, kalau laki-laki itu punya tujuan, ada usaha, dan bertanggung jawab, setia ga selingkuh, i’m willing to grow with him too. karna kalau dia belum ada semuanya sekarang, at least tujuannya kita.
dan buat laki-laki jangan gampang lepasin kalau udah dapet perempuan yg mau susah senang sama-sama. improve your life! someone who stays while you’re still building your life is not someone to take for granted.
Momen squad timnas Thailand memilih tetap berada di lapangan, menyaksikan timnas Indonesia angkat trofi FIFA Asean Cup. Lewat story miliknya,
Jay Idzes sempat beri apresiasi ke tim Thailand.
Chanathip Songkrasin sempat ditanya oleh jurnalis Thailand (Jing Jung Football), kenapa squad Thailand memilih tetap di lapangan.
Catatan Kecil Biar Obrolan Kita Nggak Bikin Orang Sakit Hati.
Pernah ngobrol sama orang, terus pulangnya kamu ngerasa kayak abis ngomong sama tembok?
Itu yang bikin banyak orang kesel waktu nonton, karena kejadian kayak gini tuh relate sama hampir semua orang.
Nyakitin hati orang waktu ngobrol itu gampang banget. Nggak perlu kata-kata kasar. Cukup mata yang nggak fokus, jawaban yang sedatar dry text, atau kebiasaan motong cerita orang lain.
Dan yang paling nyebelin, sering kali kita nggak sadar kalau kita lagi ngelakuin.
Di abad ke-19, ada dua raksasa politik Inggris yang saling bersaing, William Gladstone dan Benjamin Disraeli. Dua-duanya pernah jadi perdana menteri, dua-duanya pinter luar biasa.
Pada suatu malam, seorang wanita muda berkesempatan makan malam dengan keduanya, bergantian dalam minggu yang sama. Ketika ditanya mengenai kesannya terhadap kedua pria tersebut, jawabannya sangat mendalam:
"Setelah makan malam dengan Mr. Gladstone, saya merasa dia adalah orang terpintar di seluruh Inggris."
"Namun, setelah makan malam dengan Benjamin, saya merasa kalau saya adalah wanita terpintar di seluruh Inggris," ujarnya senyum dan mata berbinar.
Coba resapin pelan-pelan. Gladstone nggak kasar, nggak sombong secara terang-terangan. Dia cuma sibuk menunjukkan isi kepalanya. Sementara Benjamin melakukan hal yang jauh lebih langka: dia bikin lawan bicaranya merasa layak didengar.
Pertanyaannya, kita lebih sering jadi yang mana?
Jujur, aku sendiri masih sering jadi Gladstone. Haha.
Buat yang belum tahu, aku kerja sebagai show director berbagai acara.
Salah satu hal yang aku pelajari dari balik FoH adalah, penonton nggak cuma memperhatikan orang yang lagi ngomong. Mereka juga memperhatikan orang yang lagi dengerin. Makanya ada yang namanya "reaction shot".
Satu detik wajah pendengar yang bosan, lirik HP, atau senyum sinis, bisa ngerusak mood satu segmen penuh. Kamera nggak bisa bohong soal siapa yang beneran nyimak.
Nah, terus caranya gimana biar kita lebih enak diajak ngobrol sama orang?
Tipsku sederhana, sebelum mulai ngobrol, sebelum ketemu siapa pun, entah itu senior, junior, klien, abang ojol, atau temen lama.
Tanamin satu keyakinan kecil: orang ini pasti punya satu cerita atau satu pengetahuan menarik yang aku belum tahu.
Udah, itu doang.
Kedengarannya remeh, tapi efeknya gede. Ibarat teh yang terus dituang ke gelas sampai tumpah ke mana-mana, karena gelasnya udah penuh. Kalau kepala kita udah penuh sama "aku lebih tahu", "aku lebih senior", atau "followerku lebih banyak", nggak ada lagi ruang buat cerita orang lain masuk.
Mode penasaran itu ibarat ngosongin gelas. Kalau rasa penasarannya genuine, gesture kita bakal ngikut sendiri. Badan condong ke depan tanpa disuruh. Mata fokus tanpa dipaksa. Pertanyaan lanjutan muncul natural, kayak "terus gimana?" atau "kok bisa gitu?".
