Self-talk di cermin itu high-stakes political suicide. Kontak mata langsung sama bayangan sendiri. Immediate self-audit yg bikin existential crisis, karena lo fully aware kalau lo lagi defaulting tanpa modal legitimasi apa pun buat nge-claim self-validation.
Saya izin menjelaskan,
Yuk mulai dari awal.
BI itu apa sih, kerjanya ngapain?
BI itu bank sentral. Beda sama bank tempat kita nabung kayak BCA atau Mandiri.
Kerjaan BI itu jaga biar duit rupiah nilainya stabil, biar harga-harga barang nggak naik-turun kayak roller coaster.
Dia bisa kontrol rupiah lewat yang namanya suku bunga.
Kalau harga-harga lagi pada naik kenceng (cabe mahal, bensin naik, sewa kos naik), BI bakal bikin pinjam duit di bank jadi lebih mahal.
Begitu ini naik, orang jadi mikir dua kali buat ngutang beli motor atau modal usaha, soalnya cicilan makin berat.
Yang punya duit nganggur di rekening juga jadi males belanjain, mending disimpen aja karena bunga tabungan ikut naik.
Karena banyak orang ngerem belanja bareng-bareng, permintaan barang di pasar turun, dan harga pelan-pelan berhenti naik.
Kalau ekonomi lagi lesu, sepi, banyak yang nganggur, BI lakukan kebalikannya. Bikin pinjam duit jadi murah. Orang jadi lebih berani ngutang buat buka usaha, beli barang. Duit jadi lebih banyak muter di masyarakat, toko rame lagi, orang kerja lagi.
Satu hal penting: efeknya nggak langsung kerasa besok. Butuh waktu berbulan-bulan, kadang setahun, baru kelihatan hasilnya. Jadi orang yang megang kebijakan ini harus mikir jauh ke depan, nggak asal reaksi buat masalah hari ini doang.
BI emang sengaja dipisah dari pemerintahan
Menteri keuangan, menteri perdagangan, itu semua dipilih presiden, dan bisa dicopot presiden kapan aja. Wajar, karena mereka bagian dari tim presiden yang harus sejalan sama presidennya.
BI enggak. Ada undang-undang sendiri yang bilang: BI itu lembaga independen, nggak boleh dicampuri pemerintah dalam ngambil keputusan.
Kenapa harus dipisah?
Alasan paling besarnya: biar BI nggak jadi mesin cetak duit buat nutup utang pemerintah.
Coba bayangin gini: pemerintah itu kayak rumah tangga, kadang pengeluaran lebih gede dari pemasukan. Cara yang bener buat nutupin itu ada dua: pinjem duit atau naikin pajak.
Tapi kalau BI bisa diperintah, ada jalan pintas ketiga yang jauh lebih gampang: tinggal suruh BI cetak duit aja, terus dipake langsung buat nutup APBN.
Bisa juga dipakai untuk program *** ya kalian tau sendiri lah ya.
Kedengerannya enak banget kan? Nggak usah ribet nunggu orang mau beli surat utang, nggak usah pusing mikirin rakyat protes soal pajak naik.
Tapi masalahnya, kalau duit yang beredar makin banyak sementara barangnya tetep segitu-segitu aja, nilai duit itu jadi turun.
Harga barang jadi kelihatan makin mahal, padahal sebenernya bukan barangnya yang mahal, duitnya yang nilainya makin turun.
Makanya independensi BI itu fungsinya kayak pagar. Biar pemerintah nggak bisa seenaknya minta BI cetak duit buat nutup anggaran.
Karena kalau bisa, yang terdampak paling besar ya rakyat menengah lagi.
Semoga tidak terjadi ya.
Konon, desain Bandara Soekarno-Hatta terinspirasi dari pemandangan yang dilihat arsiteknya saat pertama kali melintasi langit Indonesia:
Gugusan permukiman beratap genteng merah yang dikepung perkebunan rimbun.
Dari situ lahir konsep "bandara di tengah taman" yang berhasil memenangkan salah satu penghargaan arsitektur tertinggi di dunia.
Kamu mungkin udah sering singgah di bandaranya tanpa tahu kisahnya.
Makanya, yuk kita bedah dari sudut pandang arsitek.
A thread 🧵 by Narasi Visual
Dapat ingfo sejarah menarik..
Ternyata dari seluruh Gubernur BI, mulai dari tahun 1958 sampai sekarang.
TIDAK ADA GUBERNUR BI YANG MENGUNDURKAN DIRI KECUALI DUA ORANG
- Budiono (karena mau jadi Cawapres)
- Perry Warjiyo (alasan pribadi)
Hanya Perry yang mundur karena alasan pribadi.
Bahkan Gubernur BI saat krisis ekonomi 1966 (Teuku Jusuf Dalam) dan krisis ekonomi 1997 (S. Djiwandono)
Sama sekali tidak mundur.
Ada apa ini?
Lama-kelamaan pasar bisa membaca mundurnya gubernur BI ini sebagai intervensi dari pemerintah.
FOTO 1: Budiono (WIKIMEDIA)
FOTO 2: Teuku Jusuf Muda Dalam (Wikimedia)
FOTO 3: S. Djiwandono (WIKIMEDIA)
Prabowo meletakkan bunga di makam leluhurnya, Kapitein Benjamin Thomas Sigar, tokoh Minahasa yang memimpin Pasukan Tulungan (Hulptroepen) dalam Perang Jawa. Menurut keluarga, ia terlibat dalam penangkapan Pangeran Diponegoro.
Foto ini diambil sekitar 1968, tak lama setelah Soemitro Djojohadikusumo dan keluarganya kembali dari pelarian politik (1957–1967) terkait keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI.
it really is the end of an era.
neymar, cristiano, messi, hazard, suarez, benzema, modric, kante, lewandowski, kroos, reus.
disappeared before our eyes...