Kapolri yang sederhana
Ketika diangkat sebagai kapolri, ia tetap berpenampilan sederhana. Ia tidak punya barang mewah. Bahkan rumah pun tak punya. Bersama keluarga ia tinggal di rumah dinas.
Ia mereformasi Polri dengan melakukan banyak perubahan. Ia berani membongkar mafia penyelundupan mobil mewah. Sebelumnya, komplotan ini berhasil merekayasa persidangan sehingga tetap lolos dari jerat hukum. Namun dia sangat berani untuk menindaknya.
Kejujuran, kesederhanaan, dan dedikasinya untuk bangsa membuatnya begitu dikenal. Jarang sekali ada pejabat negara yang bekerja dengan sepenuh hati tanpa terlihat wah di depan masyarakat. Namun sang Kapolri berbeda. Ia adalah cerminan pengayom sebagaimana tagline lembaganya: mengayomi masyarakat.
Kesederhanaannya juga tergambar dari bagaimana keluarganya diajak hidup tanpa merampas hak orang lain. Sebagai Kapolri dia punya kuasa. Namun ia tak memanfaatkan kekuasaan untuk memperkuat dan memperkaya dirinya. Tak jarang rumahnya sampai kehabisan beras. Bahkan ia baru punya rumah setelah rumah dinas yang ditempati diberikan oleh negara kepadanya.
Menjadi baik di lingkungan yang korup ternyata bisa. Meski ia harus dipensiunkan sebelum habis masa pengabdiannya. Ya, sang Kapolri dicopot di usia 49. Konon sikap beraninya membongkar dan menyelidiki banyak kasus yang melibatkan perwira jadi penyebabnya.
Gus Dur menyebut ada tiga polisi jujur di Indonesia. Dia-lah salah satunya. Selain dia, polisi tidur dan patung polisi yang disebut sebagai polisi jujur.
Semoga Bapak Kapolri Hoegeng mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.