Kalau mau tau gak adilnya gaji dosen
Jadi gini, gaji dosen itu: Gaji Pokok + A + B + C + D + ...
Jangan tanya ke dosen yang sedang pegang jabatan atau di tengah karir. Mereka mah A, B, C, D-nya banyak.
Masalahnya: A, B, C, D-nya ini:
1) Gak didapat dengan mudah
2) Bisa hilang
3) Gak aksesibel ke semua orang
Tanya ke 2 kelompok: dosen muda dan dosen yang mau pensiun.
***
Tanya ke dosen muda. Yang baru masuk. Yang dapetnya Gaji Pokok doang. A, B, C, D, ... -nya belum ada.
Yang baru nikah, baru punya anak, baru bayar anak sekolah. Yang baru masih punya master, belum punya doktor.
Mereka masih harus nyiapin biaya lahiran, ngerawat anak, uang masuk TK, bayar sekolah SD.
Masih harus nyiapin uang buat tugas belajar buat dapet S3. Beasiswa cari sendiri. TOEFL dan TPA bayar sendiri.
Tunjangan belum ada. Jabatan fungsional pertama ngurusnya bisa tahunan. Kalau dapet tunjangan Asisten Ahli masih 375 ribu.
Sertifikasi dosen belum bisa. Harus Asisten Ahli dulu. Itu pun harus 2 tahun setelah memenuhi BKD. Masih harus bayar training Pekerti/AA pake duit pribadi dulu.
Insentif publikasi? Duit publikasi dari mana? Risetnya dibayarin siapa? Waktunya kapan kalau buat bertahan hidup aja susah.
Proposal riset? Minimal harus udah Lektor biasanya. Biar bisa riset harus lektor. Biar bisa lektor harus riset.
Jabatan di kampus? Mesti berpolitik, ngemeng sana, ngemeng sini.
Semua A, B, C, D itu belum ada.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen muda yang menerima gaji pokok doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
***
Kelompok kedua: dosen yang sudah sangat senior.
Di mana A, B, C, D - ... nya sudah tidak kepegang lagi.
Jabatan sudah kena regenerasi ke yang lebih muda. Hilang tunjangan jabatan struktural.
Kondisi kesehatan sudah jauh menurun. Mesti pasang cincin jantung, mesti rutin cuci darah, mesti dirawat di rumah sakit. Keluar biaya banyak.
Banyak dosen senior yang sampai minta donasi ke koleganya, untuk perawatan.
Mau publikasi juga udah gak kuat. Ilmu yang dipelajari udah gak lagi update. Mau belajar lagi udah gak sehat. Insentif publikasi udah gak masuk lagi.
Mau proyekan juga kondisi udah gak memungkinkan. Bolak-balik Jakarta ke kota kampusnya udah gak kuat lagi. Kalau dipaksain memperburuk kondisi kesehatan.
Tabungan udah dipakai buat hidup, nyekolahin anak, nguliahin anak, yang jumlahnya lebih dari satu. Tiap anak biaya sekolah makin naik, UKT terus naik.
Tinggal gaji pokok doang, paling sama sertifikasi. Dengan UMR yang terus naik, paling juga udah di bawah UMR setahun dua tahun lagi.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen senior menerima gaji pokok + sertifikasi doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
@EYulihastin Apa yang ibu anggap sebagai seni mungkin merujuk pada konsep seni entah di tahun berapa. Tapi bagi kami yang mengkaji dan berkarya seni, banyak hal2 baru yang terus dieksplorasi dan hal baru ini belum tentu mudah diterima masyarakat
@EYulihastin Saya rasa di bidang kepakaran ibu pun sama. Banyak hal baru yang ibu kaji di bidang ibu, beberapa di antaranya kenyataan pahit yang urgent ditindak lanjuti. Tapi di kebanyakan kasus, hal seperti ini cenderung susah didengar, apalagi diterima.
@EYulihastin 2. terakhir diadakan 2014 (CMIIW) sebelumnya 4-5 tahunan, panitia sekarang tidak memiliki senior langsung yang punya pengalaman merancang pasar seni. Dinamika kampus juga berubah yang menghambat mereka bisa mudah belajar hardskill untuk bikin propertinya.
@snowflakemlet Ini kl pd debatain AI apa ngga, justru kalian pada kemakan hasutan. Fokus lagi ke tuntutan, kawal tindakan pemerintah, jangan malah berantem.
@BangBudiKur@arvkyn@noy_bags @umbibakar69 @MartdeElsanico Saya sepakat terkait tanggung jawab administrasi harusnya beban utama ada di instansi. Mereka harusnya punya record dan inisiatif utk menjalankan kewajiban administrasinya, bukan dibebankan lagi ke dosen yang sudah harus berjibaku dengan beratnya studi lanjut.
π¨Urgent Call from Medical Crews Inside the Indonesian Hospital North Gaza :
Israeli occupation forces have besieged the hospital. Heavy gunfire can be heard both inside and around the facility, and power has been cut off, rendering the medical teams unable to operate. Many wounded patients are dying on the hospital floors with no means to treat them.
**Dr. Marwan Sultan:** Director of the Indonesian Hospital in the northern Gaza Strip.
Belum banyak dampak yang saya pelajari sebagai imbas penerapan pengelompokan kebijakan ini. Yang saya tahu, ini akan sangat membatasi kuota professor dalam satu PT dan menghambat regenerasi baik personil maupun keilmuannya.