Rumput Old Trafford dibongkar total untuk pertama kalinya sejak 2012.
Pertama kalinya setelah 14 tahun, rumput dicabut sampai ke dasarnya, sistem drainase diganti, dan dibangun ulang jadi hybrid pitch dgn komposisi 96% natural grass & 4% artificial fibre. https://t.co/NGzJb3Nzxy
Gue yakin 100% Cristiano Ronaldo punya post power syndrome.
Padahal tinggal nerima kalo dia itu udah decline & kureng, dan itu manusiawi bgt, orang udah 41 tahun juga.
Tapi dia ga mau. Jelas udah bukan cuma ambisius lagi tapi juga campuran ego & denial. Portugal stuck gitu aja udah, bisa aja explore taktik lain yg lebih fluid dengan skuat oke begini tapi terus-terusan main pake target man si dia.
Yes dia legend & udah bikin legacy, tapi sepak bola kan juga game of form. Mesti pisahin legacy (dulu) & form (sekarang).
Gak ada ceritanya rekan setimnya yg lebih muda wajib service & build the team around him terus-terusan krn dia legend. Kalo gitu bikin aja Ronaldo FC, jangan Timnas Portugal.
Dia dah bukan dia 10 tahun lalu. Di kepala dia mungkin iya, tapi realitanya, bhaap.
Fakta bahwa Roberto Martinez ga berani ganti dia & ngebiarin dia main 90 menit sejelek tadi speak for itself. So funny, bakalan jadi wasted potential banget skuat sebagus ini kl sampe ga ke mana-mana lagi.
Come on @selecaoportugal do something
Jujur The Guardian keren banget sih.
Mereka nyediain panduan Piala Dunia 2026 secara lengkap dan gratis cooy.
Gokil sih setiap 48 negara dan total 1.248 yang ikut World Cup dibahas satu-satu secara mendetail. Kita bisa lihat setiap pemain kunci sampai kelebihan + kekurangan tim
Tau ngga? Manchester United pernah minjemin 32 pemainnya ke satu klub di Belgia biar mereka punya pengalaman kerja.
Kerjanya ngapain? Main bola. Klubnya apa? Royal Antwerp, alias mantan klub Lammens.
Jadi ceritanya di era 90an petinggi Antwerp & United pernah ketemuan buat dinner di kota Madrid. Abistu, di satu momen pihak United bahas soal izin kerja pemain non-Uni Eropa di UK yg ribet.
Niat awalnya, United pengen kerjasama sm Antwerp buat loan pemain mereka yg dari luar Eropa di sana sampe izin kerjanya bisa keluar, baru balik ke Manchester.
Eh, Sir Alex Ferguson malah punya ide lain. Dia ngerasa atmosfer main di Belgia bisa ngasih experience bagus buat pemain-pemain muda United. Apalagi potensi jadi starter tinggi.
Bener juga sih, even seorang Dong Fangzhuo aja bisa main 71 kali di sana 😂
Akhirnya di rentang waktu 1998-2014, hampir tiap tahun ada aja pemain United yg di-loan ke sana.
Mereka yg pernah di-loan juga cerita-cerita di website resmi United kalo periode di Antwerp itu seru. Ada yg nginepnya di hotel, bisa jalan-jalan, bahkan ada yg clubbing XD
Kerjasama ini pada akhirnya berhenti karena orang-orang yg dulu nginisiasi programnya udah pada sepuh/pensiun, dan generasi baru gak tertarik ngelanjutin lagi.
Bonus foto 4 pemain dengan grafik kartel ini. Ada yg tau mereka siapa?
Kalo sampe Arsenal bisa unggul 2-0, kelar itu PSG. We about to see the greatest & nastiest defensive play of all time
Mana musim ini Arsenal rerata cm kebobolan 1-2 gol.
Cuma ada 1 klub yg bisa bobol Arsenal 3 kali di 1 match musim ini, menang, di Emirates pula. Tau kan siapa?
Lima tahun lalu masih jadi cadangan di Wolves. Gak bisa nembus tim utama.
