Dear ami,
Tetap kuat dan tabah yaa :')
Terima kasih sudah bertahan sampai detik ini walopun dihempas oleh badai cobaan :')
Yakin aja kalo Allah SWT sayang sama kamu mi :')
Dokter dan nakes menyuarakan gaji kalian kecil dan beban kerja berat itu pasti 100% didukung masyarakat.
Tapi yang kalian lakukan di kasus kemarin itu bukan menyuarakan, kalian memaki, menyuruh orang sakit menggores nadinya, menyuruh pasien masuk ke kamar jenazah, membodoh"kan pasien dan ketikan jahat lainnya.
Kalian nakes dan dokter punya masalah dengan tempat kerja, tapi kalian lempar masalah kalian ke pasien yang bahkan dari mereka mungkin tidak lulus SD, tidak bisa membaca, ekonomi kurang, ditambah sakit yang dideritanya.
Sebagai pasien dan warga negara harusnya kami ini, termasuk nakes dan dokter dijamin 100% oleh negara, kami harusnya tak perlu membayar iuran tiap bulan BPJS itu. jadi jangan kalian benturkan kami-kami ini dengan masalah yang anda hadapi.
Jika gaji kalian rendah, jam kerja kalian berat kalian punya organiasi yang begitu banyak untuk memperjuangkannya hak-hak kalian. kami sebagai masyakarat pasti mendukung.
tapi tolong jangan benturkan pasien dengan kalian. kalian mengeluh dengan kami pun tak akan ada hasil. kami ini berasal dari piramida dasar dinegara ini.
15 tahun yg lalu tepatnya pada tanggal 18 Juni 2011 sebuah tragedi terjadi di Big Brother Indonesia yg disiarkan Trans TV. Seorang peserta asal Medan bernama Luthfi didiskualifikasi & ditangkap polisi ditengah acara karena statusnya sebagai buronan penggelapan di Medan. Bahkan penangkapannya pun disiarkan live & disaksikan penonton di lokasi (gedung Trans Media).
Status ini mulai terungkap ketika korban2nya menghubungi Trans TV & pihak Trans TV langsung datang ke lokasi yg berkaitan dgn Luthfi untuk konfirmasi. Bahkan penyelidikannya diputar setiap hari selama 2 minggu.
Ada yg pernah nonton gk?
Setuju banget sama Raditya Dika:
“Kita tidak sepenting itu untuk orang lain. Berhenti memikirkan hal yang di luar kuasa kita. Pendapat orang soal kita itu di luar kuasa kita, nggak usah dipikirin.”
Jadi, lakuin apa yang kamu suka karena yang ngejalanin hidup itu kamu ✨
Buat yg suka mendem emosi/perasaan secara kronis, alias berlama2 mendem, ga diungkapin, dst, punya risiko kematian dini yg lebih tinggi dibandingin yg mampu nyalurin emosinya dg baik 🥺
Kamu tipe yg suka mendem atau nggak? Klo iya? Pls baca utas iniiii 🥺🥺🥺
Dan di situ kita belajar satu hal penting: nggak semua hal perlu kita respons. Nggak semua opini perlu kita lurusin. Nggak semua drama perlu kita ikut masuk.
Kadang, diam itu bukan kalah, tapi cara kita melindungi energi sendiri. Milih tenang itu juga bentuk kedewasaan, karena kita sadar, hidup kita nggak harus habis buat hal-hal yang nggak membawa kita ke mana-mana.
Semakin kita ngerti batasan, semakin kita juga ngerti mana yang layak tinggal, dan mana yang cukup kita lewati aja.
Aku setuju dengan statement ini:
"Bahwa hidup akan jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan. Not everything is our attention, not everything deserve our energy. Ada banyak hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa harus selalu kita dengar, kita bahas, ataupun kita lihat".
Pernah iseng kepo sama selisih angka atas dan bawah saat cek tensi nggak?
Misal nih, tensimu ketahuan 130/100 mmHg. Selisihnya kan 30 mmHg, apa makna dari angka selisih tsb? Normal gak?
Banyak yg belum tau krn emg jarang disebut2 saat menganalisis hasil tensi. Kita bahas yok!
@themidniterain Kayanya nunggu bunda beres dari Bali deh soalnya bunda sempet bisik2 ke perut sampe elus2 nanti tunggu sampe selesai nikahan om di Bali yaa hehehehe
gue tuh ngerasa DEG banget pas baca quote (gue lupa baca dimana)
“kalo doa tuh jgn ngukur kemampuan kita. tapi ukur kemampuan Allah”
iya juga ya. ngapain kita doa minta yg kecil kecil? wong Allah Maha Kuasa dan Maha Besar pemilik langit bumi beserta isinya????
tanda Allah sayang kita yg kita sering ga sadar :
🔅dikasih rasa bersalah saat ngelakuin maksiat
🔅dikasih rasa gelisah kalo belom solat
🔅dikasih keinginan untuk ibadah
🔅dikasih rasa sadar diri sebagai pendosa
🔅dikasih dorongan untuk bertaubat
🔅digerakkan untuk berdoa
karena nyatanya, banyak org even muslim sekalipun yg udh ga dikasih rasa rasa ini sama sekali🥲
Guys, ada pertanyaan yang menurut gue sudah terlalu lama dijawab dengan cara yang salah.
Kenapa orang pintar sering gagal?
Dan Feri Irwandi orang yang masuk STAN karena iseng, kerja 10 tahun di Kementerian Keuangan, sekarang S2 di Monash Melbourne punya jawaban yang sangat tidak klise.
Kecerdasan tanpa kemampuan berpikir mandiri adalah racun:
Feri punya pengalaman langsung dengan ini waktu di STAN.
Teman-teman sekelasnya?
Orang-orang yang sebelumnya keterima FTTM ITB, Kedokteran UI, Kriminologi UI. Otak-otak terbaik Indonesia yang memilih masuk STAN.
Dan mereka semua belajar dari kisi-kisi.
Menghapal jawaban persis dengan yang diminta dosen.
Feri tidak mau melakukan itu.
Bukan sombong tapi karena dia punya satu pertanyaan mendasar:
Kalau lo belajar dari kisi-kisi sebelum ujian apa yang sebenarnya diuji?
Bukan kemampuanmu.
Kisi-kisinya.
Hasilnya:
ketika soal ujian sama persis dengan kisi-kisi — nilai Feri di bawah rata-rata.
Mereka yang hapal jawaban punya nilai sempurna.
Tapi ketika soal berbeda dari kisi-kisi Feri langsung top.
Mereka yang hapal jawaban bingung karena tidak ada template untuk dijawab.
Inilah paradoks orang pintar yang sering gagal. Mereka sangat terampil mengoptimalkan sistem yang sudah ada tapi ketika sistemnya berubah atau tidak ada panduan, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Karena selama ini yang dilatih bukan kemampuan berpikir tapi kemampuan mengikuti instruksi dengan sangat presisi.
Sekolah mengajarkan kita untuk mendapat nilai bagus.
Bukan untuk berpikir.
Dan orang yang paling mahir di sistem itu justru paling rentan ketika sistemnya tidak ada.
Perfeksionisme adalah bentuk lain dari ketakutan:
Orang pintar cenderung perfeksionis.
Dan perfeksionisme terdengar seperti sesuatu yang bagus standar tinggi, detail-oriented, tidak mau sembarangan.
Tapi Feri dan Jerome sepakat:
perfeksionisme dalam konteks action adalah musuh kemajuan.
Perfeksionis menunggu kondisi sempurna sebelum bertindak.
Menunggu ide yang benar-benar matang.
Menunggu momen yang tepat.
Menunggu skill yang cukup.
