Akun ini dipantau pihak berwenang | My tweets do not represent any institution | Tweeting about IP, Privacy, Tech, Intl Law, Public Policy & others | Lawyer
@xzabiruw Postingan begini ini yg menyesatkan masyarakat.
Jasa Notaris, PNBP Balik Nama, dan Pajak (krn waris saya asumsi BPHTB) = 15jt
Tanah 800jt
BPHTB (800jt-300jt)x5% = 25jt
Baru BPHTB saja notarisnya sdh nombok 10jt.
Blm PNBP dan fee notaris.
Tolong research dulu sblm buat konten ya.
Teman-teman, saya ingin menjelaskan menstruasi kepada para laki-laki.
Sebagian laki-laki mengira menstruasi hanyalah beberapa hari rasa tidak nyaman, sedikit perubahan mood, lalu selesai.
Padahal, jarang sekali yang benar-benar menghitungnya.
Seorang perempuan berada dalam masa subur itu kurang lebih selama 40 tahun.
Menstruasi datang sekitar setiap 28 hari.
Artinya, dalam hidupnya, seorang perempuan mengalami sekitar 521 kali menstruasi.
Setiap menstruasi berlangsung kurang lebih 5 hari.
Jika dijumlahkan, itu sekitar 2.607 hari.
Hampir 7 tahun hidupnya dilalui dalam keadaan berdarah.
Dan bukan kiasan, dia benar-benar berdarah.
Rata-rata darah yang dikeluarkan sekitar 80 mililiter.
Jika dijumlahkan sepanjang hidup, jumlah darah terbuang mencapai sekitar 42 liter.
Rata-rata tubuh kita berisi sekitar 5 liter darah.
Empat puluh dua dibagi lima.
Artinya, sepanjang hidupnya, seorang perempuan mengeluarkan darah setara lebih dari 8x seluruh darah dalam tubuhnya sendiri,
Delapan volume darah tubuh keluar dari satu perempuan.
Dan ada bagian yang lebih jarang dibicarakan.
Ia memulai semua ini sejak usia 11 tahun.
Sebelas tahun.
Usia ketika sebagian besar dari kita masih belajar memahami tubuh sendiri.
Ia menyembunyikan pembalut di balik lengan saat berjalan ke toilet.
Berdoa agar darahnya tidak tembus ke rok.
Mencari alasan kepada guru olahraga.
Berbisik kepada teman-temannya.
Malu luar biasa jika ada anak laki-laki yang tahu trus menertawakan.
Lalu kebiasaan itu terbawa bertahun-tahun.
Menyembunyikan.
Menutupi.
Berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Di sekolah.
Di tempat kerja.
Saat bepergian.
Di ruang rapat.
Di tengah kesibukan.
Di setiap ruangan yang ia masuki.
Ia bisa sedang nyeri, lelah, tidak nyaman, bahkan cemas darahnya tembus. Namun tetap tersenyum.
Tetap bekerja.
Tetap terlihat baik-baik saja.
Tujuh tahun perdarahan.
Empat puluh tahun belajar menyembunyikannya.
Lalu sebagian laki-laki masih menyebutnya, “Ah, cuma moody sebulan sekali.”
Bahkan bikin kepanjangan baru dari PMS, "Prepare to Meet Satan."
Teman-teman,
tugas kita bukan memperbaiki semuanya.
memang tidak akan bisa.
Tugas kita adalah menjadi lebih dewasa dalam memahaminya.
Belikan pembalut tanpa merasa aneh.
Tanyakan apa yang ia butuhkan tanpa menghakimi.
Jangan memasang wajah jijik.
Jangan menjadikan menstruasi sebagai bahan candaan murahan.
Jangan bertanya, “Lagi datang bulan ya?” dengan nada yang ngenyek merendahkan.
Jangan membuat perempuan merasa tubuhnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Ia sudah belajar menyembunyikannya sejak usia belasan tahun.
Maka jadilah orang yang membuatnya merasa aman.
Yang membuatnya merasa nyaman
Yang membuatnya tidak perlu lagi bersembunyi.
Akhir-akhir ini, setelah Pejabat yang itu ditangkap, sudah berapa kali baca Narasi.
"SEBENARNYA PROGRAMNYA BAGUS, MASALAH DI IMPLEMENTASINYA”
Narasi klasik CUCI TANGAN level dewa ini.
Padaha, implementasi jelek itu biasanya karena perencanaannya sudah “jelek dari lahir”.
🧵
Sesuai PMK 107/2024, tentang Perencanaan Anggaran
Struktur KAK
A. Latar Belakang
A1. Dasar Hukum
(Jangan copy-paste, tapi beneran relevan, bukan yang sudah dicabut!)
A2. Gambaran Umum
(Ceritain masalah riilnya pake data, bukan “masyarakat masih menderita” doang)
Kontestasi terbuka adalah inti demokrasi
Kita bedah acara ini,
Penyelenggaranya Total Politik yg kita sama-sama mafhum sudah menjadi corong rezim.
Temanya normatif, isi pembicaraan di forumnya puja puji rezim.
Pembicaranya Budiman, Nusron dan Sudaryono.
Dua aktivis satu kader Prabowo.
Lokasi di GIK, sentra kegiatan mahasiswa UGM, di waktu lagi panas kritik dari gerakan mahasiswa, selang sehari saja dari aksi Gejayan.
Sudah jelas dari awal tujuannya adalah ‘menantang’ di base lawan.