Malem ini jadi MOTM di final UCL dan nganter PSG juara back-to-back. King Vitinha.
Terus dibilang katanya ga boleh mimpi tinggi-tinggi? Hell nah. I can be anything in life. Just like him.
Ayden Heaven sang centre-back wonderkid kesayangan skuat Manchester United baru aja posting di IG
Langsung di-comment yg suportif sm abang-abangnya, alias:
“Itu kalung dapet dari happy meal Mekdi?”
“Beliin sabuk dong 🤦🏻♂️”
“Dia gapapa?”
Tadi pas break makan siang, gue baca artikel Laurie Whitwell di The Athletic yang judulnya:
"The inside story of how Michael Carrick saved Manchester United’s season – and made the job his own".
Article-nya lumayan panjang, tapi worth it untuk dibaca diwaktu santai. Ada satu part cerita yang menarik dan gue ngerasa harus share ini ke kalian.
Jadi waktu Carrick pertama datang di Januari, hal pertama yang dia lakuin ternyata bukan langsung pasang formasi atau teriak-teriak di sesi latihan buat langsung ngubah culture tim. Dia duduk satu-satu sama tiap pemain, dan nanya satu hal yang sangat sederhana: “menurut lo, posisi terbaik lo apa dan kenapa lo suka main di posisi tsb?”
Guys, bayangin. Skuad kita baru keluar dari era Amorim yang kata banyak pemain terasa dingin dan jauh. Trus tiba-tiba ada orang yang beneran mau duduk, dengerin, dan nganggep pendapat mereka penting. Itu bukan hal kecil buat pemain, terlebih buat mereka yang udah lama ngerasa nggak dihargai.
Dan kita semua udah liat hasilnya. Bruno dikembalikan ke nomor 10 dan sekarang mengakhiri musim sebagai Premier League Player of the Season. Mainoo yang saking terpinggirkannya, udah sempet 2x request buat dipinjemin saking suramnya masa depannya dibawah Amorim, dan sekarang baru teken kontrak sampai 2031 di Old Trafford. Skuad yang musim ini sempat keliatan hancur, pelan-pelan nyatu lagi.
Tapi yang paling bikin gue happy sebagai fans baca artikel ini adalah, bahwa setelah laga kandang terakhir musim ini, seluruh skuad ternyata pergi makan malam bersama di restoran Fenix di Manchester. Dan di makan malam tersebut suasanya digambarkan hangat bgt, nggak ada yang cabut duluan. Beberapa bahkan masih di sana sampai tengah malam.
Kapan terakhir kali kita denger cerita sesantai dan sesolid itu dari internal klub kita?
Carrick emang bukan nama paling glamor yang sempat dikaitkan ke United musim ini. Tapi rasanya dia justru yang paling ngerti apa yang skuad ini butuhkan.
#utdfocusid | @TheAthleticFC
Kenapa Roy Keane sedendam itu sama Sir Alex sampe hari ini?
Mari kita bahas musim terakhir Roy di Manchester United, tepatnya musim 2005/06.
Dua alpha male ini mulai tegang hubungannya pas pre-season. Waktu itu, United ngadain training camp di Portugal buat prepare musim baru sekaligus bonding tim.
Roy kritik keputusan ini. Menurut dia, sesi bonding di Portugal itu cuma buang-buang waktu. Menurutnya kualitas set up latihannya di sana kurang oke, dan vibe-nya ga serius krn pasangan pemain bisa ikut juga.
Roy sblmnya juga pernah ribut sm pelatih pas training camp persiapan World Cup 2002. Dia ngamuk karena ngerasa persiapannya gak proper, sampe akhirnya gak main di World Cup. Roy terang-terangan bilang ogah main buat Timnas Irlandia selama masih dilatih Mick McCarthy. The infamous Saipan incident.
Lanjut ke cerita dia sm Sir Alex di United. Roy waktu itu udah otw 34 tahun dan mulai sering cedera. Pertama dia cedera hamstring pas pre-season. Terus sembuh, sempet main bbrp match. Eh, September dia cedera kaki lagi pas lawan Liverpool sampe mesti nepi 2 bulan. Itu sekaligus jadi match terakhir dia buat United.
Nah, di sini lah ceritanya mulai menarik.
Di tanggal 29 Oktober, United kena bantai 1-4 sm Middlesbrough (Boro). Waktu itu, satu tim mainnya bapuk banget. Ancur, asli. Roy yg lagi recovery nonton itu di bar hotel tempat dia nginep di Dubai.
Abistu, besoknya dia balik terbang ke Manchester. Nah, waktu itu channel televisi United (MUTV) pernah punya acara namanya Play the Pundit. Jadi, tiap match ada satu pemain United yg diminta ngasih analisis/komentar soal match yg baru dimainin. Kek cosplay jadi pundit gitu intinya. Di acara itu ada host yg nanyain pertanyaan.
Kebetulan, Gary Neville dapet jatah buat episode Play the Pundit match lawan Boro tadi. Cuma, karena dia berhalangan, dia minta Roy buat tuker shift.
Posisinya, MUTV waktu itu sempet gak disukain Sir Alex karena ada salah satu host yg komentarnya dianggap terlalu ikut campur soal preferensi taktik tim.
Oke, syuting pun dimulai. All set. Roy just being Roy. Brutal, jujur, dan pedes kritik temennya karena bisa-bisanya kalah 1-4 lawan Boro.
Selesai syuting, rekaman episode itu sampe ke Sir Alex. Dia langsung review ulang, dan ngamuk. Dia ngerasa Roy 'too much' di situ.
Di satu momen, Sir Alex akhirnya manggil Roy dan skuat United ke ruangan dia buat meeting sekaligus nobar episode itu rame-rame. Episode yg sekarang cuma jd lost media karena gak pernah ada tayangan publiknya.
Di autobiografinya, Sir Alex bilang kalo menurutnya Roy udah kelewat batas karena beneran ngebabat semua temennya. Kieran Richardson, Darren Fletcher, Rio Ferdinand, Alan Smith kena. Bahkan pas nobar episode itu, Edwin van der Sar disuruh "shut the f*ck up" pas bilang Roy mestinya bisa lebih halus lg bahasanya.
Episode Play the Pundit itu pemantiknya. Tapi, apa yg terjadi di ruang meeting pas nobar itu puncaknya. The last straw. Rio Ferdinand, Wayne Rooney, dan Gary Neville yg ngeliat doksli secara langsung ngegambarin kalo apa yg terjadi itu ngeri.
Roy Keane beneran ribut sm Sir Alex. Adu bacot yg dimulai dari Sir Alex bilang: "Cukup, udah cukup gue liat semua ini" dan dibales Roy: "Lo juga. We need f*cking more from you. Kita butuh lebih. Kita kepleset di belakang tim lain."
Dr situ, United kayak ngelakuin segala cara buat segera nendang Roy, walau kontraknya juga abis di akhir musim. Roy dikasih denda £5.000, tapi dia nolak bayar. Juga ada ragebait-ragebait biar dia kesel.
United bilang mereka ada problem finansial. Roy di-drop ke tim reserves pas pemulihan cedera. Rompi latihan dia dilempar asisten pelatih, Carlos Queiroz. Dan lain-lain.
Akhirnya, Roy & United pisah jalan di November 2005 setelah 12 tahun lebih, 480 match, 51 gol, satu treble, dan 17 trofi. Walau ending-nya gila, tapi Roy masih dikasih testimonial match buat penghormatan terakhir, sesuatu yg David de Gea gak rasain.
Grup Djarum sering dipertanyakan soal komitmen mereka terhadap sepak bola Indonesia. Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah kenapa Como nggak pernah mengorbitkan pemain Indonesia.
Jawabannya simpel: mereka terhalang regulasi.
