Betapa menyedihkannya orang-orang yang tidak berani menonton film di bioskop sendirian. Mereka kehilangan kesempatan menonton film-film bagus dengan pengalaman yang "magical".
@mulyonojunior Tak ada yang mendebatkan urusan kebebasan di sini. Bebas bukan berarti orang tak bisa bilang bentuk kebebasan mana yang ia rasa lebih ideal. Restoran pun bebas mau masak apa, tapi sebagai pelanggan restoran, diriku boleh bilang: "Makanan yang kayak gini lebih enak"
@kutsujinn Hal2 kayak gini, baru orang ramai mau dengar kalau ada "western people" yang jelasin di paper pakai bahasa Inggris, pakai istilah keren2. Sekali sesama orang Indonesia yang beri tau, gak mau didengar, dikasih pembelaan macam2
@kutsujinn Sama aja kayak politisi orang kulit hitam, dsb. Takkanlah kita ejek pakai sebutan "N word". Politisi tionghoa tak kita ejek "C*na"? Itu konsepnya udah banyak orang yang paham. Takkanlah tak bisa dipraktekkan ke yang lain. Fokus ke performa & perilaku, bukan penampilan/etnis
@hafilova Kupikir tak terlalu masalah, kadang2 orang memang bolak balik ngomong pakai bahasa daerah & campur B. Indonesia informal. Mungkin yang perlu diperbaiki itu ya varian kata2 yang dipakai, dibuat supaya seperti yang dipakai orang dengan kultur tsb di dunia nyata
@AdamPrabata Ini Anda ngutip paper harus hati2; Perlu warning beberapa kali ke pembaca bahwa yang diteliti / disurvey itu demografinya apa, & bahwa bisa aja di demografi lain, di kultur lain, hasilnya beda
@alnickmnathan What does that mean? In common parlance, "Work" ="Job". Maybe you're using "Job" to mean a specific position at a specific institution? If yes then that makes sense. A person might not have a right to work as a clerk at a company X, but they do have the right to work in general
@primawansatrio Orang yang rajin pun kalau pekerjaannya bisa dilakukan AI dengan lebih murah, maka ia cenderung akan disuruh bossnya untuk pakai AI. Akibatnya saat kerjaan makin banyak, bukannya hire pegawai baru, boss malah suruh pakai AI lebih sering. Ini jenis penggantian yg akan terjadi
@txtdarisinefil Kupikir oke aja sih begitu. Orang yang komplain bisa aja tak suka keduanya. Takkan lah kalau aku komplain karena tak suka kualitas A, lalu pas dikasih B yang kualitasnya juga tak cocok bagiku, aku disalahkan karenanya?
@fathurwithyou Produk2 lain juga begitu kl dilihat dari sisi customer; Orang yg makan di resto tak perlu tau seluk beluk resep & alasan mengapa makanannya "enak" di lidahnya. Alasan tsb bisa aja ada, entah karena teknik masak, bahan baku, dll., tapi ya customer kalo mau nilai dari output aja ok
@fathurwithyou Ini kayak customer bilang "Grab" kebih bagus dari "Maxim". Dari sudut pandang customer, yang dilihat ialah output & experience, bukan algoritma internal pemilihan driver dsb.; Itu saja sudah cukup. Sama kayak produk2 lain. Orang tak perlu tau seluk beluk LLM sebagai customerny
@Fakhrikurniawan Padahal ya pada prakteknya ia bisa jadi kompleks & susah. Orang belajar sejarah bisa aja menanyakan: Klaim ini landasannya apa? Dokumen apa yang jadi pembuktiannya? Apakah penulis sumber punya motivasi tertentu? Bias2 tertentu? Di Indonesia, jarang orang mau mikir gini
@Fakhrikurniawan Ini persepsi "gampang" bagi orang Indonesia pada umumnya, kayaknya muncul karena pas di sekolah atau di kampus, pelajaran humaniora isinya kebanyakan hapalan mati. Guru sejarah suruh hapal-hapal teks, tanggal, dsb. Tak ada nuance, tak mikir kritis, asal terima saja