Jadi jangan bawa-bawa narasi kenapa gak dialog di forum yg staged gitu. Ini namanya deliberative window dressing atau manipulasi dialog.
Tujuannya dari awal memang bukan buat dialog. Tapi buat framing UGM ditaklukkan.
People respond to insentif.
Sistem insentif membentuk perilaku aktor2 dalam sistem.
Andaikan setiap penerima MBG dari SPPG keracunan akan dipotong bulanannya pengelola X persen, maka pengelola SPPG akan extra hati2 dalam proses dan sajikan makanan serta test sampling jadi bagian SOP.
Jika insentif tetap asalkan aktif/jalan (dikaitkan kuantitas porsi?), maka kualitas dan safety jadi prioritas kesekian.
industri Indo polanya mirip mirip. Di Civil Engineering juga mirip.
1. ga mau develop talent, maunya yang udah jadi.
2. tapi cuma dipake buat menang tender, ga beneran dipake. Akhirnya ya... skillnya gitu gitu aja.
3. incar project yang penting cepet selesai, speknya sih 🗿
Arquus dan PT Republik Motor Internasional (RMI) menandatangani perjanjian Joint Venture utk produksi lokal kendaraan militer di Indonesia.
Arquus adalah produsen kendaraan militer asal Prancis, spt VAB, Bastion, dan Sherpa. PT RMI beropasi di bawah naungan REPUBLIKORP INDONESIA
NEW REPORT examines extended #deterrence in the Indo-Pacific from the perspectives of leading experts in South Korea, Japan, and Australia. Essays by Zack Cooper (@ZackCooper), Bee Yun Jo (@bjo1987), Satoru Mori, and Lavina Lee: https://t.co/t6JPHltyBX
I am sorry, anti-government? This sends wrong signal. The demonstration requested for a BETTER governance from the government. No one was asked to step down.
https://t.co/g9MoC0KRg0
ANTI-GOVERNMENT PROTESTERS were on the streets in Indonesia this week. The rise of civil unrest was predicted by several sources, including journalist/ analyst Brian Berletic.
Why was trouble inevitable? The leadership of the world’s fourth most populous country has shown signs of independent thinking, as it struggles with economic pressures.
Indonesia recently refused to sign a promise to give US jet bombers blanket permission to use Indonesian airspace in a future war on China.
The Pentagon was not happy.
.
THE NED IS ACTIVE
Furthermore, President Prabowo Subianto last year criticized foreign NGOs, claiming to “promote democracy”, for interfering in the politics of sovereign countries and weaponizing human rights.
This was seen as a reference to the infamous US National Endowment for Democracy (NED), a CIA spin-off which has been active in creating street protests in Indonesia.
The NED has been thrown out of Venezuela, Egypt, Mainland China, Hong Kong, Russia and other places for financing, fomenting and training anti-government movements. The resultant civil unrest has often led to loss of life and property, sometimes on a large scale.
The rise of independent thinking in Jakarta means (from the US point of view) that Indonesia may need a little “people power” push to usher in alternative leaders. The appearance of civil unrest is always the first step in the regime change system.
.
LIST OF GRIEVANCES
As usual, the protests are said to be based on genuine grievances. The illegal US-Israel attack on Iran caused oil import prices to soar. The Jakarta government maintained some subsidies on fuel to shield citizens and runs a school meal program to ensure children don’t go hungry, but both have been targeted by critics.
The local currency has fallen against the dollar, making it harder for Indonesians to travel abroad—but it has lifted the value of remittances family members overseas send home.
Still, all this is par for the course. US agitators work quietly to build civil unrest on top of local grievances. Civic society in the country is riddled with US infiltrators. Also, US agents are discreetly financing outlets in Indonesia’s media—using the same “democracy and freedom” mantras they used in Hong Kong and scores of other places.
.
WEAPONIZING HUMAN RIGHTS
Indonesian President Prabowo has been trying to keep the US appeased (he donated to Donald Trump’s absurd “Board of Peace” for Gaza) but has also tried to maintain the country’s independence from foreign troublemakers.
“We must not be manipulated by any country,” he said on Pancasila Day, last year.
In response, NED, the CIA and related outfits have apparently stepped-up operations. NED is advertising for staff for operations in East Asia.
.
HIT PIECE
Brian Berletic, Angelo Guiliano and the present writer were targeted in a hit piece three weeks ago. Jakarta-based Tempo accused us of being Russian or Chinese agents.
Their evidence was that we had falsely indicated that western political groups, like the NED and Internews, were active in the country.
But the Tempo report was funded by a western political group: Internews! The very existence of their report proved we were telling the truth.
Yet our warnings need to be louder. How to get the truth about US interference more widely known?
It’s difficult. Narrative creation is the US’s super-power. It’s clear that that a significant portion of Indonesian media, like Tempo, is serving the US, not Indonesia.
International journalists are no help. Mainstream media such as the BBC and Reuters routinely maintain secret news blackouts on references to western political interference operations, even if their presence is blatant.
.
ASIANS NEED TO WISE UP
So Asians have to wise up and fix their own problems.
“Nations need to secure their information space,” Berletic said on X yesterday. “Stop allowing US-based social media platforms and their algorithms to determine what YOUR people see, hear, and ultimately THINK.”
In the long run, the US wants Indonesia’s government to be allied to them or controlled by Washington—as are many places, including Japan, South Korea, Taiwan, the Philippines, and Taiwan.
The US is busy in Asia, “politically capturing Asian states along China's periphery - Indonesia being one of them,” Berletic said.