This is a ROLEPLAY ACCOUNT of JING YUAN from "Honkai Star Rail" by Hoyoverse; a non-profit fan-account. Literate and descriptive. Headcanons may apply along with a mixture of serious and crack. Ships with https://t.co/KRESS2oHcs. Refer below for guidelines.
@divinerfuxuan - mana bisa ia mengatakan itu pada Xuan yang masih panas berapi-api? Lagipula ...
“Deadline bayar DP-nya udah kemarin.”
Ya. Jelas sudah mengapa ia berakhir memantik kembali rokok yang sudah lama tidak disentuh.
“Maaf ya, jadi nelat kita punya rumah karena aku.”
@divinerfuxuan Tangan mengusap tengkuk. Jing Yuan yang pekerja keras dan tekun itu punya satu kelemahan, yakni mudah luluh. Ia menjunjung tinggi pertemanan, dan sampai detik ini sekalipun, ia masih merasa bahwa benar-benar menggadaikan sertifikat itu bukan ide yang bagus. Tapi -
@divinerfuxuan Gapapa, marah aja terus. Lucu, hehe.
Tentu saja ini hanya bisikan dalam hati yang tidak diucapkannya. Jing Yuan ingin mati dengan tenang di dalam tidurnya, dan bukan sekarang ...
“Waduh. Terus? Akhirnya dimakan apa gimana?”
@divinerfuxuan Ya. Tentu saja kau tidak akan menerima permintaan yang satu itu. Jing Yuan menarik napas panjang sebelum kemudian akhirnya menjawab.
“Harusnya ... uang itu buat DP beli rumah.”
@divinerfuxuan Terkekeh pelan. Ya, dalam hal ini, Jing Yuan harus banyak belajar darimu. Perangainya yang kelewat setia kawan itu sudah kerap kali menjadi sandungan.
“Hmm ... Jangan tanya hubungannya apa sama kamu, boleh?”
Waduh.
“Harusnya ... ini jadi surprise.”
@divinerfuxuan Pertanyaan yang bagus. Sekarang Jing Yuan justru menyungging senyum.
“Ada temen SMA-ku yang pinjem uang sama aku. Dia kasih sertifikat motor buat jaminan, makanya aku kasih. Eh, kemarin waktu aku chat WA, kayaknya diblok.”
Padahal uangnya mau dipakai buat ... ah, sudahlah.
@divinerfuxuan Kan.
“Bukan.”
Jing Yuan tidak langsung menyambung dengan penjelasan. Ia memejamkan mata terlebih dahulu dan mengusap wajahnya sendiri sebelum kemudian menarik napas panjang.
“Intinya ... aku miskalkulasi soal uang.”
@divinerfuxuan “Bukan.”
Cepat. Jing Yuan menyambar dengan sangat cepat. Pikirnya, bagian mana dari kata-katanya yang mengindikasikan hal tersebut? Sudahlah. Yang penting, karena maksudnya memang bukan begitu, ia sanggah dulu.
“Bukan karena kamu.”
Lalu, setelah ini kau akan -
- kosnya, mobilnya, tasnya. Tentu kamu tahu. “Terus ... ya. Setahun terakhir agak lebih stress, jadi lalai. Kambuh ngerokoknya.”
Yang ini juga kamu tentu tahu. Tercium bau rokok dari rambut gondrongnya itu hanya ketika sedang bertengkar denganmu, atau pekerjaannya -
- yang singkat, tetapi entah mengapa terasa begitu lama. Canggung mencekik bahkan ketika keduanya sudah sampai di dalam mobil. Butuh segenap keberanian baginya untuk kemudian menatap wajahmu. Wajah cantik yang hari ini ia nodai dengan kesedihan.
“Kamu,” ucapnya -
- dirasakannya tatap yang mulai menghujam dari sekeliling, mau-tak mau ia harus memohon kerja samamu.
“Mau ga, kita bicara di mobil?” pintanya pelan, tangan kagok menyentuh pundakmu. “Mau, ya? Yuk?”
@divinerfuxuan
- suaramu.
Dosa paling besar seorang pria adalah membuat kekasihnya menangis.
Dan yang lebih buruk lagi?
Jing Yuan tak tahu harus menjawab apa. Ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan dan ia terlalu takut untuk menyentuhmu dalam upaya penghiburan. Tapi ketika -