Dan selama menunggu orang lain yang mau mulai duluan meskipun hasilnya tidak sempurna sudah jauh di depan.
Kalau lu nunggu bagus baru mulai lu bakal kalah sama orang yang mulai dulu meskipun enggak bagus.
Dan ini bukan hanya soal kecepatan.
Yang mau memulai duluan belajar dari kesalahan nyata bukan dari simulasi sempurna di kepala.
Mereka mengembangkan kemampuan beradaptasi. Sementara perfeksionis terus menyempurnakan rencana yang belum pernah dieksekusi.
Feri menyebutnya dengan konsep matematika sederhana: frekuensi harapan. Semakin banyak percobaan, semakin besar probabilitas menemukan sesuatu yang bekerja.
Orang pintar yang perfeksionis membuat sedikit percobaan tapi masing-masing sangat terencana.
Orang yang mau terus mencoba membuat banyak percobaan dengan kualitas yang bervariasi dan dari volume itu, sesuatu yang besar hampir pasti akan muncul.
Orang pintar terlalu peduli dengan persepsi orang lain:
Ini yang paling menohok dan paling sering terjadi tapi paling jarang diakui.
Feri menyebutnya dengan sangat langsung: "Udah banyak banget gua ngelihat orang stres kehilangan dirinya.
Karena standar moral dan ukuran normal mereka dipengaruhi oleh orang yang bahkan enggak peduli sama mereka sama sekali."
Orang pintar yang tumbuh dengan selalu mendapat validasi juara kelas, pujian guru, pengakuan lingkungan menjadi sangat tergantung pada validasi eksternal.
Ketika validasi itu berhenti atau lebih buruk, berubah menjadi kritik mereka tidak tahu harus bertumpu pada apa.
Mereka mulai mengubah diri bukan karena keyakinan internal tapi karena ingin membuat yang tidak suka menjadi suka.
Mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan dengan uang yang tidak dimiliki untuk mengimpresi orang yang dari awal tidak pernah peduli.
Dan ini adalah spiral yang sangat melelahkan karena tidak ada ujungnya.
Karena: "No way. Mereka enggak akan melihat lu berbeda.
Tidak peduli seberapa banyak lo berubah untuk memuaskan mereka orang yang tidak suka akan selalu menemukan alasan baru untuk tidak suka.
Jerome menambahkan pengalamannya sendiri: ketika dia dukung timnas dan digoreng habis-habisan, instingnya adalah klarifikasi membuktikan bahwa dia memang suka sepak bola dari dulu, bukan ikut-ikutan.
Karena dia tidak mau terlihat salah di mata orang lain.
Tapi Feri dan Choki Pardede sama-sama bilang: "Udah, besok bilang aja minta maaf karena dukung timnas." Dan ketika Jerome melakukan itu dengan self-deprecating humor, mengakui dengan enteng — masalahnya langsung selesai.
Karena tidak ada yang lebih mematikan serangan daripada tidak memberikan reaksi yang diinginkan penyerang.
Paradoks terbesar: yang membenci justru yang membuat lo bertahan:
Ini yang paling counterintuitive dan paling didukung oleh riset yang Feri lakukan untuk disertasinya.
Untuk bertahan lama dan relevan yang perlu dibina bukan hanya yang suka.
Tapi justru yang tidak suka.
Logikanya: orang yang tidak suka sama lo memperhatikan lo dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dari orang yang suka.
Mereka yang menggerakkan percakapan tentang lo. Mereka yang membuat nama lo terus disebut.
Dan ketika mereka menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara yang impulsif dan emosional justru orang yang suka menjadi semakin yakin untuk mendukung lo.
Feri bahkan dengan sengaja mengetes ini: di periode paling banyak diserang, justru ketika serangan mulai mereda dia memancing lagi supaya tetap ramai. Dan hasilnya? Di saat yang bersamaan konversi penjualannya naik lebih dari dua kali lipat.
