Percuma..
Mau pemilu metode langsung atau tidak langsung. Politik uang dan jual beli suara akan terjadi.
Kalau pemilihan langsung, jual beli suaranya akan sama rakyat
Kalau pemilihan tidak langsung, jual belinya ya di elit.
Apalagi, elit parpol sekarang banyak yg bermasalah. Korup dan tidak punya ideologi.
Menurut gw yang paling urgent saat ini
ya pendidikan politik, didik rakyat agar menolak politik uang.
Yang kedua, regenerasi elit. Elit2 sekarang ini harus diganti sama yang lebih muda dan berintegritas.
Yang ketiga, pembenahan parpol. Parpol sudah saatnya mengkader anggotanya dengan baik dan diisi sama para teknokrat.
Insya Allah. Mau sistem seperti apapun pemilu kita, selama ketiga hal ini dibenahi, pemerintahan kita akan lebih baik kedepannya.
Foto: Wikimedia (Ezagren)
di tahun 2010, messi menangin ballon d’or walaupun bukan juara world cup, even dia 0 goal di world cup waktu itu. iniesta sama xavi yang punya andil besar bawa spanyol juara world cup kalah dari messi.
katanya messi menang karena dia cetak puluhan gol di level klub dan berhasil juara la liga sama copa del rey.
waktu itu narasinya: “world cup itu penting, tapi individu tetap yang utama.”
di tahun 2023 situasinya hampir persis terbalik. haaland cetak 52 gol dalam 53 pertandingan, bawa city treble. gila banget performa dia di musim itu.
posisinya mirip sama messi di 2010: dominasi klub yang gila walaupun tanpa trofi internasional besar tahun itu. tapi kali ini, messi lagi yang dapet ballon d’or karena dia menangin world cup.
tiba-tiba narasinya juga berubah jadi:
“world cup adalah segalanya. harus ada faktor internasional.”
kaga jelas wkwk
Soal elpidipi lah beyumenen lah mentri lah semua disuruh retret ke ginian, orang2 pada overtingking. Padahal semua bermuara pada duit. Retret = easy money.
Semua bermuara pada revenue untuk mil*iter, terutama utk kaum non-jend*ral.
every single time i watch him DISCUSSING national issues on a national platform, it reminds me of why i chose my major in the first place (eventhough im lowkey lost nowadays wkwk)
Indonesia's biggest loss:
1. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia)
Pada Pemilu 1955 Masyumi memperoleh:
• 7,9 juta suara (20,9%)
• 57 kursi DPR
Masyumi mengusulkan Mosi Integral Natsir (1950), yang menjadi jalan penyatuan kembali Indonesia dari negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Banyak sejarawan menilai ini sebagai salah satu kontribusi politik paling penting dalam sejarah Indonesia modern.
Masyumi juga berperan besar dalam diplomasi internasional pada masa awal kemerdekaan, memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia, serta memperkuat tradisi demokrasi parlementer dan politik Islam yang konstitusional.
Tokoh utamanya, Mohammad Natsir, merupakan salah satu negarawan terbesar di Indonesia dan pernah menjabat sebagai Perdana Menteri RI (1950–1951).
Dengan 20,9% suara dan 57 kursi DPR pada Pemilu 1955, Masyumi menjadi partai terbesar kedua di Indonesia. Hingga hari ini, belum ada partai Islam yang mampu menyatukan dan memperoleh dukungan politik dari umat Islam sebesar yang pernah dicapai Masyumi.
Masyumi dibubarkan oleh Soekarno pada 1960 setelah sejumlah pimpinan partainya dikaitkan dengan gerakan PRRI dan dianggap berseberangan dengan arah politik Demokrasi Terpimpin.
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
SUCI 12 kemarin menurut gw mengembalikan standup comedy jadi medium ekspresi kebuntuan masyarakat. Ini bukan perkara pro atau kontra pemerintah. Contohnya Keresahan masyarakat pada MBG, tergambar sepanjang satu musim SUCI 12. Bukan sekadar disampaikan oleh satu komika saja.
after orasi kebangsaan abdur di suci 4 dan curhatan 13 tahun kekalahannya rizky prasetya
- dan di GF ini juga akhirnya kita tau kalo orasinya abdur di GF suci 4 bukan karena aksi heroik tapi karena emg mentok aja AWOWKWOWK. but still what a performance that rent free in my head🫡
SUCI 12 GRAND FINAL WAS AN ABSOLUTE CINEMA:
- 9 kali penampilan 9 kali kompor gas
- di segmen 3 semua finalis bawa personanya masing" (eja bawa bininya, mukmin bawain kelas MEMASAK, firaun bawa kereta kencananya)
- mukmin bawain (arguably) penampilan final paling iconic--
Selamat buat Ratanca Juara 3, Ejja Juara 2, dan Mukmin sebagai Juara SUCI 12 👏🏻
Sebuah pertunjukkan Grand Final yang bener-bener mengagumkan dan membahagiakan!
foto PAK DADAN di mana-mana, terlihat menyedihkan. tapi ironinya, sebetulnya dia gak senaas itu.
sejak dulu sering bilang, hukuman terberat untuk koruptor itu hanya pada saat ditangkap dan jadi berita.
jadi samsak hujatan seindonesia raya, tapi bentar doang.
setelah vonis pengadilan, apapun hukumannya, hidupnya akan kembali enak.
masih bisa menjalani hidup nyaman di lapas, keluarganya tetap bergelimang harta, tau-tau sudah keluar penjara menikmati hasil jarahan yang "telah diamankan" 😄
kelak status residivis koruptor gak akan membuatnya dikucilkan, tetap dihormati lingkungannya karena masih dianggap golongan elit, punya pengaruh, banyak uang, dan banyak teman sesama elit.
masyarakat pun bisa mudah lupa.
bahkan, gak sedikit mantan koruptor bisa kembali menjadi pejabat publik. contohnya ada yang menang pileg dan sekarang jadi wakil ketua komisi VI DPR, ada pula yang dapat jabatan jadi ketua tim pakar danantara.
realitanya memang gak pernah ada sanksi hukum yang tegas dan bisa bikin jera, membuat negara kita selalu jadi surganya para koruptor.
sudah jadi rumus alam, sebuah tempat bisa jamuran karena lingkungan memberi ruang dan segala hal yang dibutuhkannya untuk hidup. :)
its been a while since the last time i was in this phase.
but a thing come up in my mind after seeing some confession post on tiktok.
the thing is, salah satu kejahatan paling underated dari umat manusia terjadi ketika proses memilah dan memilih pasangan untuk berkembang biak;
Hari wisuda ini istimewa. Besok hari-hari biasa. Namun, ujian yang sesungguhnya adalah di hari-hari biasa ke depan.
Itulah pesan yang kami sampaikan saat pulang ke UGM untuk melepas wisudawan sekaligus menyambut mereka bergabung ke Kagama.