Kenapa setiap kritik dibalas pembungkaman, dan setiap masukan ditanggapi dengan emosi? Karena yang diberi saran memiliki ego yang lebih besar dibandingkan otak yang lebih pintar.
Disuruh santun di sebuah negara yang meledek rakyatnya adalah sebenar-benarnya anomali
Beberapa tahun terakhir, para pakar memprediksi bahwa banyak pekerjaan masyarakat sipil akan digantikan oleh AI.
Ternyata kepanjangan AI-nya Aparat Indonesia 😭.
Mulai pertanian, gizi, sampai urusan ngaji dikerjakan olehnya.
Jika MBG dihentikan, bagaimana dengan nasib 1,5 juta penggerak SPPG & supplier bahan makanan?
Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu juga. Karena sejak awal realisasi program ini, kan, ngotot "demi" gizi anak-lansia-bumil. Maka, perhatian saya ada di sana, bukan yang lain.
Kalau program ini benar-benar murni demi gizi anak-lansia-bumil, kenapa harus bikin rantai pasok sebesar itu yang ujung-ujungnya cuma bikin ketergantungan massal pada APBN?
Mereka yang ngotot dari awal apakah tahu persis bahwa ini bukan solusi gizi tapi mesin politik untuk bagi-bagi proyek?
Sekarang, tiba-tiba 1,5 juta orang jadi korban ketika programnya dihentikan (setelah mantan Kepala BGN-nya ketahuan korup), apakah mereka dari awal tidak tahu bahwa mereka cuma jadi alat untuk narasi “peduli rakyat” yang murahan?
Siapa yang salah kalau akhirnya nasib mereka terkatung-katung? Warga Indonesia selain 1,5 juta itu? Lho, bukan mereka yang memaksa "program gagal" ini jalan.
Lagian, kalau gizi anak-lansia-bumil memang prioritas utama, kenapa tidak langsung kasih dana tunai ke keluarga daripada lewat supplier dan penggerak yang entah berapa persennya cuma jadi perantara rente?
Seharusnya 1,5 juta penggeral SPPG harus menagih tanggung jawab ke mereka saja, bukannya ngasih tahu warga tentang kondisi mereka yang terkatung-katung itu.
Jadi, ya, jangan salahkan yang kritis dan protes sejak awal. Yang salah justru mereka yang ngotot program ini “harus” jalan, tanpa hitung-hitungan matang soal keberlanjutan, dan dampak jangka panjangnya.
Nasib 1,5 juta orang pengegrak itu, kan, konsekuensi logis dari kebijakan yang dibangun di atas "sandiwara gizi", bukan atas dasar akal sehat, to? Sementara kalian, kan, mengambil itu atas dasar ekonomi, to?
Kenapa harus mengadu ke rakyat non-1,5 juta itu?
NB: 1,5 juta itu bukan "relawan", ya. Mereka digaji pakai APBN. Tidak bisa disebut relawan karena mereka dibayar untuk melakukan pekerjaan itu.
Dan ternyata tidak begitu pecus.
Bila Premisnya kelak terbukti maka mari ganggu Mas Teddy terus-terusan.
Sekali ganggu Teddy, 4 calon koruptor ditangkap, terserah aja buat pengalihan isu kek apa kek, yang penting ada calon koruptor yang ditangkap #Hensa
Selamat ulang tahun yang ke-73, Cak Nun!🎂
Karya, kata-kata, dan maiyah-mu tetap jadi lentera buat kami yang haus makna. Terima kasih telah menjadi guru kemanusiaan, penyair hati, dan suara nurani yang tak pernah padam. #73TahunCakNun
Dear, media.
Kurban itu perorangan. Jika Presiden menggunakan APBN untuk bagi-bagi sapi, maka itu bukan kurban. Itu program politik. Jadi jangan ditulis "kurban Prabowo" karena dananya dari pajak rakyat. Trims...
Selamat kamu sudah S.Pd dari Pendidikan Matematika!
Gimana caranya menjadi guru matematika PNS di sekolah?
Gini.
***
1) Kamu harus kuliah lagi setahun di program "Pendidikan Profesi Guru Prajabatan" (PPG Prajab) selama satu tahun.
Jangan lama-lama nunggunya karena usia maksimum buat masuk 32 tahun.
Jadi S.Pd doang gak bisa. Meskipun judulnya "Pendidikan Matematika" misalnya. Gak bisa langsung jadi guru. PPG Prajab dulu.
Plot twist: kalau kamu gak punya S.Pd, tapi S.Mat dari Matematika murni, gak apa. Kamu juga bisa daftar PPG Prajab. Lulus langsung bisa jadi guru.
Terus keuntungan ambil S.Pd dibanding S.Mat apa kalau ujung-ujungnya disuruh PPG juga? Malah mendingan S.Mat karena kalau gak jadi guru peluang kerja yang lain banyak?
Yo ndak tahu, kok tanya saya. Memang aturannya begitu.
***
2) Kuliah 1 tahun PPG.
UKT disubsidi pemerintah.
Tapi biaya hidup, kosan, makan, dan lain-lain bayar sendiri.
Dapet dari mana kalau belum pernah kerja jadi guru?
Yo ndak tahu, kok tanya saya. Memang aturannya begitu.
Setelah setahun kuliah, kalau lancar, lulus.
Setelah lulus, kamu mendapat Sertifikasi Pendidik.
Kamu bisa melamar jadi guru di sekolah-sekolah, selamat!
***
3) Langkah selanjutnya kamu bisa melamar jadi guru di sekolah.
Sekolah swasta atau negeri. Tapi karena fokus kita gimana jadi guru PNS. Jadi sekolah negeri ya.
