Wts buku bekas prelove🤩
- Rich Dad Poor Dad 50.000 (bekas highlighter 1-2 baris kalimat. Like new karena DNF)
- Filosofi Teras 40.000 (bekas highlighter. Ada lelukan di cover)
Buku original yaa. Bisa lewat shopee. Boleh nego juga!
@pengennyetir nonton kembang api pake frame+lensa dari projects*ul, ada debris yg gede bgt kek batu jatuh pas ke mata sampe pusing kepala, tp untungny mata ga kenapa2 frame & lensa lecet tipis aja😌 klo pake lensa murah takut bgt ud retak
Generalisasi bahwa Belanda datang ke Nusantara dengan motivasi 3G (Gold, Glory, Gospel) sering kali muncul dalam buku teks sejarah di sekilah dasar.
Jika dibedah lebih lanjut, motivasi Belanda khususnya pada era VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) sangat berbeda dengan bangsa Portugis atau Spanyol.
Motivasi 3G TIDAK TEPAT jika ditekankan sebagai motivasi UTAMA Belanda.
1. Dominasi "Gold" di Atas Segalanya
Motivasi utama Belanda adalah keuntungan ekonomi murni. VOC bukanlah lembaga negara, melainkan persekutuan dagang (perusahaan multinasional pertama di dunia). Belanda datang ke Nusantara untuk mematahkan monopoli Portugis dan Spanyol demi mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah. Segala tindakan VOC diukur berdasarkan untung-rugi. Perang, pembangunan benteng, hingga diplomasi dengan sultan-sultan lokal dilakukan semata-mata untuk mengamankan jalur distribusi "Emas Hitam" (lada, cengkih, pala).
2. Pengabaian "Gospel" demi Stabilitas Bisnis
Poin ini paling membedakan antara Belanda dengan Portugis. Belanda (yang mayoritas beragama Protestan) cenderung sekuler dalam menjalankan bisnisnya di Asia. VOC sering kali melarang misionaris Kristen masuk ke wilayah-wilayah yang sudah memiliki pengaruh Islam kuat (seperti Jawa atau wilayah kesultanan besar) karena penyebaran agama dianggap bisa memicu pemberontakan yang akan merusak stabilitas perdagangan dan menambah biaya militer. Jika Portugis mewajibkan penyebaran Katolik di setiap wilayah taklukannya, Belanda justru memilih menjalin hubungan dagang yang "tenang" tanpa mencampuri urusan keyakinan penduduk lokal.
3. "Glory" yang Bersifat Korporat, Bukan Imperial
Spanyol dan Portugal memandang Glory berarti kemuliaan raja dan perluasan wilayah kekaisaran. Sedangkan bagi Belanda, kejayaan diukur dari dividen pemegang saham dan penguasaan rute laut. VOC baru menguasai wilayah secara administratif (menjadi penjajah dalam arti luas/teritorial) setelah mereka terpaksa melakukannya untuk mengamankan monopoli, bukan karena ambisi awal untuk membangun kekaisaran besar di Asia.
Istilah 3G terlalu digeneralisasikan sebagai motivasi penjajah di Indonesia karena beberapa alasan:
1. Simplifikasi Kurikulum: Motivasi 3G digunakan sebagai framework sederhana untuk menjelaskan periode "Kolonialisme Kuno" secara umum. Memisahkan motivasi tiap negara dianggap terlalu kompleks untuk level pendidikan dasar
2. Warisan Portugis yang Melekat: Karena Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang tiba di Maluku dengan membawa 3G secara utuh, semboyan ini kemudian "menempel" pada semua bangsa Barat yang datang setelahnya dalam ingatan kolektif sejarah
3. Nasionalisme Sejarah: Sering kali semua penjajah digambarkan memiliki karakteristik yang sama untuk membangun narasi perjuangan kemerdekaan: serakah (Gold), haus kuasa (Glory), dan ingin mengubah keyakinan (Gospel), guna memperkuat urgensi perlawanan rakyat.
