BRITISH COUNCIL emanggg gak diraguin lagi bisa naikin LEVEL SKILL BAHASA INGGRIS, manaa GRATIS lageee!
Been so grateful knowing this website exists!
Yakin klo klean pakai web ini, lama2 English klean makin naik level!
Hi kak, tanpa mengurangi rasa hormat dan tidak bermaksud invalidasi perasaan korban.
kalau hanya berdasarkan video yang tersedia dan caption original, positioningku adalah aku tidak melihat unsur cat calling dalam video tersebut.
mungkin aku & kamu berbeda pandangan walau aku bisa paham pov km dan aku pun turut memasukkan faktor lain yg tidak aku ketahui mengenai pembuat video hingga ia merasakan apa yang ia rasakan.
untuk menambahkan, aku lihat banyak yg genuine ingin tahu batasan antara compliment & cat calling. Oleh krn itu twit aku muncul.
A lot of people wondering why pembuat video bereaksi sedemikian rupa.
Tbh, in my humble opinion, It's fair when people question the video and react based on what's originally uploaded.
Also, as an Indonesian netizen, I always tend to go one step back for every post I see before I react. I believe every post can easily go spiralled/become uncontrollable and harmful for all parties involved. That's why every SA accusation needs to be treated very carefully (esp for victim side) untuk mencegah stigmatisasi & viktimisasi ganda.
Dan aku pun condemn harassment & body shaming yang terjadi terhadap OP.
🙏🏻
Tuna grahita? Do you think it's cool to insult someone with that term?
Anyway, kamu ini lucu, menyerang argumen asliku dengan strawman fallacy. Kok bisa tiba-tiba menuduhku mengklaim bahwa budaya Indonesia itu statis dan kebal terhadap globalisasi maupun relasi kuasa? Kesimpulan dari mana coba? Padahal, aku tidak pernah memaksakan biner absolut dalam mendefinisikan High-Context Culture. Teori komunikasi antarbudaya adalah sebuah heuristik, sebagai lensa untuk membaca pola kecenderungan sosial, bukan hukum fisika yang berlaku 1:1 tanpa celah.
Lebih lanjut, ini kamu juga cherry-picking, tiba-tiba name-dropping studi Peter W. Cardon (2008) untuk mendiskreditkan konsep HC di Indonesia. Faktanya, Cardon (2008) tidak membantah eksistensi fenomena komunikasi berkonteks tinggi di Asia. Jurnal tersebut justru mengkritik taksonomi biner yang terlalu kaku dan merekomendasikan agar dimensi HC dilihat sebagai sebuah kontinum. And guess what? Pendekatan kontinum inilah yang sejak awal menjadi landasanku. Aku mah mengakui adanya pergeseran budaya, namun kecenderungan kita dalam menghindari face-threatening acts dan menjaga harmoni sosial saat berinteraksi awal dengan stranger tetap merupakan realitas sosiologis yang kuat.
Kamu juga sangat keliru dalam menyimpulkan bahwa “justru karena HC, kita jadi tidak bisa langsung mengerti apa yang terjadi di balik suatu fenomena”. Pernyataan ini jadi bukti kegagalanmu dalam memahami esensi HC itu sendiri. Justru karena insting HC kita kuat, perempuan tersebut tidak memproses direct compliment laki-laki tak dikenal itu secara literal. Perempuan bisa secara instan memproses konteks relasional dan spasial di balik ucapan tersebut, yang membawanya pada mode defensif.
Fenomena ini juga dapat dibedah melalui Expectancy Violations Theory (EVT). Dalam interaksi ruang publik urban dengan stranger (out-group), norma komunikasi standarnya adalah civil inattention atau saling menjaga jarak secara sopan (Burgoon & Hale, 1988).