Serie A punya aturan ketat soal pemain non-EU. Setiap klub hanya boleh mendaftarkan maksimal 2 pemain non-EU per musim, di semua kelompok umur. Mirwan Suwarso sendiri ngasih gambaran yang cukup jelas soal dilema ini:
“Let’s say Como ambil anak Indonesia umur 16 tahun, maka jatah yang tersisa untuk slot non-EU di tim utama tinggal 1, yang biasanya diisi pemain Brasil, Argentina, Uruguay atau Afrika yang secara pengalaman sudah terbukti.”
Artinya, kalau Como pakai satu slot buat pemain muda Indonesia, mereka harus rela mengorbankan satu slot untuk pemain berpengalaman yang bisa langsung berkontribusi di Serie A. Buat klub yang lagi berjuang membangun reputasi di level tertinggi Italia, itu bukan trade-off yang mudah.
Yang menarik, Mirwan juga meluruskan satu hal. Meski slot pemain non-EU jadi penghalang, bukan berarti Como menutup pintu buat orang Indonesia sama sekali. Justru sebaliknya, Grup Djarum melalui Mirwan Suwarso memilih jalur lain: mengorbitkan pelatih muda, analis, dan staf profesional Indonesia ke dalam struktur klub.
“Kita lebih memilih untuk memberikan banyak kesempatan pada pelatih dan analis. Ada salah satu analis kita orang Indonesia, anak Bandung. Kurniawan juga pernah jadi asisten pelatih di sini. Dari tim media sosial dan tim produksi juga banyak dari Indonesia, kurang lebih ada 11 orang anak Indonesia yang saat ini berada dalam tubuh tim.”
Jadi bukan nggak ada kontribusi untuk Indonesia. Jalurnya beda aja, bukan lewat lapangan, tapi lewat ruang analisis, ruang pelatihan, dan balik layar.
Jadi sebelum nuduh Group Djarum nggak cinta Indonesia, mungkin worth it buat pahami dulu sistemnya. Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan niat baik kalau regulasinya nggak mendukung.
Gue cukup betah nonton episode terbaru The Diary of a CEO dengan Bruno Fernandes sebagai bintang tamunya.
Banyak hal yang dibahas, salah satunya adalah saat Bruno cerita dengan cukup gamblang soal sesuatu yang sebenernya udah lama kita rasain sebagai fans, tapi jarang ada yang dari internal klub yang mau bilang terang-terangan.
Soal kenapa MU terus-terusan stuck di mode transisi. Dan jawabannya sesederhana karena MU terus berganti pelatih. Setiap kali pelatih baru datang, filosofi ikut berubah, gaya bermain ikut berubah, dan kebutuhan terhadap pemain pun jadi berbeda. Pelatih baru akan datangkan pemain sesuai keinginannya, sementara pemain peninggalan era sebelumnya perlahan jadi gak relevan.
Siklus ini yang terus berulang. Moyes datang, bawa Fellaini. LVG datang, bawa Blind, Depay, Schneiderlin. Mourinho datang bawa Matic, Lindelof, Lukaku. Solskjaer datang bawa Wan-Bissaka, Daniel James. Ten Hag datang bawa Antony, Onana, Zirkzee.
Tiap era punya pemainnya sendiri. Dan tiap kali manajer pergi, pemain-pemain itu ikut jadi beban. Bukan karena mereka pemain jelek, tapi sesederhana karena mereka bukan pemain yang diinginkan pelatih selanjutnya.
Bruno juga bilang, rekrutmen musim panas lalu dilakukan dengan pendekatan berbeda. Cunha, Mbeumo, Sesko bukan dipilih karena cocok sama satu sistem. Mereka dipilih karena karakternya, karena profesionalitasnya. Dan di MU, kata Bruno, karakter lebih penting dari skill.
Kalau gue pribadi, ini yang paling bikin menarik. Karena untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rasanya MU rekrut pemain untuk klubnya, bukan untuk pelatihnya.
Dan yang paling bikin gue hopeful, pemain-pemain musim panas lalu tetap survive pergantian pelatih. Cunha, Mbeumo, Sesko gak jadi korban siklus yang sama. Mereka masih di sini, masih relevan, masih jadi bagian inti tim.