Eileen menunjukkan apa yg tidak dimiliki murid Indonesia pada umumnya:
✨️ metacognition knowledge ✨️
Metakognisi itu kemampuan “ngeliatin isi kepala sendiri.” Gak cuma berpikir, tapi SADAR bahwa kita SEDANG BERPIKIR. Lebih jauh lagi, kita bisa mengevaluasi cara berpikir itu, apakah membantu, apakah bikin stres, apakah perlu diubah. Persis kayak Eileen yang pensive. Dia kelihatan banget kalau nyaman jadi orang yang banyak mikir. Dia nggak lihat proses refleksi itu sbg overthinking tapi malah dia jadiin tools to grow. Eileen ini bukti kalau orang hebat itu ya orang yg paham cara kerja pikirannya sendiri, gak cuma yang pintar/berbakat aja.
Murid Indonesia belum banyak yg terlatih skill metakognisinya. Kenapa? Ini menarik bangettttt.
1. Budaya belajar berorientasi jawaban
Pendidikan kita menjadikan murid terbiasa untuk fokus ngejar nilai, akhirnya selalu memikirkan 1-2 jawaban yg benar. Untuk jawab soal dengan cepat dan tepat, akhirnya juga sekadar menghafal konsep. Akibatnya, jarang dilatih bertanya:
- kenapa harus pake strategi ini?
- biar cepet paham harus ngapain?
Padahal metakognisi itu berkembang ketika proses jauh lebih dihargai dibanding hasil.
Sistem pendidikan kita gmn? Maunya ke mana? Please kami mah juga bingung, belajarnya disuruh ala finland, asesmennya ala asia.
2. Keamanan psikologis
Ini masih berkaitan dengan poin 1. Naturally, murid itu akan reflektif ketika mereka merasa aman dalam mengekspresikan pikiran. Mereka gak takut salah jawab/bertindak atau gak takut dicap bodoh. Kalau lingkungannya masih menekankan budaya malu bertanya dan takut salah, ya udah selamanya akan terjebak pada pengetahuan level prosedural aja. Keamanan psikologis berkaitan erat dengan poin berikutnya.
3. Beban kognitif dan tekanan sosial
Banyak murid menghadapi kondisi tekanan ekonomi keluarga dan lingkungan yang kurang suportif. Kondisi ini malah membuat murid dalam mode fight, energinya lebih banyak dipakai untuk mikir gimana cara bertahan hidup besok alih-alih belajar dan melakukan refleksi mendalam. Banyak kan kalian lihat di TikTok/Instagram, anak SD sepulang sekolah mulung beras di pasar, anak SMA bangun sebelum subuh karena masak risol buat dijual ke sekolah. Murid saya? Sepulang sekolah mereka ke ladang. Kalau musim panen, pasti wali kelas sering dapat izin "Assalamu'alaikum bu, besok saya izin gak masuk sekolah karena ikut panen kubis/jeruk/dll" 🥺
Kenapa ya anak kecil sampe punya beban ekonomi? Karena penghasilan ortunya gak cukup meski udah kerja siang malam. Kenapa kok bisa gitu? Emangnya gak ada lapangan pekerjaan kah?
4. Kurang contoh dan model berpikir
Metakognisi itu bisa berkembang melalui modeling. Kalau murid jarang melihat
- gurunya making thinking visible (thinking out loud)
- orang dewasa yg merefleksikan pengalaman
bisa jadi murid gak akan punya contoh bahwa proses berpikir dan merefleksi itu wajar.
Nah sekarang pertanyaannya gaji pokok guru apakah layak?
Neverrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr downplay your accomplishments. A job is a job. A car is a car. A house is a house. Dear self, Be proud of yourself and what you have achieved no matter what. You have to build brick by brick.
i'm convinced when you REKINDLE a relationship with someone (friend, family, ex, etc ) something will ALWAYS resurface to show you why you should have left it burned and dried up.
snakes are an ancient symbol of feminine power. a snake’s mouth stretches wide to devour then retracts to its original form, just like the female body giving birth. vast yet unassuming both are portals of creation and hidden wisdom—great mysteries of nature.