Kita nggak perlu hafalin teknik body language dari seminar mana pun, karena semuanya natural.
Pura-pura tertarik itu capek, dan biasanya ketahuan. Orang kita tuh peka banget soal ginian. Antusias yang dibuat-buat, rasanya kayak nonton sinetron dubbing yang bibirnya nggak sinkron.
Banyak dari kita yang hobi nge-skip dialog NPC biar cepet sampe ke bagian seru. Wajar, namanya juga game.
Masalahnya, di dunia nyata nggak ada NPC. Orang di depan kamu itu main character di ceritanya sendiri, lengkap dengan lore, plot twist, dan side quest yang mungkin justru kamu butuhin. Skip dialognya, dan kamu kehilangan loot yang nggak bakal respawn.
Mode penasaran bukan berarti kita harus diem terus dan nggak boleh cerita. Obrolan yang enak itu tetap dua arah. Bedanya, kita cerita bukan buat jadi lebih keren, tapi buat nyambung.
Jadi, lain kali sebelum ngobrol sama siapa pun, coba kosongin gelasnya.
Orang jarang inget isi obrolan kita, tapi mereka inget kalau dengan bersama kita, mereka ngerasa jadi kecil atau ngerasa jadi berharga.
Semoga kita semua makin sering jadi orang yang bikin lawan bicaranya pulang dengan perasaan yang kedua.
Ini peristiwa menarik.
Altruisme resiprokal menjelaskan mengapa kelas menengah lebih sering menawarkan minum atau bekal. Dalam lingkungan dengan interaksi berulang, pemberian kecil membangun reputasi dan harapan balasan, misalnya teknisi kembali atau tidak menipu.
Pada rumah super kaya, kontak biasanya sekali jalan dan sangat asimetris, shg nilai investasi reputasi terhadap satu pekerja rendah. Orang juga lebih mengharapkan timbal balik pada hubungan setara status daripada hierarki yang jelas.
Kewaspadaan terhadap penipu memperkuat pola ini, karena pemilik sumber daya berlebih secara historis lebih sering menjadi target free-rider, sehingga enggan memberi tanpa syarat bisa mengurangi risiko eksploitasi semacam freon yang sengaja dibuat bocor.
Kemandirian sumber daya turut menurunkan kebutuhan jejaring saling bantu. Beberapa studi menemukan kelas lebih tinggi cenderung kurang berbelas kasih secara spontan karena kelimpahan mengurangi ketergantungan pada orang lain, meski empati bisa naik jika diingatkan; meta-analisis lebih baru justru menunjukkan asosiasi kecil positif dengan perilaku prososial, terutama saat melibatkan komitmen sumber daya, dan efeknya melemah atau terbalik di wilayah sangat timpang.
Reaksi pro-kontra, “cukup bayar jasa,” atau kerja tulus demi rekomendasi, mencerminkan ketegangan antara strategi reputasi jangka panjang dan kalkulasi biaya-manfaat jangka pendek, yang juga dibentuk budaya serta konteks lokal, bukan semata warisan genetik.
Dalam bahasa yg lain, pola “menengah ramah, super kaya diam” bisa dilihat sbg cermin juga, bagaimana ketimpangan memperlebar bukan hanya kekayaan, tetapi juga jarak sosial dan kalkulasi risiko dalam pertemuan sehari-hari.
inilah kenapa gue selalu nilai orang untuk business date, dengan ngajak dia makan ditempat fancy, karena bisa diliat dari :
1. waktu kedatangan dia, karena resto atau fine dinning itu mesti di booking dulu kedatangan kita, yang mau kesana bukan cuma kita aja.
2. cara dia pilih menu, bisa diliat sifat atau karakter dia ribet atau enggak, kalau emang dia gatau soal resto tsb. pasti sebelum dia kesana udah cari tau dulu, atau dia make sure ke waiters signature menu ditempat itu.
3. cara dia memperlakukan waiters yang udah service kita di table.
dari ke 3 itu aja udah cukup.
I've coached over 30 Olympic gold medals.
I've worked with some of the greatest athletes in history.
Here are the lessons I wish more people understood:🧵