@erickkrizky Anak saya ga masuk kuota maung, lalu daftar PCMB jalur domisili tp sampe sekarang blm diverifikasi jg. Wondering apakah ketahan gegara sempat daftar di Maung?
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya.
Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku.
Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya.
Tidak menyebut nama kepala sekolah.
Tidak menyebut nama guru siapapun.
Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah.
Yang terjadi secara kronologis:
Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya.
Kepala sekolah memanggil dia.
Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak.
Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural.
Tidak ada proses klarifikasi yang fair.
Tidak ada mekanisme banding.
Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi.
Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara.
Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying.
Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan:
Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya:
Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami.
Berhenti sebentar di sini.
Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah.
Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu.
Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka.
Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik.
Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya?
Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak.
Ini bukan opini.
Ini fakta hukum.
Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah.
Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah.
Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa.
Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi.
Si Bapak tidak mengarang.
Dia mengingatkan aturan yang memang ada.
Dan untuk itu anaknya dikeluarkan.
Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar:
Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari.
Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik.
Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi.
Mengkritisi MBG bukan kejahatan.
Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan.
Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan.
Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik:
Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga.
Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya.
Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri.
Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya.
Itu yang terjadi di sini.
Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka.
Apa yang seharusnya terjadi secara hukum:
Pertama — sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial.
Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31.
Kedua — pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah.
Ketiga — bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa.
Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang.
Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu.
Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini:
Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan."
Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah."
Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran.
Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan.
Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu.
Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia:
"Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan."
Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan.
Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani.
Mas Azhim berhak atas pendidikannya.
Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
If you're in a relationship you shouldn't be talking to:
- Your ex.
- Someone who clearly likes you.
- Someone who used to like you.
- Someone you used to like.
- Someone who's waiting their turn.
- Someone who disrespects your partner.
This isn’t being toxic, this called basic respect.
Izin memberikan info mengenai pertolongan pertama bila terkena air keras.
Air keras itu kalau terkena tubuh termasuk ke dalam acid and chemical burn. Beberapa hal yang dapat kita lakukan antara lain:
- Lepaskan semua pakaian atau benda yang terkena zat kimia tersebut, bila memungkinkan
- Singkirkan bila ada zat kimia kering dari kulit
- Berikan air yang banyak atau air mengalir ke area yang terkena zat kimia selama 1 jam terus menerus
- JANGAN berikan apapun, termasuk krim atau zat kimia lain, ke area tubuh yang terkena air keras
-Segera bawa ke RS terdekat agar segera mendapatkan penanganan memadai
Semoga bermanfaat.
Sumber: NHS
Ada nenek mencuri singkong untuk hidup, dipenjara. Ada pria paruh baya mencuri 2 labu untuk bukan puasa bersama ibu, dianiaya hingga hilang nyawa.
Ringkih banget ini negeri…
Interviewer: How much milk does your cow produce?🥛
Farmer: Which one, the black one or the white one?🐄
Interviewer: The black one.
Farmer: 2 litres per day.
Interviewer: And the white one?
Farmer: 2 litres per day.
Interviewer: Your cows look healthy. What do you feed them?
Farmer: Which one, the black one or the white one?
Interviewer: The black one.
Farmer: Grass.
Interviewer: And the white one?
Farmer: Grass.
Interviewer: (Annoyed) But why do you keep asking if it’s the black one or the white one when the answers are just the same?
Farmer: Because the black one is mine.
Interviewer: And the white one?
Farmer: It’s also mine.😂🐄
@kompascom Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya akan melanjutkan gugatan perkara ini apapun hasilnya
Mohon dukungan & doa dari semuanya, demi Pendidikan kita. Panjang umur Pekerja Pendidikan 🙏
@KangManto123 Selain sex diluar nikah bisa dipenjara, sekarang polisi bisa bebas mengambil data kita. Akun bank, bahkan media sosial kita..
Selamat datang new orba
BAYANGKAN. Ketika Presiden Prabowo bilang mau memperluas sawit di Papua, ada ribuan monster seperti ini yang sudah, sedang dan bakal menghabisi hutan Papua.
Foto: 2.000 eskavator & buldozer pesanan Haji Isam (Jhonlin Group) utk garap 2-3 juta hektar food/energy estate di Papua.
"Every Tuesday at 3 PM, my mother calls the same wrong number.
Has for six years.
"Hello, this is Susan. Is Robert there?"
Same response every time, "No Robert here. Wrong number."
"Oh, I'm so sorry to bother you."
Then she hangs up. Sets a reminder for next Tuesday.
I thought it was dementia. Mom's 71. Maybe forgetting she'd already tried this number.
"Mom, that's not Robert's number. You've called it 300 times. Why do you keep calling?"
She looked at me strangely. "I know it's not Robert's number."
"Then why"
"Because someone answers."
Turned out, the woman who answers is 83. Lives alone. Has severe social anxiety. Never leaves her apartment. No family. No friends.
"Six years ago, I called your brother's old number by mistake," Mom explained. "Woman answered. We talked for two minutes. When I apologized for the wrong number, she said, 'Please call again anyway. Nobody calls me.'"
"So you just... kept calling?"
"Every Tuesday. We talk for exactly twelve minutes. About nothing. Weather. TV shows. Her cat. Then I say I have to go, and she says okay."
"For six years?"
"For six years."
"Does she know you're calling on purpose?"
"Of course. I'm not subtle. But we maintain the fiction. I 'accidentally' call. She 'happens' to answer. We pretend it's chance, not choice."
"Why the pretend?"
"Because accepting help is hard. Accepting a wrong number is easy."
