JADI PRESIDEN KOK BANGGA HAMBUR2KAN UANG RAKYAT
PRARORO: Mentri minta Rp 5 Trilyun untuk pekerjaan diberi Rp 10 Trilyun.
JONAN: Hemat biaya dari Rp 1,5 Trilyun jadi Rp 36 Milyar. Untuk bangun 3000 Toilet Kereta Api.
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Global investors are rapidly losing confidence in Indonesia as the nation’s stocks tumble at the fastest pace worldwide and its currency sinks to all-time lows https://t.co/VWHvf16qJY
"Rupiah anjlok terhadap dolar AS. Sebetulnya, salah siapakah itu? Apa yang musti kita lakuken? Apa yang musti dibenahi oleh para penyelenggara negara?"
Bukankah akan sangat menggembirakan bagi kita apabila pejabat kita amat sangat mendengarkan pendapat para ahli dan praktisi?
Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya mengatur ketat arus informasi istana.
Mulai dari meminta wartawan memberitakan yang baik-baik saja, hingga menelpon manajemen dan petinggi media saat tidak suka dengan isi pemberitaan.
#DeadPressSociety#YaAkuBakalDibaca https://t.co/O6XCuqB4dA
"Gaji lu berapa per bulan?" tanya Tante Rina dengan tatap tajamnya.
"0,18 detik MBG, Tante," jawabku pelan tak berani menatap matanya karena malu.
Namun aku sedikit mendongak kepala melihat sedikit daripada raut wajahnya. Ia tersenyum tipis, terkesan merendahkan.
"Heh, anak tante ya sudah jadi direktur perusahaan multinasional. Gajinya 8,64 detik MBG, lho. Kamu ini sudah dewasa tapi masih menyusahkan orangtua!"
Rentetan kata-katanya menusuk hati dalam kalbu paling dalam, tetapi itu menyalakan api yang bersinar menyala-nyala dalam hatiku. Kugenggam tanganku dan berteriak kencang dalam hati, "KELAK GAJIKU SEKITAR 1 MENIT MBG!"
Batam awal 2000-an sampai sekitar 2017 orang lagi jalan pun dipanggil buat masuk ke PT saking melimpahnya lowongan kerja.
Zaman keemasan industri. Semua sektor tumbuh mulai dari elektronik, galangan, manufaktur, dll.
Namun, kejayaan itu pudar sering Vietnam yang lebih kompetitif. Banyak pabrik yang pindah ke sana. Ditambah lagi konflik kewenangan Pemkot Batam vs Otorita (sekarang menjadi BP Batam).
Ibarat kamu pengusaha, tapi yang malak ada dua institusi pasti malas kan.
😑
Lagian gak bakal ada dua harimau di dalam hutan yang sama. Tarik-ulur wewenang, konflik kepentingan, sampai tumpang tindih regulasi. Akhirnya Otorita disuntik mati. Sejak tahun 2019, Walikota Batam otomatis menjabat Kepala BP Batam.
Dualisme kelar, tapi Batam terlanjur gamang kebingungan. Mau fokus industri, sudah banyak PT yang kabur. Mau fokus wisata, masih ada industri yang hidup.
Habibie kalau bangkit dari kubur bakal menangis melihat Batam sekarang. Melenceng jauh dari proyek awal yang rencananya segala pusat aktivitas di pulau utama, sedangkan permukiman ke pinggir atau keluar pulau. Ini alasan Batam punya 6 jembatan megah, padahal belum ada apa-apa di pulau.
Barelang: Batam, Rempang, dan Galang.
Sekarang malah terbalik. Permukiman menjamur di pusat, mana rumah tapak semua.
😭
Giliran industri mau dibangun di Pulau Rempang sampai rakyat digebuki aparat.
🥲
Inna-sh-sholaata tanha 'ani-l-fakhsyaa i wa-l-munkar. Ayat ini hanya pembukaan, bukan kesimpulan.
Makanya di ayat lain Allah berfirman: Fawailul li-l-musholliin, alladziina hum 'an sholaatihim saahuun.
Jadi aneh kalau ada yg tersinggung dg bit-nya @pandji soal kriteria pemimpin jangan dipilih hanya karena mereka yg rajin sholat. Padahal ya bener, emang harusnya nggak hanya dilihat karena rajin sholatnya aja. Karena Pemimpin seperti Presiden, Gubernur, Walikota dll itu pekerjaan atau profesi yg memerlukan keahlian dan kapabilitas yg khusus.
Cak Nun di Maiyah sering menjelaskan, Agama itu letaknya di dapur, bukan di ruang tamu, apalagi di halaman rumah. Ibarat rumah makan, yg di etalase kan makanan yg sudah jadi, apa yg dilakukan di dapur, nggak perlu kita lihat, yg kita butuhkan adalah bahwa hasil olahan masaknya enak.
Di Maiyah, Cak Nun juga menjelaskan kalau Sholat itu input saja, outputnya tergantung pada kesiapan mental dan perilaku kita, juga bagaimana pergaulan sosial kita. Kita menjadi orang baik itu variabelnya banyak, bukan hanya dari ibadah yg kita lakukan saja.
Memang idealnya adalah, kalau kita Sholatnya baik, maka perilakunya juga baik. Jadi, rajin sholat aja nggak cukup, tapi kualitas sholat kita juga harus diperbaiki.
Pasti ada yg nyeletuk; "Nah, bener tuh, banyak kok orang yg nggak sholat tapi perilakunya baik, nggak jahatin orang lain, rejekinya lancar, kaya raya".
Yhaa kalau kita ngaku orang Islam, harus tetep Sholat. Perkara sholatnya masih bolong-bolong, atau belum tertib, itu urusan lain.
#PamerAjaDulu
Rp 5,4 TRILIUN.
Itu harta salah satu menteri di kabinet sekarang.
Datanya publik. Tapi siapa yang pernah cek langsung?
Gue bikin website biar gampang -> kawalharta 💰
Beberapa hari lalu saya melihat postingan IG @studisejarah ada foto Bung Karno sedang menari dengan seorang perempuan di Istana Cipanas tahun 1963 Saya perhatikan fotonya baik-baik, ada wajah yang raut mukanya saya kenal. Siapakah penari itu?