Kontak sekolah-sekolah, cari lowongan, pokoknya segala macam cara.
Supaya dapat peluang jadi guru honorer atau guru tidak tetap.
Kamu digaji gak seberapa. Yang sering muncul di berita-berita:
"Guru honorer digaji ratusan ribu"
Itu di langkah ini. Pake dana BOS biasanya.
Kenapa segitu?
Yo ndak tahu, kok tanya saya. Memang aturannya begitu.
Katanya ilegal buat rekrut honorer pake dana BOS?
Yo ndak tahu, kok tanya saya.
Di langkah ini yang penting dapat pengalaman mengajar, terdaftar jadi guru di Dapodik.
Itu yang paling penting, soalnya ada syarat pengalaman mengajar dan terdaftar di Dapodik buat langkah selanjutnya.
Terus mengajar dan bertahan hidup beberapa tahun.
Sampai jadwal ujian Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dibuka.
***
4) Ikut seleksi PPPK guru.
Soalnya CPNS guru hampir gak pernah buka sejak 2022. Udah mau setengah dekade.
Jadi sekarang yang direkrut sama negara lebih sering PPPK.
Rajin-rajin cek jadwal, kapan dibuka, kapan harus registrasi, kapan harus kirim dokumen.
Nanti kamu harus ikut tes berbasis komputer (CAT) lalu tes wawancara.
Kenapa harus tes dan wawancara lagi padahal udah tahunan ngajar?
Yo ndak tahu, kok tanya saya. Memang aturannya begitu.
***
5) Jadi PPPK dengan kontrak selama 1-5 tahun.
Jadi ini bukan permanen? Bukan.
Kontrak 1-5 tahun.
Sambil nunggu CPNS buka.
Cuma gajinya jauh mendingan dibanding honorer.
Lah kalau CPNS belum buka tapi kontrak PPPK abis gimana?
Ada yang diperpanjang, ada yang nggak.
Yang nggak diperpanjang alasannya karena "evaluasi", "reorganisasi", "disiplin", atau "kebutuhan daerah".
Kenapa begitu?
Yo ndak tahu, kok tanya saya. Memang aturannya begitu.
***
6) Ikut seleksi CPNS, kalau buka.
Rajin-rajin cek jadwal, kapan dibuka, kapan harus registrasi, kapan harus kirim dokumen.
Nanti tesnya ada tiga: Seleksi Kemampuan Dasar (SKD), Seleksi Kemampuan Bidang (SKB), sama Wawancara.
Masalahnya tes CPNS buat guru di sekolah di bawah Dikbud terakhir buka di tahun 2022.
Udah mau setengah dekade.
Tapi katanya mau buka lagi kata kementerian tahun 2026. Cuma gak ada kepastian kapan.
Kenapa begitu?
Yo ndak tahu, kok tanya saya. Memang aturannya begitu.
***
7) Kalau lolos resmi jadi CPNS.
Kamu juga harus melakukan "pemberkasan" dan "prajabatan" setelah itu.
Tinggal ngikut instruksi aja kalau di tahap ini.
Cuma selama jadi CPNS, kamu cuma menerima 80% dari gaji, selama setahun.
Kenapa begitu? Yo ndak tahu, kok tanya saya. Memang aturannya begitu.
***
8) Setelah setahun CPNS selesai, kamu resmi jadi guru Matematika PNS di sekolah negeri!
Selamat! Horeee!
Waktu yang dibutuhkan dari S.Pd sampai jadi PNS guru berapa lama?
Yo ndak tau kok tanya saya?
Kenapa begitu?
Yo ndak tahu, kok tanya saya. Memang aturannya begitu.
Tiga pertanyaan untuk Mendikti soal LPDP digembleng TNI:
1. Sejak kapan warga sipil yang lolos IELTS, esai, dan wawancara LPDP dianggap kurang disiplin?
Mereka bahkan menghitung sendiri pajaknya tiap tahun di SPT, sesuatu yang (mungkin) prajurit tidak diwajibkan lakukan dengan kerumitan yang sama.
2. Sejak kapan warga yang pajaknya dikorupsi bertahun-tahun tapi tetap bayar PPN setiap belanja dianggap kurang berkebangsaan?
3. Kalau tujuannya supaya awardee balik ke Indonesia, kenapa solusinya pelatihan baris-berbaris dan bukan perbaikan ekosistem riset, gaji dosen, dan kepastian karier akademik di dalam negeri?
Yang bikin doktor enggan pulang itu bukan kurang nasionalisme. Tapi karena kurang lab, kurang dana riset, dan kurang penghargaan.
Kalau pemerintah serius ingin awardee pulang dan berkontribusi, cobah perbaiki ekosistem akademik dalam negeri.
Itu jauh lebih sulit, dan jauh lebih dibutuhkan.
Menurut saya, mengirim calon master dan doktor ke barak untuk diajari “kebangsaan” itu membalik logika.
Yang lazim di banyak negara: kadet militer yang dikirim ke kampus, bukan sebaliknya.
Jangan remehkan warga sipil yang duitnya bocor terus tapi masih setia bayar pajak.
Lagian, tokoh-tokoh kebangsaan terbesar republik ini sebagian besar sipil. Hatta, Sjahrir, Sukarno muda, Kartini, Tan Malaka, Agus Salim.
Tidak satu pun dari mereka yang nasionalismenya dibentuk di barak.
Mereka jadi nasionalis karena membaca, berdebat, hidup di pengasingan, dan berhadapan dengan ketidakadilan kolonial.
Bukan karena baris-berbaris.
😬