๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ & ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
๐๐๐ซ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐๐๐ฌ๐๐ซ๐ค๐๐ง ๐๐ฅ๐๐ฌ๐๐ง/"๐๐ฎ๐ค๐ญ๐ข" ๐ฒ๐ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐๐๐-๐๐๐. ๐๐๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐ข ๐ฒ๐ ๐๐ข๐ฌ๐๐ฆ๐ฉ๐๐ข๐ค๐๐ง ๐จ๐ฅ๐๐ก ๐๐๐ญ๐ฎ๐ ๐๐๐ "๐๐ฎ๐ค๐ญ๐ข" ๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐ฅ๐๐ก ๐ค๐๐ซ๐๐ง๐ ๐๐๐ฌ๐ญ๐จ ๐๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ฒ๐๐ง๐ญ๐จ ๐ฆ๐๐ง๐๐ฆ๐ฉ๐๐ญ๐ค๐๐ง ๐๐๐ซ๐ฎ๐ง ๐๐๐ฌ๐ข๐ค๐ฎ ๐ฒ๐ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐๐จ๐ซ๐๐ฃ๐ ๐ฌ๐๐๐๐ ๐๐ข ๐๐๐ฅ๐๐ ๐๐ข ๐๐ฎ๐ฆ๐ฌ๐๐ฅ.
Alasan ini jelas mengada-ada. Pertama: Tidak ada aturan seorang Caleg ditempatkan hrus berdasarkan suku/asalnya. Adian Napitupulu orang Batak tapi jadi Caleg di Bogor. Fadli Zon dr Gerindra, orang Minang/Sumbar juga jadi Caleg di Bogor. Dina Lorenza orang Jakarta jadi Caleg di Banyuwangi. Willy Aditya Nasdem orang Minang/Sumbar jadi Caleg di Madura. Deddy Sitorus orang Batak jadi Caleg di Kaltara dll.
Kedua, penempatan Caleg merupakan di semua partai merupakan keputusan DPP partai yg dibuktikan dgn surat Ketua Umum & Sekjen DPP tidak bisa sepihak keputusan Sekjen apalagi pribadi
Pernyataan Ketua KPK ini bisa dikategorikan tidak hanya mengada-ada, tapi ngawur sengawur-ngawurnya, krn alasan mengada-ada ini jelas sekali soal kriminalisasi.
Ini baru "bukti" yg pertama dari KPK, setelah ini ulasan "bukti" selanjutnya...