Kalau kamu merasa ketinggalan, aku punya berita baik buat kamu.
Terkadang untuk mengejar dirimu yang lebih baik itu gak harus sampai 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun.
Seringkali cuman butuh 1 tahun.
Anggap udah umur 27. Dan kamu melihat teman-teman lain udah menikah, punya ini dan itu, dll.
Lalu kamu melihat hidupmu sendiri dan berpikir,
“Kayaknya aku jauh banget deh.”
“Butuh berapa tahun ya buat sampai ke sana?”
Ternyata enggak sejauh itu loh.
Kita cukup butuh 1 tahun aja.
Satu tahun terbaik yang bisa melentingkan arah hidup kita.
Saat usia 27 masih terombang-ambing, tenang ... ada kesempatan ketika umur 28 kamu bisa bilang, "Oke, sekarang aku udah di track yang benar."
Keep the light up!
Kita enggah sejauh itu kok untuk mengejar.
Gue punya tetangga yang bikin gue mikir lama.
Lulusan S2 Teknik UI.
Pernah kerja 5 tahun di salah satu power plant terbesar di Asia Tenggara.
Perempuan yang dari luar keliatan punya segalanya pendidikan, karir, penghasilan.
Terus dia resign.
Bukan karena dipecat.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena suaminya harus pindah-pindah kota karena kerjaan, dan mereka udah LDR 2 tahun.
Dia yang milih ikut.
Waktu dia cerita ini ke gue, gue nggak langsung ngerti kenapa.
"Lo nggak sayang karir lo?" gue tanya.
Dia senyum.
Sayang Banget sih
Tapi ada yang lebih gue sayangin yaitu anak gw
Dan ternyata keputusan itu nggak semudah kelihatannya.
Masa transisi dari perempuan yang tiap hari rapat, ngitung data, dan punya kontribusi yang keliatan nyata ke perempuan yang tiap hari di rumah, ngurusin anak, dan nggak punya penghasilan sendiri itu berat banget.
Dia cerita ke gue soal itu dengan jujur.
Kehilangan teman-teman kerja.
Kehilangan ruang diskusi yang dulu bikin otaknya terus jalan.
Kehilangan kebebasan finansial yang selama ini bikin dia ngerasa punya kendali atas hidupnya sendiri.
Dan yang paling nyesek komentar orang-orang sekitar yang nggak diminta tapi terus dateng.
Sayang banget S2-nya.
Kok mau sih jadi IRT doang?
Buang-buang pendidikan.
Tapi kemudian sesuatu berubah.
Dia nemuin hal-hal baru yang ternyata dia suka dunia literasi, ecoprinting, komunitas-komunitas yang nggak pernah dia sempet eksplor waktu sibuk kerja.
Dia baca lebih banyak buku.
Dia punya waktu buat beneran mikirin cara mendidik anaknya bukan sekadar nitip ke orang lain.
Dan dari rumah, dia masih bisa freelance bantu project penelitian dan keperluan akademik.
Yang bikin gue respek bukan keputusannya karena itu hak dia sepenuhnya.
Yang bikin gue respek adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia nggak berhenti tumbuh cuma karena berhenti kerja kantoran.
Dia buktiin bahwa perempuan berpendidikan tinggi yang milih jadi ibu rumah tangga bukan berarti menyia-nyiakan pendidikannya justru dia pakai semua ilmunya buat hal yang menurut dia paling penting.
Sekarang dia mulai belajar affilate di tiktok dan shoppe
malah akun tiktok dia udah capai 50 rb followers
dan mulai ada endoresan masuk
Dan ini yang gue pikir sering salah kaprah di Indonesia
Kita terlalu sering ngukur nilai seorang perempuan dari jabatannya, gajinya, atau seberapa sibuk dia keliatan dari luar.
Padahal ibu yang cerdas, yang terus belajar, yang bisa jadi teman diskusi buat suami dan guru pertama buat anaknya itu kontribusi yang dampaknya jauh lebih panjang dari apapun yang bisa dilihat di CV.
Balik ke pertanyaan awal kalau lo udah punya karir impian terus calon suami minta jadi IRT penuh?
Jawabannya nggak hitam putih.
Yang penting bukan pilihan mana yang lo ambil.
Tapi apakah pilihan itu beneran lo yang mutusin bukan karena dipaksa, bukan karena takut, tapi karena lo sendiri yakin itu yang terbaik buat hidup lo.
Karena pada akhirnya, yang harus nanggung konsekuensinya lo sendiri.
Anything you start, you will suck at. You will be embarrassing. But you will survive.
Then you will realize that looking like a fool lasts a moment, being one that never started lasts a lifetime.
This is a respectable stance.
Saya sendiri pun ambil masa lama sebelum berani tulis betul-betul tentang isu riba dan perbankan Islam.
