Cristiano Ronaldo - Pintu Belakang McDonald’s dan Burger yang Diberkati
Di sebuah pulau kecil bernama Madeira, tahun 1985, lahir seorang anak laki-laki bernama Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro.
Rumahnya sangat sederhana, atapnya bocor saat hujan, dindingnya tipis, dan angin laut sering menyusup masuk.
Ayahnya, José Dinis, bekerja sebagai penjaga taman dan tukang kebun, tapi dia juga bergulat dengan masalah alkohol yang berat. Ibunya, Maria Dolores, juga harus berkeja untuk menghidupi keluarga. Mereka punya empat anak, dan Cristiano adalah yang bungsu.
Hidup di rumah itu penuh perjuangan. Kadang makan malam hanya roti dengan sedikit sup. Kadang tidak ada apa-apa, begitulah cerita kerabat Ronaldo, mengenang masa-masa tersebut.
Cristiano kecil sudah suka sepakbola sejak usianya masih sangat dini. Dia main di jalan berbatu, pakai bola yang sudah rusak, atau bahkan pakai kaus kaki yang digulung. Tetangganya sering bilang anak ini terlalu kecil dan kurus untuk bermain sepakbola.
Tapi Ronaldo tidak perduli dengan ucapan tersebut, dia mencoba melawan takdir, melawan keterbatasan pada dirinya .
hingga saat ia memasuki usia 12 tahun, kesempatan besar itu datang. Sporting Lisbon memanggilnya ke akademi mereka di ibu kota, Lisbon.
Jarak dari Madeira ke Lisbon lebih dari 1.000 kilometer. Cristiano harus meninggalkan ibu, ayah, kakak-kakaknya, dan pulau yang dia cintai. dengan tas kecil berisi baju dan mimpi yang lebih besar dari tubuhnya yang kurus.
Di asrama akademi Sporting, kehidupan berubah drastis. Latihan pagi sampai malam, fisik diuji habis-habisan.
Teman-temannya kebanyakan anak dari keluarga yang lebih mampu. Cristiano? Uang sakunya sangat terbatas. Keluarga di Madeira juga tidak bisa mengirim. Malam hari, setelah latihan yang melelahkan, perutnya sering berbunyi keras. Kadang dia hanya minum air dan berusaha tidur supaya hari bisa berganti dengan cepat.
Org2 terdekat yang cepat diperhatikan untuk naik jabatan.. salah satunya adalah org yg bisa menjaga pejabat di atas mereka, merasa tetap seperti pejabat (walaupun dalam hal kecil sekalipun)
Mari kita usahakan sandal yang nyaman buat plantar fascitis itu :
1. Ortuseight Rover Sandals
2. Sandal Recovery Porto X
3. Unerd Thera Active
4. 910 Nineten Sandal Rejiom Freflow Hitam
TOP 50 ZOMBIE MOVIES 🍿 🧟♀️
Bookmark it 😛🎬
1. World War Z (2013)
2. Train to Busan (2016)
3. 28 Days Later (2002)
4. 28 Weeks Later (2007)
5. I Am Legend (2007)
6. Dawn of the Dead (2004)
7. Night of the Living Dead (1968)
8. Army of the Dead (2021)
9. Zombieland (2009)
10. Zombieland: Double Tap (2019)
11. Resident Evil (2002)
12. Resident Evil: Apocalypse (2004)
13. Resident Evil: Extinction (2007)
14. Resident Evil: Afterlife (2010)
15. Resident Evil: Retribution (2012)
16. Resident Evil: The Final Chapter (2016)
17. Shaun of the Dead (2004)
18. Warm Bodies (2013)
19. Land of the Dead (2005)
20. Day of the Dead (1985)
21. The Girl with All the Gifts (2016)
22. Alive (2020)
23. Peninsula (2020)
24. The Dead Don’t Die (2019)
25. Cargo (2017)
26. Rec (2007)
27. Rec 2 (2009)
28. Overlord (2018)
29. The Cured (2017)
30. Pontypool (2008)
31. Diary of the Dead (2007)
32. Survival of the Dead (2009)
33. The Horde (2009)
34.Dead Snow (2009)
35. Dead Snow 2: Red vs Dead (2014)
36. The Sadness (2021)
37. Alone (2020)
38. Ravenous (2017)
39. Little Monsters (2019)
40. Scouts Guide to the Zombie Apocalypse (2015)
41. The Battery (2012)
42. Planet Terror (2007)
43. Bio-Zombie (1998)
44.Yummy (2019)
45. Versus (2000)
46. Zombie Land Saga (Live Action style films)
47.Mutants (2009)
48. Automaton Transfusion (2006)
49. The Rezort (2015)
50. Patient Zero (2018)
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia