After a certain age, your parents slowly become your children. They ask simple questions, repeat stories, and depend on your patience the way you once depended on theirs. Very few understand this role reversal. What looks like innocence or inconvenience is really time coming full circle. Don't correct them harshly. Don't rush them. Care for them the way they once protected you. This is not a burden. It is repayment.
AKU SERING MELIHAT....
Laki-Laki ditempat umum yang sedang MELIRIK wanita lain, padahal laki-laki itu sedang bersama pasangannya.
Dan aku memakluminya dengan pikiran, semua orang punya mata untuk melihat siapa saja,
Tetapi...
Setelah itu aku melihat lagi, laki-laki dengan pasangannya tetapi ia MENUNDUKKAN pandangan pada wanita lain.
Kesimpulannya...
ternyata itu semua masih tergantung lelaki yang mampu menjaga pandangan nya atau tidak
Sore tadi membaca kembali salah satu quote yang entah dari siapa, yang bunyinya:
"A parent's primary responsibility is not their child's day-to-day happiness.".
Children need to experience the full spectrum of human emotions, including sadness, anger, boredom, and disappointment, while in a safe environment. If they are constantly rescued from negative feelings, they never develop the internal coping mechanisms required for healthy adulthood.
Menurutku, ada 3 masalah yang cukup umum dihadapi banyak cowok:
- baru mulai dapet kerjaan dan mulai nikmati gajinya sendiri, udh didorong2 utk nikah dan ngehidupin anak orang.
- atauu, suka sama seseorang, tp hidupnya masih belum mapan, dan khawatir cewek yang disukainya keburu nikah sm orang lain.
- atauu, udah punya duit cukup, malah diincer sama sodara atau dapet pacar yang super demanding.