Kemayoran, Jakarta Pusat, 2026.
Selepas hujan, trotoar basah berubah menjadi panggung ironi.
Seorang anak kecil duduk memeluk bayi, menyuapinya dengan botol susu.
Kantong plastik merah tergantung di lengannya, sementara suara kereta melintas bersamaan.
Dunia terus bergerak, tapi anak itu berhenti di pinggir jalan, menjual kesedihan yang bukan miliknya.
Di kampung, orang berbisik: “Kalau orang tua benar, anak tidak akan terlantar.” Tuduhan pun muncul: orang tua sengaja menempatkan anak di ruang publik untuk memancing simpati.
Rupiah dianggap lahir dari air mata.
Namun di balik tudingan itu, ada kenyataan pahit: kemiskinan sering memaksa keluarga menjadikan anak sebagai wajah penderitaan.
Ironi itu jelas, Anak menjadi korban, bukan pelaku.
Orang tua bersalah, tapi juga terjepit oleh kemiskinan.
Negara abai memberi perlindungan, Masyarakat ikut bersalah, karena hanya menonton atau memberi receh tanpa solusi.
Anak yang seharusnya bermain, kini menjadi “orang tua kecil.”
Bayi yang seharusnya tidur di rumah, malah menangis di jalan.
Dan kita semua orang tua, negara, masyarakat, dunia terlibat dalam membiarkan kesedihan itu dijual.
Apakah ada yang lebih menyakitkan daripada negeri yang mengaku kaya, tapi membiarkan anak-anaknya tumbuh di trotoar basah selepas hujan?
Harga diri seorang laki-laki adalah bekerja mencari nafkah untuk keluarganya!
Meskipun harus merangkak dan menunggu belas kasih orang lain!
Ya Allah ampunilah kami yang selalu mengeluh dan sering kurang bersyukur atas semua nikmatMu!!
😭😭😭