Pernah di beri ilmu sama bapak” pas lagi nongkrong, Dia bilang :
Jangan sesekali selingkuh, sebab orang yang selingkuh hidupnya gagal, sekali lagi hidupnya gagal dan menyesal.
Semua orang ketawa sama si selingkuhan yang gak sengaja expose diri sendiri lewat Instagram Story. Dan iya, itu konyol. Itu bodoh. Itu layak jadi bahan omongan.
Tapi yang gw perhatiin justru sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Dia pamer naik mobil suami perempuan yang dia selingkuhi.
Bukan cuma ketahuan. Tapi dia bangga. Dia posting. Dia mau orang lain tau.
Dan ini cerminan satu penyakit sosial yang sangat nyata di Indonesia.
Flexing itu udah jadi kebutuhan yang lebih kuat dari insting untuk survive.
Orang ini tau dia lagi main api. Dia tau situasinya berbahaya. Dia tau ada suami yang gak tau. Tapi dorongan untuk kelihatan keren di Instagram lebih kuat dari semua itu.
Mobil bukan miliknya. Status bukan haknya. Tapi dipamerin seolah pencapaian.
Dan ini bukan kasus pertama. Di Indonesia kita sering lihat orang pamer sesuatu yang bukan miliknya. Pamer gaya hidup yang dibangun di atas kebohongan. Pamer status yang didapat dari cara yang gak bener.
Yang bikin gw lebih mikir lagi sang suami yang nemuin ini bukan dari detektif. Bukan dari laporan orang. Tapi dari Instagram Story si pelaku sendiri.
Artinya ego dan kebutuhan validasi itu mengalahkan segalanya. Mengalahkan akal sehat. Mengalahkan insting untuk melindungi diri sendiri.
Dan pelajaran yang paling pahit dari semua ini
Di era medsos, rahasia paling besar pun bisa hancur bukan karena orang lain yang membocorkan.
Tapi karena pelakunya sendiri tidak tahan untuk tidak terlihat
cewek tanpa hobi adalah yang terburuk. yang kamu dapatkan adalah sifat menye-menyenya, tuntutan untuk ngasih kabar tiap jam, jadi samsak emosinya yang tak stabil lantaran makanan & jam tidurnya yang kacau, dan diajak gibahin orang-orang yang bermasalah ama dia 24/7 (problematik)
Komunis.
(Kebutuhan dikasih tapi semuanya harus diem)
Kapitalis.
(Boleh bacot seenaknya dan semaunya, tapi kebutuhan cari sendiri-sendiri)
Indonesia.
(Kebutuhan cari sendiri-sendiri, tapi harus diem, bacot dibungkam dengan cara dilawan pake buzzer)
The second half of that match reminded me of the Manchester united I fell in love with..
The never giving up Manchester united..
The man united that always want to win.
If only zirkzee had tried that shot or maguire had left it for garnacho
We were the better side.
#GGMU