“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
And here’s the deeper part:
Salah in space is not about perfect positioning.
It’s about intention, discipline, and consistency.
Even when:
• There’s no gravity
• No stable direction
• No normal day/night cycle
The obligation remains.
The Artemis II crew is about to face the most intense part of their mission: reentry into Earth’s atmosphere.
Orion will hit more than 24,000 mph, creating a super-hot plasma shield around the capsule that cuts off radio contact for about six minutes.
Orang dewasa punya standar tinggi kalau ketemu anak kecil.
Di mata orang dewasa, anak harus ceria, harus mau respon segala pertanyaan, harus mau salim, harus mengikuti norma sosial dengan perfect.
Anak kecil teriak dikit
"Gak diajarin ortunya ya?"
Anak kecil nangis
"Kok cengeng sih?"
Anak kecil slow to warm up
"Masih kecil udah introvert ya"
Anak kecil ikut ortu nongkrong, bosen, butuh input stimulus lain
"Rewel ya ternyata"
Kata gw mah elu yg rewel. Udah dewasa tapi judgemental banget ke anak-anak. Anak kecil tuh sedang belajar memahami dirinya sekaligus memahami dunia yang semua isinya tuh besar-besar. It gets too overwhelmed sometimes. It's a part of the growth process. Mari kita jadi orang dewasa yg wajar gitu lho.
Artikel yang berani dr mz. Moh. Ainun Rizqi.
• Kurikulum Gonta-Ganti Terus: Tiap ada perubahan kurikulum, bahasanya selalu keren: "progresif" atau "visioner". Tapi kenyataannya, guru di sekolah sering bingung karena aturan mainnya berubah terus dari pusat.
• Suara Guru Nggak Didengar: Penulis pakai istilah keren epistemic injustice. alias Negara nggak percaya kalau guru itu pinter. Guru cuma dianggap sebagai "petugas" yang tinggal jalanin perintah, bukan ahli yang paham kondisi murid di lapangan.
• Regulasi "Sok Tahu" dari Pusat: Kebijakan pendidikan kita itu sifatnya top-down (dari atas ke bawah). Orang-orang di kantor pusat yang mungkin jarang masuk kelas, bikin aturan yang harus diikuti semua guru, tanpa nanya dulu ke gurunya: "Eh, ini cocok gak buat murid kalian?"
• Guru Jadi Korban, Di satu sisi harus nurut sama aturan administrasi yang ribet, tapi di sisi lain mereka yang paling tahu kalau murid-muridnya punya kebutuhan yang beda-beda. Akhirnya guru kayak robot yang dipaksa kerja pakai remote control dari jauh.
• Efeknya? Pendidikan Jadi berantakan. Kalau pemerintah terus-terusan merasa paling tahu dan mengabaikan pengalaman nyata guru di kelas, ya pendidikan kita nggak bakal maju-maju. Antara teori di kertas sama kenyataan di kelas bakal selalu nggak nyambung.
Tidak habis pikir. Petunjuk teknis terbaru menunjukkan YAYASAN pengelola MBG dapat insentif 6 JUTA PER HARI selama 313 hari, libur pun masih dapat. Insentif itu tanpa kena pajak.
6 juta x 313 hari=1,87 miliar per SPPG
Bayangin POLRI kelola 1.179 SPPG PER HARI DAPAT INSENTIF Rp 7,07 M dan 1 tahun jadi Rp 2,21 Triliun.
Itu pun belum yayasan lain di bawah TNI.
Udahlah bubar aja negara ini.
Dijelaskan bahwa insentif ini bukan berdasarkan output based (berlaku 2025) yaitu jumlah porsi yang diberikan, tapi malahan availability based yaitu asal sudah ada dapur meski belum beroperasi. Jelas-jelas enak donk yang penyaluran porsinya sedikit bahkan belum kerja sudah dapat 6 JUTA PER HARI. Cukup duduk manis dukung rejim.
Memang MBG INI DIBIKIN BUAT MENGGERERUK DUIT NEGARA.
Kepada elite mereka royal dan disebutkan sebagai insentif, sementara bantuan ke rakyat disebut subsidi dan dianggap beban.
Remember the story about names of overpriced furniture on Wayfair matching up with names of missing children… And a lot of them were immigrant children?
@BRICSinfo The Jeffrey Epstein scandal, along with everyone involved in his satanic rituals, exposes the truth about them as followers of organized evil and corruption.
God warned humanity about them in the Quran over 1,400 years ago.
@BoardOfPeace Oh Palestinian people, oh Gaza people...listen to us, the majority of the Indonesian people remain with you, our government's stance is not the stance of the majority of the Indonesian people, we remain standing for a sovereign and independent Palestine and Gaza.. #FreePalestine
Rakyat dijaga tetap miskin dan bodoh, agar ketika yg punya kuasa ketahuan melakukan pelanggaran hukum pada rakyatnya, bisa diselesaikan dengan minta maaf dan kasih motor bebek.
Tapi ini di negara yang dikuasai orang jahat aja, ga ada lah di indonesia. Indonesia mah negara hukum.
Apakah orang Indonesia memang dirancang untuk tetap bodoh dan gak boleh pintar? Itu pikiran liar yang selama ini mau gua utarakan tapi baru sekarang berani nulis ini. Ini bukan statement ya tapi pertanyaan, gamau kena masalah saya.
Analogi sederhananya, gimana caranya sekolah ngajarin programming dan AI?
Kalau 42% guru berpenghasilan di bawah Rp2 juta per bulan? 13% di antaranya di bawah Rp500 ribu per bulan. Gimana mau punya self development dengan gaji 500 ribu per bulan?
Di logika ya, sistem gaji ini secara tidak langsung mengusir talenta terbaik dari profesi guru dan pindah ke pekerjaan lain
Skor PISA kita, juga cuma 359 dimana rata2 dunia harusnya 476. Gua kasih gambaran, Siswa Vietnam setara dengan siswa Amerika Serikat & Eropa dalam Matematika. Siswa kita tertinggal sekitar 3-4 tahun pelajaran dibanding siswa Vietnam. Siswa Vietnam siap jadi insinyur/dokter. Siswa kita mayoritas hanya hafal teori tanpa paham konsep.
Skor HCI Indonesia dari Bank Dunia ada di angka 0,5. Artinya, anak yang lahir di Indonesia hari ini, saat dewasa nanti produktivitasnya hanya 50% dari potensi maksimalnya.
Pembiaran sistemik seperti ini, mau sampai kapan dibiarkan? Vietnam mendesain rakyatnya untuk berkompetisi global, sementara kita sibuk sama administrasi dan seremoni.
Kita berada dalam lingkaran setan: Gaji guru rendah → Kualitas pengajar rendah → Murid tidak kritis → Menjadi pemilih (voters) yang tidak kritis → Memilih pejabat yang tidak peduli pendidikan → Kembali ke gaji guru rendah.
MBG, koperasi merah putih, Thomas Djiwandono jadi deputi gubernur BI, Adies Kadir jadi hakim MK, wacana Pilkada lewat DPRD, membuat gue percaya kalo parpol di DPR itu gak punya intensi buat menegakkan tata kelola pemerintahan yg baik dan bersih.
Lucunya, yg menempatkan pendidikan sbg prioritas pendukung alih2 utama dlm anggaran negara siapa?
Yg memprioritaskan MBG sampai 300an triliun alih2 pemerataan pendidikan dan mensejahterakan guru siapa? Kan situ semua.
Terus omong kosong macam apa yg situ ucap ini? 😔🫵🏻