Ia seperti kitab berjilid-jilid tanpa isi. Tampilannya mengundang hormat, tapi ketika dibuka, halaman-halamannya kosong dari pemahaman. Ternyata jilid megah itu hanyalah kostum, dan setelah sekian lama, aku mulai lelah menjadi satu-satunya yang mengajarkannya menulis.
Ngopag tema pasca lebaran,
seharusnya lebih istimewa karena serpihan kebiasaan baik di romadon masih bisa dilanjutkan.
Namun jika kembali ke stelan pabrik,
dan leher kian mendongak ke atas,
rasa-rasanya anda masuk kategori ora umum.
Matinya Roda Jam’iyyah Kami
Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am. Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum).
Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen.
Ini bukan lagi soal organisasi yang macet. Ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati.
Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah. Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah jadi dokumen mati.
Tagline ingin “menghidupkan kembali Gus Dur”, nyatanya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin “governing NU”, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres. Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.
Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini….
Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy’ari dan para muassis NU lainnya 🙏🏻😰
Tabik,
Nadirsyah Hosen
6 akibat zina, menurut salah satu riwayat Rasulullah SAW. 3 di dunia dan 3 di akhirat:
- Menghilangkan wibawa.
- Membuat miskin.
- Mempercepat kematian.
- Dimurkai Allah.
- Hisab yang sulit.
- Adzab di neraka.
Menghormat = budak
Jongkok = berlebihan syirik
Ngasih amplop = eksploitasi
Imam Muslim pernah mencium kaki Imam Bukhori, mungkin dibilang budak oleh netizen.
Khidmah dari dulu menjadi bahasa cinta diajarkan ulama lintas generasi sekarang dipandang kultur feodal.
Meneruskan postingan saya yang kmren, bhw sebagian ulama membolehkan mencium kaki seorang ahli ilmu.
Namun, sbgian lain mengatakan bahwa hal itu hanya berlaku utk Nabi sj (min khushusiyyat an nabiy). Salah satu ulama yg mengatakan demikian adl Al Fayumi https://t.co/3DnDEUQM1D
Kalau kata Syaikh Muhammad al-Ghazali:
"أنا لا أخشى على الإنسان الذي يفكر وإن ضل، لأنه سيعود إلى الحق"
"Saya enggak takut sama orang yang berpikir meski dia tersesat, karena ia akan kembali pada kebenaran."
Maka, bacalah sampai tersesat dan berpikirlah sampai kembali. :)
🔴Mari membaca kembali Surat Wasiat dari seorang Mujahid Gaza yang gugur syahid. Surat ini diambil oleh tentara Zionis kemudian dipampangkan di hadapan media mereka.
إن الله اشترى.. يا أحفاد خالد والزبير، إن الله قد خصكم وأتاح لكم شرف الجهاد لتعرضوا بضاعتكم وتبتاعوا الجنة، فأحسنوا العرض وأسنوا نصالكم وأخلصوا لله نواياكم فإن نبيكم ودّ لو يغزو فيُقتل ثم "يغزو فيُقتل" ثم "يغزو فيُقتل" فالله الله فيما تعرضون عليه سبحانه ليشتري منكم نفوسًا تاقت للقاء ربها ورؤية نبيها محمد وصحبه أبا عمارة وسعد وخالد، واعلموا أن عدوكم هذا داء، لا دواء له إلا ضرب الرقاب وخلع الأفئدة والأكباد فأصيلوا عليهم وأَعمِلوا فيهم سيف أبا سليمان وأنزلوا فيهم حكم سعد، فبسم رب خيبر نبدأ وبسيف ذو الفقار نضرب.
"Sesungguhnya Allah telah membeli*... Wahai keturunan Khalid bin Walid dan Zubair bin Awwam, sesungguhnya Allah telah memilih kalian dan memberikan kesempatan kepada kalian untuk meraih kemuliaan jihad, agar dengannya kalian bisa menawarkan dagangan kalian lalu membeli surga.
Maka baik-baiklah dalam penawaran kalian, tajamkan anak panah kalian, dan ikhlaskan niat kalian hanya untuk Allah semata. Sesungguhnya Nabi kalian pernah berharap beliau bisa berperang lalu syahid, kemudian berperang lagi lalu syahid, dan berperang lagi lalu syahid lagi (karena kemulian mati syahid -red).
Maka, demi Allah, perhatikan baik-baik apa yang telah kalian tawarkan kepada-Nya, agar Dia berkenan membeli dari kalian jiwa-jiwa yang rindu berjumpa dengan Tuhannya dan rindu melihat Nabi-Nya Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam), serta para sahabatnya: Abu 'Amarah (Hamzah bin Abdul Muthalib yang dijuluki "Singa Allah"), Sa'd, dan Khalid bin Walid (sang pedang Allah yang terhunus).
Ketahuilah bahwa musuh kalian ini adalah penyakit yang tidak ada obatnya kecuali dengan memenggal leher, mencabut jantung, serta jiwa mereka. Maka, seranglah mereka dengan keras, gunakan pedang Abu Sulaiman (Khalid), dan terapkan hukuman Sa’d (bin Mu'adz) atas mereka. Dengan nama Rabb Khaibar kita mulai, dan dengan pedang Dzul Faqar kita menebas."
*Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. [QS At-Taubah: 111]
Sebuah dilema klasik di hari Jumat antara ingin langsung duduk mendengarkan khotbah atau salat sunah terlebih dahulu. Pernah merasakan?
Jauh sebelum ini terjadi pada kita, ulama ahli fikih telah memberi catatan menarik tentang hal ini. Daripada bimbang yuk simak penjelasannya.
Muhammad Basyir Al-Ibrahimi ra :
Diantara sikap yang akan menjadikanmu disegani dan dihormati musuhmu adalah hendaknya engkau menjadi orang yang cerdas, tegas dan banyak berbuat bukan hanya bicara.,
إنه مثل الشعور بالفراغ ولكنك لا تعرف بالضبط ما هو، وهو مثل الشعور بالألم ولكنك لا ��عرف كيف يبدو
ꜱереr𝗍ı 𝗆еrαꜱα𝗄α𝗇 hα𝗆рα 𝗍αрı 𝗍ıdα𝗄 𝗍αhυ ȷеΙαꜱ𝗇уα αрα, dα𝗇 ꜱереr𝗍ı 𝗆еrαꜱα𝗄α𝗇 ꜱα𝗄ı𝗍 𝗍αрı 𝗍ıdα𝗄 𝗍αhυ bе𝗇𝗍υ𝗄 Ιυ𝗄α𝗇уα bαgαı𝗆α𝗇α