"Justru bukan memuaskan yang sudah suka. Justru membuat orang yang enggak suka itu apinya enggak padam. Karena dialah yang membuat lu terus terbakar."
Orang pintar yang gagal biasanya melakukan sebaliknya: mereka panik ketika ada yang tidak suka, berusaha menyenangkan semua pihak, dan akhirnya tidak punya positioning yang kuat di mana pun.
Semua orang suka mereka tapi tidak ada yang benar-benar peduli. Konversinya rendah. Massanya tidak militan. Dan ketika mereka ingin menggerakkan sesuatu tidak ada yang bergerak.
Tentang kebencian dan ini wisdom terpenting Feri:
"Membenci adalah hal yang lumrah. Kita pun akan membenci sesuatu. Tapi kalau manusia tidak bisa mengendalikan kebenciannya dia akan dimakan oleh kebencian itu sendiri."
Kebencian butuh energi yang sangat besar. Dan energi itu dikeluarkan untuk seseorang yang bahkan tidak tahu lo ada.
Tapi yang lebih berbahaya dari membenci orang lain adalah membiarkan kebencian orang lain mengontrol hidup lo.
Ketika lo membuat keputusan hidup berdasarkan siapa yang tidak menyukai lo dan bagaimana cara membuat mereka berubah pikiran lo sudah menyerahkan kendali hidup lo ke orang yang paling tidak layak memegangnya.
"Kendalikanlah kebencianmu lebih besar daripada kecintaanmu. Karena kalau lu dikendalikan sama cinta efeknya akan berbeda. Tapi ketika lu dikendalikan sama benci ya enggak bakal jadi apa-apa. Beneran."
Orang pintar sering gagal bukan karena kurang kecerdasan. Tapi karena kecerdasan itu justru menciptakan jebakan-jebakan yang spesifik:
terlalu mengandalkan sistem dan template, terlalu perfeksionis untuk mulai, terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan terlalu takut pada ketidaksukaan orang lain.
Yang benar-benar membuat seseorang bertahan dan berkembang bukan seberapa pintar mereka tapi seberapa baik mereka bisa berpikir mandiri ketika tidak ada panduan,
seberapa cepat mereka mau memulai meskipun belum sempurna, seberapa kuat mereka bisa bertumpu pada standar internal mereka sendiri, dan seberapa tenang mereka bisa menghadapi ketidaksukaan tanpa kehilangan diri.
Dan ironisnya semua itu justru tidak diajarkan di sekolah. Yang diajarkan sekolah adalah cara mendapat nilai bagus di sistem yang sudah ada. Bukan cara bertahan ketika sistemnya tidak ada.
@DPartamarga@Stakof Dani ngajuin banding sama kasasi cuman ditolak, terakhir ngajuin PK akhirnya diputuskan terserah anak2 mau ikut ayah atau ibu, cuman waktu itu anak2 kondisinya dirumah Dani dan kata Al waktu itu dilarang kerumah maia...
Kamu mungkin ngerasa gak punya apa-apa. No privilege, no backing, no connection.
Tapi Allah punya cara dari arah yang gak kamu sangka, ngangkat kamu, dan mempertemukan kamu dengan orang-orang yang tepat, di waktu yang paling tepat juga.
Jadi tenang aja, yang kamu butuhin cukup percayakan sama Allah.
Aku setuju banget sama kalimat ini:
“Banyak orang jadi nggak menarik setelah kita tahu cara pikir mereka.”
Dan mungkin itu kenapa aku selalu kagum sama orang yang cara pikirnya luas, tenang pas ngomong, dan ngerti gimana jadi manusia, bukan cuma sekadar hidup. Yang open minded tanpa ngerasa paling benar, yang tau batasan tanpa ngerendahin orang lain, dan nggak gampang ngejudge siapa pun.
Karena kecerdasan itu menarik, tapi empati dan respect itu yang bikin orang pengen tetap ada di hidup kita.