Mom's phone buzzed. Tuesday, 3 PM reminder.
She dialed. "Hello, this is Susan. Is Robert there?"
A pause. Then laughter. "No Robert here, Susan. But I'm here. How was your week?"
I listened to them talk. About the weather. A TV show. The cat's vet appointment.
Twelve minutes exactly. Then, "I should let you go."
"Okay, Susan. Same time next week?"
"Oh, I'm sure I'll accidentally dial this number again."
More laughter. Goodbye.
Mom hung up. Looked at me. "Her name is Dorothy. I've never met her. Don't know her last name. Don't know her address. Just her voice every Tuesday for twelve minutes."
"What if you stop calling?"
"Then she stops having Tuesdays."
Mom died last year. Suddenly. Heart attack.
I found Dorothy's number in her phone. Called it.
"Hello?"
"Hi. My name is Sarah. I'm Susan's daughter. I think... I think you were expecting her call today."
Silence. Then crying.
"She's gone, isn't she?"
"Yes. I'm so sorry."
"Can I ask you something? Did she ever tell you why she really called?"
"She said you needed someone to call."
"That's what she told you. But I'm calling to tell you why I answered. Because your mother's voice on Tuesdays was the only thing that kept me alive. I had the pills ready four times. Four different Tuesdays. And every time, at 3 PM, she called. And I couldn't do it after hearing her voice."
I've been calling Dorothy every Tuesday for nine months now.
Same time. Same "wrong number" fiction.
Because my mother taught me, sometimes the most important call you make is to the wrong person.
On purpose.
Every Tuesday.
For as long as someone answers."
.
Let this story reach more hearts....
.
AI image is for Demonstration purpose only.
.
Credit: Grace Jenkins
Ben Affleck on how only Muslims receive collective judgement:
“We’ve kiIIed more Muslims than they’ve kiIIed us by an awful lot.
We’ve invaded more of their countries than they have ours by an awful lot.
And yet, somehow, we’re exempt from judgement”
This comparison is flawed at every level.
Mecca is not a city open for sightseeing, diplomacy, or interfaith exchange. It is the spiritual center of a single, very specific form of worship that requires belief, intention, and participation. Allowing people who do not believe in or respect those rites would undermine the purpose of the place itself.
Calling this “apartheid” is inaccurate and intellectually dishonest. Apartheid was a racial hierarchy enforced to exploit and dehumanize people. Mecca excludes no race, no ethnicity, no nationality. A Black Muslim, a White Muslim, an Asian Muslim, and a European Muslim stand equal shoulder to shoulder. That alone destroys the apartheid claim.
The idea that non-Muslims are banned because they are “dirty” is false. Islam teaches that all humans are honored by God. The issue is not physical cleanliness or human worth, but religious sanctity something every faith recognizes in its own way. You cannot take communion without being Christian. You cannot perform Jewish temple rites without being Jewish. You cannot enter restricted sacred zones without meeting their religious conditions. No one labels those as hatred or segregation.
Jerusalem is open because it contains holy sites for multiple religions. The Vatican is open because it also operates as a museum-state. Mecca does not serve those functions. It exists only for Islamic worship nothing else. Respecting a religion means respecting its boundaries, not demanding access to everything it holds sacred.
Disagreement does not grant entitlement.
sat next to a guy on a flight who smelled like old money
rolex. tailored suit. reading a physical newspaper like it was 1987.
figured he was some finance executive or inherited wealth.
we got talking. I mentioned I sell stuff online.
he put down his newspaper.
"what kind of stuff?"
digital products. courses. ebooks. that kind of thing.
he smiled weird.
"I made $4 million last year selling a PDF about aquariums."
I thought he was messing with me.
he wasn't.
this guy is 61 years old. spent 30 years as an accountant. hated every second of it. retired at 55 with decent savings but nothing crazy.
his hobby was aquariums. had been keeping fish tanks since he was 12.
"my wife told me to start a blog so I'd stop boring her with fish facts."
so he did. wrote about aquarium stuff 3 times a week. water chemistry. tank setups. fish compatibility.
for 2 years nobody read it.
"I had maybe 50 visitors a month. all probably bots."
but he kept going because he had nothing else to do.
year 3, one article ranked on google. then another. then another.
suddenly he was getting 100K visitors a month. all people searching for aquarium help.
"I realized these people would probably pay for a complete guide. so I wrote one."
147 pages. everything about setting up and maintaining an aquarium.
priced it at $47.
first month: $6K
first year: $340K
last year: $4.2 million
from a PDF about fish tanks.
I asked about his marketing strategy.
"I don't have one. google sends people to my blog. blog mentions the guide. people buy it. I go play golf."
no email sequence?
"I have a newsletter. I send fish tips once a week. sometimes I mention the guide at the bottom. that's it."
no upsells?
"I made a second guide about saltwater tanks specifically. $67. people who bought the first one usually buy the second. that's my whole business."
no team?
"my wife helps with customer service. we get maybe 10 emails a day. most are just people showing us their tanks."
this 61 year old retiree built a bigger business than most "entrepreneurs" I know.
no ads. no funnel hacks. no growth strategies. no personal brand.
just mass expertise in one weird niche and patience to let it compound.
before we landed he gave me advice I didn't ask for:
"everyone your age wants to get rich fast. that's why most of you stay broke. I wrote about fish for 2 years before making a dollar. now I make more than I did in 30 years of accounting. speed is overrated. patience pays."
the plane landed. he grabbed his newspaper and walked off.
probably went home to feed his fish.