PS6 and Next Gen PSP
⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀
• Set to launch late next year per reports
• A powerful home console and a less powerful handheld
• Both would be capable of playing PS6 PS5 and PS4 games
• The current plan is mass production in mid 2027
• Prices continue to rise for ram and could cause a delay but for now, 2027 is the launch time scheduled
Individu seperti ini cenderung memiliki watak keras kepala, merasa tahu dan pendapatnya paling benar, serta tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.
salah satu alasan kenapa Belanda bisa lama di Indonesia, karena mayoritas orang gak merasa terjajah dan kebanyakan masih buta huruf.
bahkan ada yg sampai menolak untuk merdeka, sambil nyinyir :
"ngapain sih berjuang2, mending kerja, berangkat ke kebunnya Meener, panen tebu, dapat duit, hidup sewajarnya aja, ga usah aneh2"
hingga munculah beberapa orang yg mulai menyadarkan orang2 bahwa kita sedang terjajah, melalui radio dan koran.
namun ada dua hal yg terjadi kalau memberontak : mati atau diasingkan ke pulau lain, bahkan seorang Ratu pun ada yg sampai ditangkap dan diasingkan karena berani melawan.
dan banyak yg berjuang karena merasa terjajah juga dimatikan, seperti saat genosida Banda, pembantaian Kuta Reh di Aceh, sampai Puputan Klungkung yg korbannya ga main2.
sound familiar gak sih? 🤔💭
3 Agustus 1982, setelah dari Jakarta Ratna Sari Dewi dan putrinya Kartika mengunjungi Pulau Bali, tempat kelahiran ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai.
When titans show the ultimate respect to each other.
Suzuka 2000.
Mika loses the 3rd consecutive title to Schumi.
Mika smiles to him and Schumi responds mega!
That's the huge mutual respect between two legends on the late 90s era.
Gue janda 37 tahun. Kemarin makan siang sendirian di restoran yang lumayan rame. Di meja sebelah, ada tiga cowok umuran 30-an, keliatan mapan, ngobrol serius.
Satu ngomong: "Gue sama istri udah setuju nunda anak. Cicilan rumah aja masih 15 tahun, mobil 5 tahun. Belum biaya lahiran, belum nanti sekolah. Mending nabung dulu."
Yang lain nyamber: "Gue malah mikir, di zaman now... nikah itu masih worth it nggak sih?"
Gue yang lagi nyeruput es teh langsung berhenti. Sendok gue taruh pelan.
Pertanyaan itu ngena banget. Karena gue sendiri, janda 37 tahun, hampir empat tahun di dating app bahkan sering banget mikir hal yang sama.
Dulu gue nikah karena "udah waktunya". Semua orang nikah. Keluarga nanya terus. Temen-temen udah pada bikin undangan.
Tapi sekarang, setelah bercerai dan lihat realita hidup? Gue jadi bertanya-tanya: menikah di zaman sekarang itu masih worthed nggak sih?
Bukan dalam arti sinis. Tapi beneran, secara logika, secara finansial, secara mental.
Mari kita hitung sama-sama. Angka-angka ini realita Jakarta dan sekitarnya.
Biaya nikah dulu. Sewa gedung, catering 500 orang, dekor, fotografer, baju, mahar. Minimal? 100-150 juta. Itu minimal. Banyak yang habis 200-300 juta.
Buat apa? Buat pesta 3-4 jam yang lo sendiri nggak bisa nikmatin karena sibuk foto sama 500 tamu yang setengahnya lo nggak kenal.
Sesudah nikah: tempat tinggal.
KPR rumah tipe 36 di Jabodetabek sekarang minimal 500-800 juta. Itu yang di pinggiran. Kalau mau deket kantor? Siapin 1-2 M.
Cicilan per bulan? 4-7 juta. Fix. 15-20 tahun.
Lo belum punya dapur sendiri, tapi cicilan udah kayak nyicil istana.
Mobil? LCGC sekarang 200-an juta. Cicilan 3-4 juta per bulan. Belum bensin, servis, pajak, asuransi. Motor? Bisa. Tapi kalau nanti punya anak, lo butuh mobil.
Transportasi rumah tangga itu sekarang udah bukan kemewahan. Tapi kebutuhan yang nyedot 20-30% penghasilan gabungan.
Bulan madu selesai. Lo mau punya anak?
Biaya lahiran normal di RS swasta bagus: 20-40 juta. Caesar? 40-80 juta. Itu baru lahirannya. Belum kontrol kehamilan tiap bulan. Belum vitamin. Belum USG.
Belum kalau ada komplikasi.
Anak udah lahir. Sekarang biaya bulanan.
Popok: 500-700 ribu per bulan. Susu formula: 1-1,5 juta per bulan. Vaksin yang nggak ditanggung BPJS: bisa 2-5 juta per dosis. Belum baju. Belum mainan. Belum babysitter kalau lo berdua kerja.
Masuk playgroup: 1-3 juta per bulan. TK swasta biasa: 2-5 juta per bulan. SD swasta bagus: 3-10 juta per bulan. Belum les. Belum buku. Belum uang gedung yang suka tiba-tiba muncul.
r
Lo masih napas? Gue kasih lanjutan.
Kuliah nanti. Sekarang UKT di PTN aja bisa 5-15 juta per semester untuk jurusan favorit. PTS? 20-50 juta per semester.
Dari TK sampai S1, estimasi biaya anak di kota besar: 500 juta - 1,5 M. Satu anak. Kalau dua? Lo hitung sendiri.
Sekarang bandingin sama penghasilan.
UMR Jakarta 2024: 5 jutaan. Fresh graduate kerja kantoran: 6-8 juta. Profesional 5-10 tahun: 15-30 juta.
Tapi berapa persen yang penghasilannya segitu? Mayoritas pasangan muda di Indonesia hidup di bawah atau pas-pasan dengan angka tadi.
Jadi pertanyaannya: nikah + punya anak + KPR + mobil + biaya sekolah… itu realistis atau mimpi?
Di sinilah gue berhenti sejenak.
Gue bukan anti-nikah. Gue janda, bukan berarti gue trauma dan benci pernikahan. Tapi gue realistis.
Dulu generasi orang tua kita nikah muda, punya anak banyak, dan berhasil. Kenapa? Karena dulu:
Biaya hidup lebih rendah
Harga tanah masih masuk akal
Sekolah negeri masih murah
Satu gaji cukup buat satu keluarga
Sekarang? Satu gaji cukup buat lo sendiri aja udah syukur.
Tapi gue juga lihat sisi lain.
Ada temen gue yang nikah, berdua kerja, atur keuangan rapi, dan mereka bahagia. Anak satu, sekolah negeri, liburan secukupnya, rumah sederhana. Mereka sadar: nggak perlu gengsi, yang penting fungsi.
Jadi mungkin masalahnya bukan "nikah nggak worth it". Tapi "gaya hidup yang dipaksakan setelah nikah".
Kita terbebani ekspektasi: resepsi harus mewah, rumah harus cluster, anak harus sekolah swasta favorit, mobil harus yang bagus. Sosial media bikin kita ngerasa semua orang sukses dan mampu.
Padahal realitanya? Banyak yang di balik foto Instagram, lagi pusing mikirin cicilan.
Gue juga mikir: nikah itu bukan cuma soal duit.
Ada nilai companionship. Ada rasa aman. Ada partner buat berbagi beban mental. Ada yang nyambut lo pulang kerja. Ada yang megang tangan lo pas lo down.
Itu nggak bisa dihitung pake excel.
Tapi di sisi lain, companionship nggak akan bertahan kalau setiap bulan lo berantem soal uang. Kalau cinta ada, tapi dapur nggak ngebul, cinta itu lama-lama jadi asap.
Jadi, nikah di zaman now itu worth it atau nggak?
Jawaban gue: worth it, KALAU lo ketemu pasangan yang realistis, sepaham soal keuangan, dan nggak gila gengsi.
Tapi kalau lo nikah cuma karena tekanan sosial, terus lo berdua nggak siap secara finansial dan mental? Itu resep bencana. Gue udah ngerasain sendiri.
Sekarang gue pengen denger pendapat lo.
Menurut lo, nikah di zaman now masih worth it nggak? Atau mending fokus karir, nabung, jalan-jalan, dan nikmati hidup dulu?
Buat yang udah nikah: gimana cara lo survive? Buat yang masih single: apa yang bikin lo ragu?
Cerita di kolom komentar. Biar kita obrolan jujur, tanpa gengsi. 😉
cc : raspitaadewi
Line itu populer sebelum koped. Penggunanya banyak di kalangan muda. Mahasiswa banyak yang pakai juga.
Kalau fitur chat justru lebih lengkap LINE. Ada notes buat mencatat chat apa yang penting, terus stiker yang lucu dan bervariasi. Grup juga lebih lengkap sehingga bisa diorganisasi lebih bagus. Lalu ada fitur sosmed sama official account buat follow sesuatu.
Sosmednya aja ramai dulu dan ada yang terkenal dari LINE, misalnya Extra Time Indonesia (ETI LAHAB). Line beneran superapps, semua ada di situ.
Lalu mengapa LINE decline apalagi setelah koped?
Lain lagi dg Margono Djojohadikusumo — istrinya keturunan Wiroreno, pengikut Diponegoro yang bersumpah melarang anak turunnya yang bekerja untuk Kompeni menziarahi kuburnya.
Karena sumpah itu, Margono, saat masih jadi PNS Hindia Belanda, dan istrinya tak berani menilik makamnya.
Sementara Prabowo tak menggemari fakta bahwa leluhur ibunya membantu Belanda, Sumitro Djojohadikusumo malah kerap memakainya utk mencandai Dora Sigar, istrinya:
Kamu kualat. Dulu leluhurmu memihak jenderal De Kock, jadi kamu dihukum harus kawin dg keturunan pengikut Diponegoro.
Toean Sigar pasti kaget. Karena polah keturunannya, ia ditahbiskan jadi orang yang menangkap Diponegoro, musuh terbesar Kompeni pada masanya.
Benar, pada 1829–30 ia membantu Belanda dalam Perang Jawa. Namun, Sigar tak pernah menangkap sang Pangeran. Tidak dalam catatan mana pun.
Wajah itu hanya spekulasi dari topeng yang ditemukan di Trowulan..
Dan yang ngomong wajahnya begitu..
Ya tak lain Mohammad Yamin..
Untuk membangun narasi sumpah palapa sebagai tanda Indonesia pernah bersatu
Wajah Gajah Mada asli sampai sekarang sulit ditentukan.
Jangankan kita tahu wajahnya..
Makamnya saja kita tidak tahu di mana.
Akhir hayatnya juga tidak jelas. Hanya disebut moksha alias menghilang...
FYI:
Jangan-jangan wajah Gajah Mada yang kita kenal selama ini sebenarnya cuma imajinasi Mohammad Yamin.
Mana wajahnya mirip dia lagi wkwkkwkw
Tau gak Zaman antara nabi Adam dengan nabi Nuh itu gak tercatat dalam sejarah, dan jaman itu disebut jaman Antedulivian ibaratnya abad kekosongan. Yang kita gak tau isinya apa.
Sampe-sampe asal usul ilmu geologi muncul gara-gara penelitian ini ⚠️
Menarik untuk dibahas, yukk kita ulas....