Risau tersalah cakap, risau menambah fitnah atas nama agama.
Tapi kegusaran dan amanah yang sama perlu juga dipikul oleh mereka yang sokong IB.
apa yg menyebabkan seseorang tidak malas?
- punya beban/tanggungan
- punya deadline
- punya ketakutan
- punya hutang
- punya mimpi
kenapa mimpi saya tulis paling terakhir? karna biasanya punya mimpi aja tidak cukup bagi seseorang untuk mulai bergerak.
orang gerak biasanya karna kepepet.
untuk yg hidupnya cenderung aman, flat, bisa makan dan hidup tanpa effort lebih, wajar saja kalau dia jadi malas.
dulu saya bisa termovitasi dan enggak males karena takut ditinggal nikah pacar dan takut karna punya hutang.
tapi jangan ngutang dengan tujuan biar semangat ya sesat namanya wkwk 😅
Went through bloody battles as a freedom fighter when he was younger & still find the brighter side of life.
"Kalau tidak lagi punya senjata & menderita, itu bukan lagi musuh, itu manusia."
Berbicara tentang “kalau semua umat Islam…” itu bersifat hipotesis utopia. Realitinya, manusia tidak pernah sepakat dalam hal dunia, bahkan dalam perkara agama pun tidak.
Tapi disebabkan aku sedang menunggu haziqmahmur30an pulang ke sangkar, aku entertain kejap soalan macam ni.
Andaikan benar semua umat Islam memindahkan harta mereka ke Bitcoin, ini bukan sekadar peralihan alat tukar tapi ini perubahan asas sistem nilai, kuasa, dan institusi dunia.
Jika 2 bilion umat Islam memindahkan kekayaan mereka ke Bitcoin, maka:
• Sistem perbankan berasaskan riba’ akan kehilangan asasnya: tiada lagi simpanan fiat untuk dijadikan sumber pinjaman berfaedah.
• Mata wang fiat akan kehilangan network effect dan kepercayaan kerana sebahagian besar ekonomi (komoditi, tenaga, makanan) kini disandarkan pada aset terhad (Bitcoin).
Secara praktikal, sistem riba' ni akan lumpuh, bukan kerana manusia menjadi lebih baik, tetapi kerana sistem berasaskan hutang dan penciptaan wang baharu (credit creation) tidak lagi boleh berfungsi.
Namun, sistem riba’ bukan sekadar pada kadar faedah bank. Ia adalah satu cara pemindahan kuasa melalui seigniorage (hak mencipta wang), debt monetization, dan fiat dependency. Jadi walaupun riba pada level makro mungkin terhapus, riba mikro boleh tetap wujud.
Bitcoin bukan penawar mutlak kepada penyakit hati manusia.
Selagi manusia tamak, ingin kuasa, dan tidak berakhlak, bentuk riba baharu akan muncul, mungkin dalam bentuk:
1. Bitcoin lending platform yang mengenakan bayaran tetap atas pinjaman (riba dalam bentuk digital).
2. Custodial exchanges yang mengawal wallet orang ramai lalu guna dana tu untuk tujuan leverage, sama seperti fractional reserve.
3. Derivatives market atas Bitcoin (options, futures, perpetual contracts), semuanya bentuk spekulasi dan leverage yang membawa kesan ekonomi sama seperti sistem riba sekarang.
Jadi, masalah sebenar bukan pada alat semata, tapi pada akhlak dan struktur kuasa manusia yang form sistem ekonomi itu.
“Escape riba” bukan hanya tukar medium. Dalam Islam, bebas riba bukan bermakna bebas daripada sistem perbankan semata-mata, tapi bebas daripada mentaliti nak lebih tanpa risiko dan usaha.
Riba ialah hasil daripada gharar (ketidaktentuan), zulm (penindasan) dan ikhtikar (monopoli) yang dibenarkan oleh sistem. Jadi walaupun guna Bitcoin, kalau kita masih:
• Mengambil keuntungan tanpa risiko
• Menindas dalam jual beli
• Menyimpan kekayaan tanpa diagihkan kekayaan tu
Maka kita belum “escape riba”, kita cuma tukar kulitnya.
Bitcoin hanyalah protocol of money, ia mematikan penipuan perakaunan dan manipulasi wang. Tapi moraliti sesuatu sistem tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya.
Jika seluruh umat Islam benar-benar guna Bitcoin, riba secara sistemik memang akan runtuh, kuasa fiat akan pupus, dan ekonomi akan jadi lebih jujur serta berasaskan tenaga dan nilai sebenar.
Namun riba pada level individu, tamak, monopoli, ketidakadilan masih boleh berlaku, cuma dalam skala lebih kecil dan tidak boleh lagi terpusat seperti zaman fiat sekarang.