Mungkin inilah bedanya kalau rekrutmen dilakukan dengan benar (?) 🤔
#utdfocusid
Wayne Rooney on Roy Keane Instagram story:
He sounds desperate for attention. Every Manchester United legend wants the club back to its glory days—except him. Constantly slandering the players and even his former teammate Michael Carrick is just sick.
STEVE HOLLAND FIXXXXX
(Preferensi pribadi of course)
List keberhasilan dia
- Masa jaya Chelsea dari 2010 era Ancelotti hingga Conte
- UCL Chelsea vs Barcelona super team 2012 itu? Ada dia
- Euforia Timnas Inggris hampir menang? Ada dia
- Carrick dan Manchester United naik daun? Ada dia (Walaupun ini aku ga tau detilnya gimana bisa ngikut Carrick)
Cuma memang entah kenapa ga jadi Head Coach.
Kalau dari baca-baca nih, Holland ini bangun taktik menyesuaikan atribut pemain bisa dipush dimaksimalkan sampe mana potensinya terhadap opsi taktis yang ada.
Coba lihat Chelsea semenjak ditinggal dia di 2017 terpingkal-pingkal tertatih-tatih ga jelas dan ga stabil.
Bonus, ada satu coach lagi di era Chelsea yg bagus, tapi sayangnya wafat. Ray Wilkins.
Roy Keane abis kena komen sama Bruno Fernandes di podcast Diary of CEO.
Abis ini dia marah-marah komen nyindir Bruno di the Overlap terus ngajak Gary Neville ikut-ikutan, terus kumpulin Scholes sama Butt buat komen nyerang Bruno dan Manchester United.
Well, kalian legenda dan idola saya sedari kecil menonton bola, but just shut up. Support the team and support the players!
Gue ga pernah melihat legenda tim lain yang seberisik dari legenda-legenda Manchester United ini.
Seperti yang gue bilang di eps terbaru @Box2BoxBola jadi pemain or pelatih Manchester United yang diurusin bukan gimana cara ngalahin tim lain doang, tapi ada legenda-legenda yang suka nyinyir yang buat suasana jadi makin kusut.
Gimana tanggapan warga soal ini?
Gue baru aja selesai nonton podcast Bruno Fernandes bareng The Diary of a CEO yg di-upload siang tadi.
Kesimpulannya? Bruno gak layak dijadiin pemain bola panutan.
Gak layak kalo cuma diliat dari sisi itu aja. Ini orang beneran role model as human being in general. Ultra-positive person & such outstanding athlete. Curanggg.
Entah lah, gue ga pernah sebegininya sm pemain Manchester United. Not even Rooney, RvP, Cristiano. Gak ada yg kharisma & aura leader dia bener-bener nyengat banget. Out of the roof.
Satu jam setengah dengerin dia cerita soal masa kecilnya, karier dia as pemain bola sejauh ini, keluarga, dan spell di United.
Ternyata yg bikin Bruno bisa jadi gelandang terbaik di dunia & super kreatif kayak skrg turut ngelibatin standar tinggi yg diterapin bapaknya dulu.
Bisa aja dia bikin hattrick di akademi, tapi pas pulang blm tentu pulangnya dipuji, justru dapet kritik soal room of improvement yg bisa dibenerin lagi.
Tau apa? Itu juga yg dia lakukan as captain di United. Semua pemain, entah lebih senior atau lebih jago, bakalan dia tuntut buat upgrade terus.
Bahkan dia bilang: “Gue ngomong ke temen-temen setim. Hari di mana gue berhenti ngomong sama lo, di mana gue berhenti neriakin lo, itu artinya gue udah ga percaya sama lo lagi. Di mata gue, lo udah ga bisa improve lagi.” Subject 49 & Jancho mungkin paham.
Podcast yg layak buat didengerin United fans. Selain bikin lo makin bersyukur punya pemain kayak Bruno, di gue bikin makin semangat nabung biar bisa nonton dia live di Old Trafford. Please banget 😭
Kalo lagu “The Man I Need” punya Olivia Dean itu ada wujudnya, ya itu lah Bruno.
Nonton!