Direct compliment, apalagi soal fisik, tiba-tiba dari seorang laki-laki tak dikenal merupakan pelanggaran ekspektasi. Karena laki-laki tersebut berada di luar lingkaran sosial (out-group) dan valensinya tidak dapat diprediksi, pelanggaran tersebut langsung dievaluasi oleh otak sebagai intrusi atau ancaman kenyamanan, sehingga memicu respons verbal yang keras untuk mempertahankan ruang personal (Baldwin & Hunt, 2002).
Terakhir, kita harus berani membongkar kebutaan sosiologis dari cuitan awal yang mengklaim, “aku ga ada ketertarikan seksual juga, hanya mau muji”. Mengabaikan relasi kuasa dalam interaksi ini, seperti yang dituduhkan kamu padaku, adalah sebuah kesalahan ya Hateology.
Unsolicited compliment atau pujian tak diundang di ruang publik dari laki-laki ke perempuan itu sering kali merupakan manifestasi dari street harassment. Normalisasi struktural pada isu ini juga sering kali mereduksi intrusi ruang privat ini sekadar sebagai “keisengan” atau “pujian”, padahal praktiknya berakar pada asersi dominasi spasial patriarkis (Hindes & Fileborn, 2022).
Di konteks Indonesia, interupsi verbal berkedok pujian secara empiris memicu ketidaknyamanan mendalam karena adanya ketimpangan relasi kuasa di ruang publik (Avezahra & Priyatama, 2023).
Kesimpulannya, kamu ini terlalu serampangan menginterpretasikan analisis aku senagai tambal sulam teori. Interaksi di restoran tersebut adalah benturan kompleks antara batasan in-group/out-group, pelanggaran ekspektasi komunikasi (EVT), serta intrusi spasial berbasis gender. Meromantisasi pujian stranger sebagai sekadar “niat baik yang disalahpahami” tuh jelek.
You can critique my framework, but at least understand the concepts first before throwing strawman arguments.
@insoftdreams Jujur engga merasa terserang samsek, open arms aja. Aku ga ada ngata-ngatain org yang muji dia pun? Tapi sampe dikatain insensitive sama kelakuan org yg suka harass cewek, bahkan rudapaksa..... :')
You guys act like aku ngatain/ ngmongin dia in daily basis. As if it's RTs dan pembahasan diakunku gaada bahas emansipasi marginalized people/ kritik pemerintah
Mending aku dihina karena nulis ini ga jelas jadi deliver nya kureng, daripada dikatain misoginis. Ngasih personal op soal satu org yg kebetulan cewek, trus tiba tiba dituding jadi pembela harassment/ ruda paksa, dan hal-hal buruk lainnya tuh too much
Lagian menurutku aktingnya juga mid. Some says dia botox nya kentara banget jadi facial expressions nya kurang :')
Lagian there's so much more than "cantik" di dunia akting
@vanilakiss_ preference kak, klo ga suka as hating dia secara personal mah udh aku bahas dr kapan hari...... km liat akunku apa ada bahas dia selain ini?
@hanchiro_zip Dari orang tua apa ada preferensi lain kak soal pendisiplinan anak mereka? Soalnya ortu tuh kadang ga mau anaknya dikerasin, tapi klo anaknya berkelakuan buruk yang disalahin yg ngajar
I love how basically every study shows that students do better with less homework and workers perform better with more vacation days and shorter shifts, yet we do the exact opposite because of outdated, guilt-driven “work is suffering” values and toxic hustle culture.
Dgn catatan: jgn punya savior complex. Kamu berusaha nerima trauma mereka, bkn berarti kamu bertanggung jawab atas hidup mereka. Semua org punya trauma. Tapi ga semua org mau menghadapi traumanya. Bakal ada satu titik kamu ngerasa cape sendiri. Kalo udah gini, mending reconsider.
i'm so sorry but check his phone first, kayaknya adik kamu konsumsi konten red pill... aku tau bakal nyerang privacy dia cuma kalo bener dia konsumsi konten itu harus segera diberhentiin. setelahnya baru rutin bawa ke psikolog/psikiater